BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Monday, August 24, 2015

Unik ! Aksara Jawi Berbahasa Melayu di Thailand

Muslimedianews.com ~ Dua bulan tinggal di Thailand sebagai duta perguruan tinggi Indonesia  mengajarkan pengalaman tentang budaya literasi di bekas Kerajaan Melayu Fathoni ini. Buktinya masyarakat Thailand Selatan ini lebih mahir baca tulis aksara Jawi daripada Kokai apalagi Rumi.

Meski alphabet merupakan standar penulisan yang disepakati mayoritas penduduk dunia, namun di Pattani, Yala, dan beberapa daerah di Thailand Selatan lainnya, mereka memosisikan tulisan Rumi sebagai alternatif ketiga setelah tulisan Jawi dan Kokai.

Tak hanya digunakan dalam kitab-kitab pelajaran, tulisan Jawi juga digunakan sebagai huruf perantara dalam penunjuk jalan, warning, pengumuman, ucapan selamat, dan berbagai tulisan di tempat-tempat umum bahkan mal.

Tulisan Jawi sejatinya penulisan bahasa Melayu menggunakan huruf hijaiyah. Alif untuk a, ba’ untuk b, jim untuk c, dan seterusnya. Bukan menggunakan harakat, tulisan Jawi atau pegon menggunakan tambahan huruf alif, ya’, dan wau untuk membentuk vocal a i u.

Yang berbeda dari tulisan Jawi dengan pegon adalah tulisan Jawi menggunakan huruf tsa untuk ny, sedangkan pegon menggunakan ya’ bertitik tiga.

Sebagai mahasiswa yang juga mengenyam pendidikan agama di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono, Malang, tak sulit membaca rangkaian abjad Arab tersebut.

Keberadaan tulisan Jawi sangat membantu saya yang buta huruf Thai yang mirip aksara Jawa itu. Hanya saja, kekurangtertiban penulisan tak jarang merancukan pemahaman. Beberapa alif, ya’ dan wau pembentuk vocal terkadang tak dibubuhkan. Menulis sambung dua kata yang berlainan juga sering saya temukan di beberapa kitab pelajaran.

Fakta tentang tak mendunianya ABC di Thailand ini, menjadi tantangan besar bagi mahasiswa KKN-PPL dari berbagai universitas se Indonesia ini. Sebagai mahasiswa bahasa Inggris Universitas Negeri Malang, bekal mengajar bahasa Inggris telah saya dapatkan.

Nyatanya, pelajar setara kelas satu SMP belum bisa menulis dan membaca abjad ABC menjadikan kami pusing kepala.

Beban mengajar menjadi berlipat. Selain mengajarkan bahasa yang bagi mereka sangat asing, juga harus terlebih dahulu mengajari mereka menulis dan membaca abjad Rumi. Tak jarang, murid-murid saya di Addirasat Islamiyah School meminta saya menuliskan namanya dalam alphabet.

Catatan Rofiatul Mukarromah
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah menjalani KKN-PPL di Thailand Selatan http://fb.com/Rofiatul Mukarromah , via surabaya.tribunnews.com
« PREV
NEXT »

No comments