Top News :
Home » » Gus Mat Tebu Ireng: Mbah Hasyim Asy'ari Kadang Berjenggot Kadang Tidak

Gus Mat Tebu Ireng: Mbah Hasyim Asy'ari Kadang Berjenggot Kadang Tidak

Posted on Thursday, 29 October 2015 | garis 00:36


Muslimedianews.com ~ Saya mendapat SMS dari sejumlah teman -termasuk dari Tebuireng– soal status Masyamsul Huda di Facebook (FB). Semula saya penasaran siapa Masyamsul Huda itu. Ternyata dia orang Cukir. Kalau tak salah, saya pernah berteman. Kalau tak salah juga saya pernah satu kost dengannya di Surabaya. Jadi insya Alllah saya kenal Masyamsul Huda. Yang jelas dia bukan santri Tebuireng dan juga bukan keluarga Pesantren Tebuireng. Hanya saja kebetulan rumahnya di Cukir atau bertetangga dengan Tebuireng.

Saya juga penasaran dengan NU Garis Lurus (GL) yang mengaitkan Gusdurian dengan anti jenggot. NU GL ini cenderung menganggap Gus Dur sesat, sebaliknya menggelari KH. Lutfi Bashori imam besar. Walah-walah. Gus Dur dapak gelar yang jumlahnya tak terhitung, baik dari perguruan tinggi maupun dari masyarakat, tapi tak pernah dipakai. Gus Dur tak gila hormat. Ketokohannya yang besar dan kuat merupakan pemberian atau legitimasi langsung dari masyarakat, bukan rekayasa dari diri sendiri atau pendukungnya. Aneh, NU GL mengklaim sebagai NU Mbah Hasyim tapi menyesatkan cucunya, Gus Dur. Lalu di mana akhlak ke-NU-annya?

Sepengetahuan saya, NU itu tak mudah menyesatkan orang. Apalagi tokoh yang disesatkan masih baca syahadat bahkan lebih mulia, lebih bermanfaat bagi masyarakat, dibanding orang yang menyesatkan. Yang perlu diingat, makbarah Gus Dur setiap hari diziarahi ratusan bahkan ribuan orang. Itu artinya Allah menggerakkan hati manusia untuk Gus Dur.

Tapi sudahlah, saya tak perlu bahas NU GL. Bagi saya NU GL itu bersikap sportif saja sudah bagus. Misalnya websitenya itu tak meng-copas berita-berita bangsaonline.com saja saya sudah alhamdulillah dan berterimakasih. Saya lebih fokus kepada status Masyamsul Huda.

Saya kaget. Ternyata status Masyamsul Huda di FB lagi “memarahi” ‘Gus Irfan Asy’ari Sudirman atau Gus Ipang – cicit pendiri NU Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) yang notabene keluarga Pesantren Tebuireng. "Ini yang kedua kalinya saya harus menjawab keraguan Mas Ipang, soal jenggot Hadhratus Syaikh Hasyim Asy'ari,” tulis Masyamsul Huda mengawali statusnya.

"Entah apa maksud Mas Ipang membawa-bawa Kakek Buyutnya untuk memancing orang berdebat dan saling mencaci maki?” tulis Masyamsul Huda. Ia lalu bercerita Mbah Hasyim yang menurut dia tak berjenggot.

Gus Ipang sebelumnya memang menulis status di FB menanggapi lukisan Mbah Hasyim yang dijadikan backdrop acara Hari Santri Nasional (HASAN) di Tugu Proklamasi Jakarta. Dalam acara yang dihadiri KH. Said Aqil Sirajd, A. Muhaimin Iskandar, Helmy Faizal Zaini, dan Panglima TNI itu, lukisan Mbah Hasyim ditampakkan tanpa jenggot. Gus Ipang lalu menulis status facebook begini: "Masya Allah. Mbah buyutku jenggotnya ke mana? Teganya," tulis Gus Ipang.

Status Gus Ipang itulah yang menyebabkan Masyamsul Huda geram tak terkendali sehingga memarahi Gus Ipang di arena publik. "Mengapa kok senengnya ngajak ribut orang, sangat jauh dari sifat Buyutnya yang selalu santun dan murah senyum,” kata Masyamsul Huda. Ia minta Gus Ipang menelusuri sumber lukisan (sekali lagi lukisan, bukan data sejarah yang otentik).

