Top News :
Home » » Dialog Pro-Rukyat dan Anti Rukyat Ahlussunnah Wal Jamaah

Dialog Pro-Rukyat dan Anti Rukyat Ahlussunnah Wal Jamaah

Posted on Saturday, 19 September 2015 | garis 23:04

Dialog Rukyat Dan Hisab

Anti Rukyat: “Gimana, sekarang zaman sudah modern, pakai ilmu Hisab dong, sudah tidak perlu Rukyat, ketinggalan zaman”.

Pengamal Rukyat: “Gini, Rasulullah sudah jelas memerintahkan pakai Rukyat, tidak ada satupun hadits yang memerintahkan Hisab. Kalau soal modern atau tidak, kamu saja yang ketinggalan informasi. Ini buktinya:

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : يُعْتَبَرُ قَوْلُ الْمُنَجِّمِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَحَقِّ مَنْ صَدَّقَهُ وَلَا يَجِبُ الصَّوْمُ عَلَى عُمُوْمِ النَّاسِ بِقَوْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ (الفقه على المذاهب الأربعة - ج 1 / ص 873) 

“Syafi'iyah berkata: Pendapat ahli Hisab dapat diterima bagi dirinya sendiri dan orang yang percaya padanya. Orang lain tidak wajib puasa, berdasarkan pendapat yang kuat” (Madzahib al-Arba’ah 1/873).

Anti Rukyat: “Wah, wah.... berarti yang memperbolehkan pakai Hisab itu madzhab Syafi'i ya, berarti kami sebenarnya bermadzhab Syafi'iyah, padahal kata pimpinan kami selalu kembali ke Quran-Hadits. Ada gak bukti lain kalau Hisab itu sudah lama diterapkan dalam madzhab Syafi'iyah?”.

Pengamal Rukyat: “Ada. Anda tentu pernah dengar Imam al-Subki yang hidup tahun 727-771 H (1327-1370 M, padahal sekarang sudah tahun 2000-an). Beliau termasuk ulama Syafi'iyah yang mempertimbangkan ilmu Hisab dalam masalah Rukyat:

إعانة الطالبين - (ج 2 / ص 243) 
(فَرْعٌ) لَوْ شَهِدَ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَاحِدٌ أَوِ اثْنَانِ وَاقْتَضَى الْحِسَابُ عَدَمَ إِمْكَانِ رُؤْيَتِهِ. قَالَ السُّبْكِي: لَا تُقْبَلُ هَذِهِ الشَّهَادَةُ، لِاَنَّ الْحِسَابَ قَطْعِيٌّ وَالشَّهَادَةَ ظَنِّيَّةٌ، وَالظَّنُّ لَا يُعَارِضُ الْقَطْعَ. وَأَطَالَ فِي بَيَانِ رَدِّ هَذِهِ الشَّهَادَةِ، وَالْمُعْتَمَدُ قَبُوْلُهَا، إِذْ لَا عِبْرَةَ بِقَوْلِ الْحِسَابِ. اهـ.

“Jika ada satu atau dua orang mengaku telah melihat hilal, padahal secara ilmu Hisab tidak mungkin dirukyat, maka menurut Imam Subki kesaksiannya tidak dapat diterima. Sebab Hisab adalah hitungan pasti dan kesaksian adalah praduga, maka praduga tidak bisa mengalahkan yang pasti. Beliau panjang lebar dalam menolak kesaksian ini. Namun pendapat yang kuat bahwa kesaksian itu diterima. Sebab ilmu Hisab tidak diperhitungkan dalam Rukyat (I’anat al-Thalibin, 2/243)”.

Anti Rukyat: “Ya, Saya percaya sekarang. Tapi kan Rukyat itu dikarenakan dulu tidak ada ilmu canggih. Ibaratnya dulu Nabi haji pakai onta, sekarang zaman pesawat. Dulu Nabi pakai Rukyat karena tidak ada Hisab”.

Pengamal Rukyat: “Anda lagi-lagi tidak mendalam dalam belajar ilmu Falak dan Hisab. Anda tahu siapa yang pertama kali menemukan ilmu ini? Dalam Mukaddimah Kitab kecil ‘Sullam al-Nayyirain’ saja dijelaskan bahwa penemu pertama ilmu ini adalah Nabi Idris. Jadi ilmu ini sudah kuno sekali. Anda saja merasa paling sok maju. Bagi kami yang melakukan Rukyat sudah pasti semuanya ahli di bidang Hisab. Sebab bagaimana mungkin melakukan Rukyat tanpa ilmu Hisab?. Soal onta dan Rukyat jelas tidak sama. Dalam ibadah haji, para ulama ketika menafsiri ‘Bagi Yang Mampu’ adalah dengan redaksi الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ (mampu secara perbekalan dan transportasi). Jadi disana tidak menyebut onta secara baku, boleh jadi kapal laut, bis, pesawat atau yang lain. Berbeda dalam masalah Rukyat ini. Perintahnya jelas, obyeknya juga jelas. Gimana?”

Anti Rukyat: “Ya, Saya tambah mantab untuk tidak menyalahkan Kaum Muslimin yang memakai Rukyat”.

Oleh: Ustadz Ma'ruf Khozin, PCNU Surabaya.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News