Top News :
Home » » Ulil Abshar Abdalla : Nabi Muhammad Liberal dan Pro Pasar !

Ulil Abshar Abdalla : Nabi Muhammad Liberal dan Pro Pasar !

Posted on Wednesday, 12 August 2015 | garis 03:51

Muslimedianews.com ~ Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil terkenal sebagai tokoh Islam Liberal serta kontroversial. Sedikit saja pernyataannya yang dianggap kontrovesial bisa membuat heboh jagat maya.

Ulil termasuk netter yang aktif disosial media, khususnya di twitter. Kicauan-kicauannya di twitter sering kali menghiasi media massa nasional. Kicauan terbaru (11/8/2015) Ulil tentang ekonomi pasar dan kebijakan harga bisa saja memicu kesalah pahaman dari orang-orang yang mudah salah paham.
Suatu saat harga2 naik. Lalu sahabat lapor kepada Nabi: Tolong dong intervensi, supaya harga turun. Nabi menolak seraya bersabda...

La tusa''isruu fa innallaha huwal musa''ir. Janganlah mengintervensi harga sbb Tuhanlah yg menciptakan harga itu.

Hadis ini menarik. Pendekatan Nabi terhadap "pricing policy" cukup liberal dan sesuai mekanisme pasar. Tak mau campuri harga scr langsung.

Kalau mau "mengatur" harga bukan dg cara memaksa penjual menjual dg harga murah sementara kulakannya mahal. Itu ndak fair.

Intervensi harga yg diperbolehkan oleh Nabi hanyalah dg mengikuti hukum "supply and demand". Naikkan supply, kalau perlu impor.

Saya kagum pada keliberalan Nabi Muhammad dlm membaca soal kebijakan harga ini. Maklum dia kan dulu pedagang. :)

Tak heran jika Maxim Rodinson dulu, sejarawan Perancis, dlm bukunya "Islam et Capitalisme" menyebut Islam sbg agama yg pro kapitalisme. :))

Kultwit tersebut bisa saja menua kontroversi dari pihak-pihak tertetu yang sering menyerang Gus Ulil karena berkaitan dengan Liberalisme yang memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang.

Penjelasan lebih detial daripada kultwit Ulil tersebut terdapat didalam situs yang dikelolanya maupun disosial media facebook miliknya (11/8/2015).. Berikut lengkapnya :

Nabi Muhammad Seorang "Marketist"?

Ada kisah yang menarik dari zaman Nabi. Suatu saat harga melambung tinggi di Madinah. Mungkin karena kelangkaan pasokan barang. Lalu seorang sahabat lapor dan meminta agar Nabi sebagai "quasi-kepala negara" untuk intervensi sehingga harga-harga bisa dipaksa turun.

Anda pasti akan mengira bahwa respon Nabi adalah menyetujui permintaan itu. Tidak. Ternyata tidak, sodara-sodara! Nabi menolak dengan tegas seraya bersabda sebagai berikut (dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah):

لا تُسَعِّروا فَإنّ اللّٰه هُو المُسَعِّر ، القابِض الباسِط الرّازِق .

La tusa''ruu fa inna 'l-Laaha huwa 'l-Musa''ir. Artinya: Janganlah kalian meng-intervensi harga, sebab Tuhan lah yang menciptakan harga-harga itu. Dialah yang menahan (stock barang), melepas, dan membagi rizki.

Hadis ini, bagi saya, sangat "revealing", mengungkap banyak hal. Nabi sangat memahami hukum pasar. Dia tak bisa menyetujui intervensi harga dengan cara memaksa seorang pedagang menjual barang secara murah, padahal stoknya terbatas. Sebab ini jelas suatu "mazlamah", tindakan tak fair.

Dengan kata lain, pendekatan Nabi terhadap "pricing policy" cukup liberal dan pro-pasar. Dia menolak intervensi harga secara tak fair.

Jika intervensi harga harus dilakukan, maka tak ada cara lain kecuali dengan mengikuti hukum "supply and demand", misalnya dengan memperbesar sisi "supply" sehingga harga turun. Atau melalui mekanisme moneter, misalnya dengan menaikkan suku bunga sehingga pasar tidak mengalami "overheating".

Tak heran jika dulu sosiolog dan sejarawan Perancis Maxime Rodinson pernah menyebut dalam bukunya "Islam et Capitalisme" (1966) bahwa Islam adalah agama yang etosnya kapitalistik. Nabi sendiri, kita tahu, punya latar belakang sebagai pedagang. Tentu saja beliau paham benar bagaimana mekanisme "invisible hand" bekerja di pasar.

Yang menarik, Nabi menggunakan kata Tuhan untuk menjelaskan konsep "invisible hand" yang dipakai oleh Adam Smith beberapa abad setelah Nabi wafat. Yang satu adalah bahasa agama, yang satunya lagi bahasa sekuler. Intinya sama: ada mekanisme pasar yang tidak bisa kita campuri dan "arah-arahkan" dengan seenak-udel kita sendiri seperti dilakukan oleh negeri-negeri yang menganut "state-planned economy".

Jadi, kesimpulanya: Nabi adalah seorang "marketist", bukan "etatist".

Selamat siang!


Oleh : Ibnu Manshur

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News