Top News :
Home » » Hadiah Special Untuk Teuku Wisnu, Zaskia, Penulis Skenario dan Sutradara Program Beriman Trans TV

Hadiah Special Untuk Teuku Wisnu, Zaskia, Penulis Skenario dan Sutradara Program Beriman Trans TV

Posted on Friday, 4 September 2015 | garis 16:44

Muslimedianews.com ~ Ustadz televisi TEUKU WISNU dan ZASKIA ADYA MECCA dalam sebuah acara di TV swasta membuat statamen yang kontroversial. Inti daripada statemennya bahwa “Hadiah Bacaan Al-Fatihah itu tidak sampai pahalanya ke mayit”.

Bila seumpama kelakuan kita seperti kelakuan kalangan pengikut Wahhabi di Indonesia yang  suka membid'ahkan, bahkan suka memvonis pihak lain sebagai ahli bid'ah yang sesat, niscaya kita akan katakan bahwa Teuku Wisnu adalah Ahli Bid'ah Sesat jika mengatakan menghadiahkan pahala amal tidak sampai.  Tetapi kita bukan pengikut Wahhabi yang hati mereka gersang.


Kita bisa saja menggunakan penjelasan Ibnu Taimiyah dalam fatwanya, saat ditanya mengenai apakah perbuatan kebajikan tidak sampai kepada orang yang meninggal dan tentang hadits terputusnya amal, dimana Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa orang yang menyatakan tidak sampai adalah ahli bid'ah.

Fatwa Ibnu Taimiyah dengan tegas menyataan hal tersebut :

 ليس في الآية، ولا في الحديث أن الميت لا ينتفع بدعاء الخلق له، وبما يعمل عنه من البر بل أئمة الإسلام متفقون على انتفاع الميت بذلك، وهذا مما يعلم بالاضطرار من دين الإسلام، وقد دل عليه الكتاب والسنة والإجماع، فمن خالف ذلك كان من أهل البدع
"tiada didalam ayat dan tidak pula didalam hadits bahwa mayyit (orang mati) tidak mendapat manfaat dengan do’a untuknya dan dengan apa yang amalkan (kerjakan) untuknya seperti kebajikan bahkan para Imam telah sepakat bahwa mayyit (orang mati) mendapatkan manfaat atas hal itu, dan ini diketahui dengan jelas dari agama Islam, dan sungguh al-Kitab (al-Qur’an), as-Sunnah dan Ijma’ telah menunjukkannya, oleh karena itu barangsiapa yang menyelisihi hal itu maka ia termasuk dari ahli bid’ah."

Lalu bagaimana jawaban yang bijak ketika hendak disampaikan ke publik? Dalam hal ini Teuku Wisnu, penulis skenario (provokator) dan sutradara semestinya menjelaskan bahwa ada khilafiyah dalam hal bacaan al-Qur'an.  Ibnu Taimiyah ketika ditanya hal ini, beliau menjelaskan :

الجواب: أما وصول ثواب العبادات البدنية: كالقراءة، والصلاة، والصوم، فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل، والله أعلم.
Jawab : Adapun sampai pahala ibadah-ibadah badaniyah seperti membaca al-Qur’an, shalat dan puasa, oleh karena itu madzhab Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan sekelompok dari Ashhab Malik dan asy-Syaf’i menyatakan sampai, sedangkan pendapat kebanyakan Ashhab Malik dan asy-Syafi’i menyatakan tidak sampai. Wallahu A’lam

Dalam kesempatan lain, Ibnu Taimiyah juga memfatwakan sampaikan pahala bacaan tahlil 70 ribu kali yang dilakukan seseorang, dan bermanfaat bagi orang yang meninggal :

الجواب: إذا هلل الإنسان هكذا: سبعون ألفا، أو أقل، أو أكثر. وأهديت إليه نفعه الله بذلك، وليس هذا حديثا صحيحا، ولا ضعيفا. والله أعلم.
"Jawab: Apabila seseorang bertahlil sejumlah yang demikian  ; 70.000 kali atau lebih sedikit atau lebih banyak dari itu dan menghadiahkannya kepada mayyit niscaya Allah akan memberikan kemanfaatan kepada mayyit dengan hal tersebut, dan  tidaklah hadits ini shahih dan tidak pula dlaif. Wallahu A’lam”.

Disisi lain, Imam al-Syaukani pernah menjelaskan bahwa pernyataan amal-amal kebajikan selain shadaqah tidak sampai kepada mayyit merupakan pendapat madzhab Mu'tazilah.

وقد اختلف في غير الصدقة من أعمال البر هل يصل إلى الميت؟ فذهبت المعتزلة إلى أنه لا يصل إليه شيء
“Sungguh telah diperselisihkan terkait amal-amal kebajikan selain shadaqah, apakah bisa sampai kepada orang mati ataukah tidak ?. Madzhab Mu’tazilah menyatakan bahwa tidak ada yang sampai sama sekali",

Tentang Pendapat dalam Madzhab Syafi'iyah.
Semua madzhab menyatakan sampai, kecuali didalam madzhab Syafi'iyah ada dua pendapat terkait dengan pahala bacaan al-Qur'an (bukan lainnya). Ada pendapat yang menyatakan sampai dan tidak sampai. Pendapat yang menyatakan tidak sampainya bacaan al-Qur'an kepada orang meninggal ini diistilahkan dengan qaul masyhur.

Apa maksud qaul masyhur tersebut? apakah mutlak tidak sampai atau ada faktor tertentu?. Dalam hal ini, ulama Syafi'iyah telah menjelaskan sebagai berikut:


Imam Zakariyya al-Anshori dalam Fathu Wahhab menjelaskan:

وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه 
"Dan apa yang diistilahkan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata ; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath (proses penggalian hukum) bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan / diniatkan) bacaannya niscaya akan bermanfaat bagi mayyit"


Mengapa tidak mutlak? karena Imam al-Syafi'i sendiri pernah mengatakan bahwa beliau menyukai pembacaan al-Qur'an disisi kuburan. Sebagaimana disebutkan didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar :

قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت
"Imam al-Syafi'i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit"
Bila ingin memahami hal seperti ini, yuk NGAJI !! . Dan jangan ikuti ustadz-ustadz yang hatinya gersang seperti yang ada disekililing Teuku Wisnu tersebut, mereka cukup banyak yang bercokol di Trans TV. Perlu diingat pula bahwa jidat hitam bukan tanda kesholehan, tetapi besar kemungkinan tanda salah sujud, bukan "min atsaris sujud" seperti yang disebutkan dalam al-Qur'an.

Oleh : Ibnu Manshur


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News