Top News :
Home » , » Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan Melalui KKN Transpormatif

Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan Melalui KKN Transpormatif

Posted on Monday, 10 August 2015 | garis 11:14

Muslimedianews.com ~

Oleh : Abdul Aziz*


Sebelum melangkah lebih jauh pada inti dari revolusi kebudayaan melalui KKN transformatif, maka perlu dijelaskan dulu peristilahan dari topik tersebut. KKN pada era 80-an dikenal sebagai bentuk singkatan dari kepanjangan korupsi, kolusi dan nepotisme. Maka dari itu, istilah KKN pada saat itu agaknya memiringkan hati di ranah akademik (kampus) yang notabene juga menggunakan istilah KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk salah satu program kerja kampus, yakni mahasiswa ditugaskan untuk bergerak di masyarakat, ke masyarakat dan untuk masyarakat. Kuliah Kerja Nyata dalam pandangan cendikiawan Muslim seperti yang disampaikan Zainul Abas (2002:1) berarti satu kegiatan intrakurikuler yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan bekerja bersama masyarakat. Oleh karenanya, mahasiswa bukan dituntut untuk mengajar masyarakat tentang sesuatu yang terbaik untuk mereka, tetapi melakukan pemberdayaan sebagai sebuah pencarian (research) yang dilakukan bersama-sama untuk mencari jalan terbaik dalam penyelesaian persoalan yang mereka hadapi. Transformatif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang bersifat berubah-ubah bentuknya (rupa, macam, sifat dan keadaan). Jadi, KKN transformatif merupakan kegiatan mahasiswa untuk bergerak belajar dan bekerja bersama masyarakat dengan tujuan untuk melatih hidup bermasyarakat sekaligus memberdayakan masyarakat.

Satu model KKN ini sangartlah relevan jika diterapkan di masyarakat. Masyarakat pun mengaku lebih cocok dan nyaman dengan model KKN transformatif seperti ini. Beberapa kampus di Indonesia, khususnya kampus yang berbasis Islam (PTAI) seperti IAIN dan UIN sudah berhasil menerapkan model KKN transoformatif ini. Katakanlah IAIN Surakarta, sebagai salah satu kampus berbasis intelektual dan spiritual yang sedang mengadakan KKN model transformatif di Desa Cangkol, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Terdapat dua kelompok KKN dari IAIN Surakarta di Desa Cangkol ini, satu kelompok yang berjumlah 10 mahasiswa di Pedukuhan Kepoh dan Pundungrejo, sedangkan kelompok yang lain (juga berjumlah 10 mahasiswa) bergerak di Pedukuhan Kemplong dan Pingin. Kedua kelompok KKN transformatif tersebut pada dasarnya sama, yakni bergerak bersama-sama masyarakat untuk menginspirasi sekaligus menggerakkan mereka agar lebih maju dalam berbagai sektor di pedesaan. Seperti kelompok satu yang berdomisili di Pedukuhan Kepoh, setelah mengetahui berbagai keluhan maupun problem yang dihadapi oleh masyarakat setempat, maka para revolusioner inklusif ini (baca: mahasiswa kelompok satu KKNT IAIN Surakarta) membuat dua program unggulan. Pertama, dalam bidang keagamaan yaitu dengan melakukan kaderisasi ustadz bermanhaj moderat (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah), menghidupkan TPA, dan mengajarkan tahsin kepada para takmir majsid yang belum fasih dalam membaca al-Qur’an. Kaderisasi ustadz dilakukan karena mengingat minimnya pemuda-pemudi yang dapat mengajar di TPA.
Kegiatan KKN
Salah satu sebabnya adalah karena minimnya pengetahuan tentang agama Islam pemuda-pemudi dan tidak adanya waktu bagi mereka untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak. Padahal anak-anak juga sangat memerlukan pengajaran tentang keislaman, misalnya melalui media pendidikan al-Qur’an. Maka dari itu, mahasiswa disini membuat program kaderisasi ustadz sebagai salah satu upaya yang sangat urgen untuk menghidupkan TPA.Kedua, dalam bidang pendidikan mengadakan les bagi anak-anak kampung Kepoh dan Pundungrejo Desa Cangkol, Mojolaban. Les dilakukan mengingat minat yang tinggi dalam diri anak-anak Cangkol, khususnya dukuh Kepoh dan Pundungrejo.

Kedua program kerja tersebut dipilih sebagai program kerja unggulan, karena memang kedua hal itu lah yang masih menjadi masalah di Desa Cangkol pada umumnya dan Pedukuhan Kepoh dan Pundungrejo pada khususnya. Tiga mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, serta enam mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sangat sinkron ketika memberdayakan masyarakat. Walaupun jika dilihat dari segi jurusan kesepuluh mahasiswa tersebut bukan menjurus ke pendidikan, namun mereka tidak begitu terbebani jika untuk membimbing belajar anak-anak. Selain bidang keagamaan dan pendidikan, kelompok satu KKN Transformatif IAIN Surakarta juga mengadakan pelatihan pembuatan kuliner “naget tempe” kepada kaum Ibu-Ibu. Ini dimaksudkan untuk memberikan inovasi dan kreatifitasi terhadap masyarakat Cangkol pada umumnya yang mempunyai makanan kuliner lokal terkenal. Kegiatan pelatihan pembuatan naget tempe ini juga sebagai bentuk penambahan terhadap kuliner kultural desa Cangkol.