"Sekali lagi, saya hanya ingin menyampaikan fakta yang sebenarnya. Jangan mengotori akhlak beliau yang begitu luhur, apalagi mengundang orang untuk saling mencaci-maki di facebook. Tolong diurut lagi, apa KH. Wahid Hasyim, KH. Kholik, KH. Karim, KH. Yusuf Hasyim memiliki jenggot?,” kata Masyamsul Huda menasehati Gus Ipang.

Gus Ipang akhirnya menghapus statusnya. "Dengan mengucap Bismillah postingan foto kontroversi Mbah Hasyim saya hapus. Seperti biasa ternyata ramai luar biasa responsnya. Di-like oleh 870 orang, dikomen 209 orang dan hampir 500 yg ngeshare. Ternyata memang ada beberapa lukisan Mbah Hasyim yang tak berjenggot,” tulis Gus Ipang.

Pada akhir statusnya, Gus Ipang mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah merespon, termasuk yang mencaci. "Terimakasih untuk yang sudah mengingatkan dan menasehati saya. Kesalahan ini semua datangnya dari saya. Terimakasih juga sudah ‘memuji’ saya sebagai keturunan hewan…” tulis Gus Ipang.

Saya ingin memberi catatan terkait masalah ini sebagai berikut:

Pertama, jenggot sebenarnya tak terlalu penting dibahas. Apalagi saya sendiri tak memelihara jenggot, meski di dagu saya tumbuh jenggot. Setiap Jum'at saya selalu menyukur jenggot. Tapi karena ada upaya untuk “memaksakan” menghapus data sejarah atau performance Mbah Hasyim secara sepihak, maka saya perlu urun rembug meski tak terlalu serius.

Kedua, saya sempat bertanya apa hak Masyamsul Huda memarahi Gus Ipang yang mempertanyakan jenggot Mbah Hasyim. Karena pertanyaan Gus Ipang itu “mewakili” rasa ingin tahu mayoritas warga NU yang selama ini sudah terbiasa melihat foto atau lukisan Mbah Hasyim berjenggot. Saya sendiri sejak kecil, waktu SD, sudah biasa lihat lukisan Mbah Hasyim berjenggot baik di buku sejarah maupun di rumah. Karena di ruang tamu rumah saya di Bangkalan Madura memajang lukisan Mbah Hasyim.

Ketiga, ada apa Masyamsul Huda "memaksakan opini” bahwa Mbah Hasyim tak berjenggot. Apa karena KH. Said Aqil Siradj menganggap orang berjenggot itu goblok lalu Masyamsul mau mengubah data sejarah Mbah Hasyim yang berjenggot berdasarkan imajinasi seorang pelukis atau berdasarkan lukisan? Sekali lagi berdasarkan lukisan, bukan data otentik sejarah!

Keempat, Masyamsul menulis bahwa lukisan Mbah Hasyim tanpa jenggot itu adalah fakta yang sebenarnya. Ah, yang benar saja. Saya kira di sinilah Massyamsul Huda tak bisa membedakan antara fakta dan imajinasi. Buktinya, Masyamsul Huda mendasarkan 'fakta'nya itu kepada lukisan karya M. Badri. Sekali lagi lukisan, bukan foto asli atau data otentik lain.

Kelima, Masyamsul Huda mengaku bersama Gus Riza Yusuf Hasyim dan M. Badri mendatangi KH. Hamid Baidlowi dan sebagainya untuk mengoreksi lukisan tersebut. Dari penilaian Kiai Hamid Baidlowi itulah Masyamsul Huda berkesimpulan bahwa Mbah Hasyim klimis, tak berjenggot. Apa benar perhatian Kiai Baidlowi fokus kepada jenggot Mbah Hasyim dalam menilai lukisan itu atau secara keseluruhan?

