Top News :
Home » » Untuk Syabab HTI : Beriman itu Wajib tapi Jangan miskin Ilmu donk !

Untuk Syabab HTI : Beriman itu Wajib tapi Jangan miskin Ilmu donk !

Posted on Sunday, 9 August 2015 | garis 07:25

Muslimedianews.com ~

 

Oleh: Dr. Hasanudin Abdurrakhman *

Jumat 7 Agustus, saya mengomentari status anak muda di jejaring facebook. Yang bersangkutan adalah pengikut Hizbut Tahrir. Sebuah gerakan keagamaan yang konsen terhadap penegakan Khilafah. Singkat kata, ia mengritik hutang Luar negeri pemerintah. Kata dia, ini karena diterapkannya sistem jelek, maka hasilnya seperti ini. Sistem harus segera diganti.


Saya tanya, bagaimana sistem ekonomi di bawah sistem khilafah? Dia minta email saya, katanya mau kirim file yang berkaitan dengan pertanyaan saya. Lalu dikirimlah file itu. Dan ternyata adalah sebuah file presentasi. Isinya? Ya ampun, sekian slide berupa celaan terhadap sistem yang ada. Kapitalis lah, sekuler lah dan sistem tersebut kufur. Selebihnya hal yang indah-indah soal prinsip ekonomi Islam, namun hingga kini belum tentu dipraktekkan oleh anak muda tersebut termasuk Hizbut tahrir yang ia banggakan. Apa kita pernah menemukan lembaga keuangan yang dikembangkan Hizbut tahrir?

Persoalan hutang Luar negeri sudah dibahas di Bahtsul masail NU di Jombang kemarin. NU berpandangan, utang hanya diperkenankan untuk membiayai hal-hal yang sifatnya mendesak (hajiyyat), dan diprioritaskan untuk pendanaan hal-hal yang berimplikasi pada hajat hidup rakyat, seperti pembangunan energi dan infrastruktur.

Di sebuah slide, saya melihat salah satu poinnya adalah, sumber daya alam tidak boleh diserahkan pengelolaannya kepada swasta, apalagi asing. Baiklah, tidak masalah, toh UUD 1945 pasal 33 kita juga kurang lebih menginginkan hal yang sama. Tapi bagaimana bila pemerintah tidak punya dana, teknologi, dan SDM yang mumpuni untuk mengolahnya? Dia jawab, masalah pendanaan bisa pinjam dari pihak luar, dengan syarat bebas riba. Kira-kira pihak mana yang mau kasih pinjam duit tanpa riba?

Soal teknologi dan SDM katanya cuma soal mind set. Ya Allah ya rabbi, Saya kasih tahu dia bagaimana saya perlu bertahun-tahun untuk sekedar melatih anak-anak pabrik saya buang sampah dengan benar.

Akhirnya saya beri nasehat, alangkah baiknya dia belajar dulu. Bacalah banyak buku, makalah maupun jurnal. Bergurulah kebanyak dosen dan kyai yang intelek. Yang dia ketahui tentang seluk beluk ekonomi masih di bawah level mahasiswa fakultas ekonomi tingkat satu. Dia berkilah bahwa dia memang sedang belajar. Tapi dia tetap ngotot akan terus mengritik kinerja pemerintah. Teringatlah saya ucapan Ridwan kamil, “Negeri ini butuh pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki”.

Katanya lagi, dia akan terus menyampaikan ide Islam. Intinya, dia akan terus mengkampanyekan bahwa ini bagus dan segera diterapkan, meski ia tak paham tentang yang ia omongkan. "Saya belajar dari iman dulu, baru ilmu," katanya lagi. Iya, Iman itu wajib dimiliki setiap Muslim tapi jangan minus ilmu begini dong. Lagi-lagi teringat dengan petuah Buya Hamka, “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagai lentera di tangan pencuri”.

Demikianlah percakapan saya dengan pengikut Hizbut tahrir. Bukan hanya kader Hizbut Tahrir yang “keras kepala” begini. Ada banyak anak muda Islam yang berpandangan begini, “Pokoknya Islam itu bagus, kata ustadz saya”. Iya betul Islam sudah bagus, syamil dan luhur ajarannya, tetapi pemeluknya belum tentu. Walalhu’allam bishowwab

Beriman wajib tetapi jangan Minus ilmu!
*Oleh : Dr. Hasanudin Abdurrakhman
Alumni Jurusan Fisika UGM


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News