Selain pelatihan makanan kuliner kultural, para mahasiswa juga bergerak mengikuti kebudayaan lokal masyarakat setempat. Dengan bekal ilmu agama dan ekonomi Islam ini lah, para mahasiswa KKN kelompok satu ini melakukan revolusi kebudayaan tanpa kekerasan terhadap masyarakat. Mereka dituntut untuk memberikan pencerahan terhadap masyarakat dari budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai Islam, diperbarui ke masyarakat yang penuh dengan nilai-nilai ajaran Islam. Misalnya, ketika malam 17 Agustus rata-rata masyarakat mengadakan yang namanya “tirakatan”, sejenis kumpul-kumpul dengan masyarakat satu kampung disatu tempat. Jika tirakat-an biasanya mereka hanya mengadakannya dengan membuat tumpeng, lek-lekan (bahasa Jawa), saling ngobrol, dan lain-lain. Maka, para mahasiwa menggerakkan mereka untuk mengisi acara tirakat-an dengan pengajian, dan menanamkan sikap nasionalisme seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, menonton film bertema kemerdekaan dan lain sebagainya. Beberapa revolusi kebudayaan tanpa kekerasan melalui KKN transformatif seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam di Indonesia, sebagai masyarakat yang ramah dan menyukai kedamaian.
Mahasiswa/i melaksanakan KKN
Masyarakat sebagai kumpulan penduduk yang mendiami satu daerah tertentu pastinya mempunyai kultur, tradisi maupun kebudayaan yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Salah satu hal yang membedakan adalah adanya adat dan karakteristik yang tidak seragam antara masyarakat satu dengan yang lain. Dari berbagai suku, agama dan bahasa yang beragam di Indonesia juga salah satu hal utama penyebab perbedaan kebudayaan tersebut. Ada daerah yang mempunyai budaya tingkah-laku, beragama dan bahasa yang keras, ada juga yang berbudaya liberal (meremehkan syari’at), namun ada juga yang mempunyai budaya halus, sopan, dan ramah. Untuk itu, diperlukan adanya revolusi terhadap kebudayaan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan Islam yang sebenarnya. Revolusi kebudayaan dimaksudkan untuk merubah kondisi sosial-budaya keberagamaan masyarakat secara mendasar dan menyeluruh. Keadaan yang dapat dirubah merupakan keadaan yang memang butuh akan adanya rekonstruksi dan pencerahan.

Dalam kacamata Musa Asy’ari (2002), revolusi kebudayaan di Indonesia memiliki signifikansi dan urgensi sebagai solusi alternatif terhadap berbagai persoalan yang mengemuka, mulai dari politik, ekonomi, sosial-budaya, perilaku birokrasi, agama, pendidikan dan lain-lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Mahmudi seorang Chef Executive Officer LPTP Foundation Surakarta (2003) bahwa kecenderungan perubahan terhadap masyarakat berdasarkan situasi praktek keberagamaan dapat diketahui dari empat masalah; Pertama, sebab praktek keberagamaan masyarakat (baik secara individu maupun kolektif) masih sangat kental dengan nuansa tekstual dan simbolik (ritual), belum mampu memberikan inspirasi dan pencerahan terhadap konteks problem kehidupan masyarakat. Kedua, praktek keberagamaan masyarakat belum mampu menciptakan komitmen moral yang kuat sebagai landasan penyelesaian atas problem kehidupan sosial umat. Ketiga, kuatnya paradigma normatif dalam keilmuan Islam dan sangat  terbatasnya kajian-kajian kritis sosial keagamaan, menyebabkan rendahnya produksi ilmu pengetahuan sosial keagamaan yang emansipatoris. Keempat, lemahnya peran strategis lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam melakukan pencerahan dan perubahan sosial tranformatif.

Sedangkan jika dilihat dari segi situasi masyarakat secara global, menurut Ahmad Mahmudi mengacu pada beberapa sebab. Sebab dari adanya perubahan terhadap masyarakat tersebut berlandaskan pada tiga hal masalah yang terdapat di masayarakat; Pertama,   Semakin kuatnya paradigma pembangunan mainstream yang struktur dasarnya adalah “pertumbuhan ekonomi” dan “modernisasi” yang dibangun diatas akar budaya “materialistik”, “konsumtif”, “hedonistik”, “persaingan”, dan “eksploitasi tanpa batas” atau “keserakahan” demi akumulasi kapital yang tanpa batas pula. Kedua, semakin kuatnya praktek “neo-liberalisme” yang mewujud dalam bentuk: pasar bebas hambatan (kapital, barang dan jasa), penghapusan subsidi sosial, deregulasi, privatisasi perusahaan negara (Bank, rumah sakit, telekomunikasi, kereta api, jalan tol, air bersih, lisstrik, minyak bumi, dan lain-lain), dijadikannya barang publik menjadi barang komesial; yang hanya menguntungkan bagi kekuatan kapital global. Keempat, Dampak yang ditimulkan dari ketiga hal masalah diatas adalah kemiskinan semakin meluas, kerusakan lingkungan, konflik budaya, konflik perebutan sumber daya, menurunnya kualitas kehidupan manusia, dan semakin terancamnya keberlangsungan kehidupan manusia.

Hal tersebut tentunya sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai dan misi dari syariat Islam itu sendiri, yang menjunjung motto agama yang “rahmatan lil ‘alamiin”. Oleh karenanya, perubahan secara transformatif terhadap masyarakat sangat perlu digalakkan.

*Abdul Aziz
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri Surakarta

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News