Keenam, saya sempat kontak Gus Riza Yusuf Hasyim tanya apa benar lukisan Mbah Hasyim karya Badri itu tak berjenggot. Gus Riza mengaku lupa. Malah Gus Riza menceritakan kesaksikan Gus Mat yang juga dzuriyah Mbah Hasyim. Gus Mat yang kini sering jadi imam salat di Tebuireng, kata Gus Riza, sewaktu kecil sering bersama Mbah Hasyim. Menurut Gus Mat, kata Gus Riza - Mbah Hasyim kadang berjenggot tapi kadang tidak. Saya kira ini masuk akal karena manusia adakalanya memelihara jenggot tapi ada kalanya mencukur jenggot. Cuma sampai sekarang masih sulit mencari data otentik Mbah Hasyim yang tak berjenggot.

Ada foto beberapa kiai bersama Bung Karno beredar. Di antara foto itu disebut foto Mbah Hasyim tak berjenggot. Tapi foto itu diragukan beberapa pihak, termasuk Gus Solah (KH. Salahuddin Wahid), cucu Mbah Hasyim. "Saya kira itu bukan Mbah Hasyim,” katanya. Apalagi wajahnya kurang mirip dengan Mbah Hasyim. Jadi masih meragukan. Begitu juga kesaksikan Gus Mat, belum bisa dibuat data mutlak mengingat saat itu Gus Mat masih kecil. Inilah bedanya dengan Masyamsul Huda yang mengklaim lukisan sebagai fakta yang sebenarnya.

Ketujuh, KH. A. Muchith Muzadi (kini almarhum), tokoh khitah NU, adalah santri langsung Mbah Hasyim. Di ruang tamunya di kediamannya di Jember dipajang foto Mbah Hasyim yang berjenggot. Mbah Muchith yang menjadi santri langsung Mbah Hasyim pasti tahu betul wajah Mbah Hasyim. Artinya, jika Mbah Hasyim tak berjenggot pasti Mbah Muchith tak mau majang lukisan Mbah Hasyim yang berjenggot. Paling tidak, Mbah Muchith pasti cerita kalau Mbah Hasyim tak seperti foto yang dipajang itu.

Kedelapan, saya beberapa kali diskusi ringan dengan Gus Solah (KH. Salahuddin Wahid), adik Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang merupakan cucu Mbah Hasyim. Beliau meyakini bahwa foto yang asli Mbah Hasyim adalah foto yang terdokumentasikan saat bertemu dengan utusan petinggi Jepang. Foto itu kini ada di beberapa tempat, diantaranya di kediaman KH. Yusuf Hasyim (Cukir). Saya sempat mencermati bahwa wajah Mbah Hasyim dalam foto itu berjenggot. Saya kira foto ini merupakan data otentik, karena foto asli yang kini direpro oleh beberapa pihak. Saya kira semua pihak wajar jika menjadikan foto ini sebagai referensi mengingat foto ini yang otentik dibanding lainnya yang cuma lukisan.

Kesembilan, saya memaklumi kalau Masyamsul Huda dengan arogan memarahi cicit Mbah Hasyim di depan publik hanya karena mempertanyakan jenggot buyutnya. Karena Masyamsul Huda bukanlah santri – apalagi santri Tebuireng. Sehingga kurang paham kultur pesantren. Saya lalu ingat ketika KH. Adlan Aly, seorang kiai mukhlis, alim allamah, hafidz (hafal al-Quran 30 juz), sufi dan pimpinan thariqah. Kiai Adlan Aly semasa hidupnya mengajar di Pesantren Tebuireng, disamping mengasuh Pesantren Walisongo Cukir Jombang. Suatu saat Kiai Adlan Aly diminta para kiai mengingatkan KH. M. Yusuf Hasyim agar fokus ke Pesantren Tebuireng. Saat itu Kiai Yusuf Hasyim sering riwa-riwi Jakarta karena tugas Negara.

Apa jawab Kiai Adlan Aly? "Kulo mboten wantun (Saya tidak berani),” katanya sembari tersenyum penuh tawadhu. Padahal dari segi usia maupun kekaramahan Kiai Adlan diakui semua kiai sehingga beliaulah yang pantas memberi nasehat kepada Kiai Yusuf Hasyim. Tapi karena rasa tawadhu yang tinggi beliau mengaku tidak berani, apalagi mencaci di depan publik. (Muslimoderat.com).


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News