Top News :
Home » » Ikhtiar Meluruskan Sejarah Perjuangan Santri

Ikhtiar Meluruskan Sejarah Perjuangan Santri

Posted on Wednesday, 21 October 2015 | garis 19:40

Muslimedianews.com ~ Menjelang 22 Oktober, tensi politik naik. Hal ini karena presiden Jokowi meneken surat keputusan Hari Santri Nasional. Tak pelak suara-suara pro dan kontra keputusan presiden tersebut. Bagi kalangan NU dan pesantren tentu saja menyambut baik SK Presiden tersebut. Mereka menganggap bahwa sekarang ini presiden telah menunaikan janji politiknya selama kampanye tahun lalu. Lebih dari itu, negara telah menghargai perjuangan para ulama-santri dan men-sahkan peristiwa tersebut bagian dari fakta sejarah.

Sebaliknya suara-suara kontra atas keputusan presiden ini juga muncul. Mereka menganggap bahwa keputusan itu justru langkah mundur dari upaya-upaya menghilangkan batas antara trikotomi santri-priyayi-abangan. Dengan keputusan presiden itu maka dikhawatirkan tuntutan serupa dari kalangan non santri, seperti penetapan hari abangan nasional.

Oleh karena itu, perlu  memahami bagaimana negara mendefinisikan kesejarahan nasional selama ini, agar tidak lagi timbul kesan bahwa penetapan hari santri oleh Jokowi merupakan deal-deal politik, lebih-lebih seolah hanya keberpihakan pada kelompok Islam tertentu, dalam hal ini pesantren.

Bila kita baca sejarah Kebangkitan Nasional, seperti dalam buku-buku resmi, sejarah kita dibagi berdasar pra abad 19 dan pasca abad 19. Pada masa sebelum abad 19, dikatakan perjuangan bersifat lokal; perang Jawa, perang Aceh, perang Paderi. Sementara masa setelah abad 19 dikatakan bersifat nasional; gerakan Boedi Oetomo, Serikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi SI, Sumpah Pemuda yang lahir dari organisasi daerah seperti Djong Java, Djong Celebes, Djong Soematra, serta Muhammadiyah. Disinilah kita  mendapati negara masih diskriminatif ketika tidak memasukkan NU sebagai bagian dari gerakan Kebangkitan Nasional. Padahal NU lahir setelah abad 19. Saat itu NU sudah memiliki cabang diluar Jawa. Ingat, bahwa Muktamar 1938 digelar di Kalimantan.

Kita juga bisa baca sejarah berdirinya Boedi Oetomo, Sarekat Islam, rata-rata mereka semua berlatar belakang pendidikan Belanda. Dr. Soetomo adalah mahasiswa STOVIA, seolah-olah kesadaran Nasionalisme kita justru muncul ketika lebih dulu mendapat didikan Belanda. Sekalinya sejarah menampilkan Pahlawan Islam seperti HOS Cokroaminoto maupun KH Ahmad Dahlan, maka seolah dipilih citra islam yang modernis. Pada saat yang sama KH Wahab Hasbullah bersama ulama lainnya, termasuk KH Mas Mansoer, mendirikan Taswirul Afkar, sebuah forum diskusi membahas pelbagai wacana saat itu. Inilah mengapa sejarah gerakan Kebangkitan Nasional kita tidak mencantumkan NU termasuk dalam kategori tersebut. NU adalah kebangkitan yang dipelopori ulama.

Seandainya sedikit lebih obyektif, perang yang terjadi di Jawa, Aceh, Sumbar, pra abad 19 justru digerakkan oleh para ulama. Tengku Cik Ditiro adalah seorang ulama. Di aceh, gelar Tengku itu artinya ulama atau kiai, ajengan, tuan guru, atapun tuanku. Perang Diponegoro selama lima tahun dari 1825-1830 dibantu oleh Kiai Maja, Kiai Sentot Ali Basya. Bahkan ajudan pribadi Diponegoro sendiri adalah Kiai Hasan Besari yang ikut dibuang ke Makassar. Beliau ini konon adalah cucu dari Kiai Nur Iman Mlangi dan merupakan kakek dari KHM Moenawwir pendiri Pesantren Al-Quran pertama di Nusantara.

Penulisan sejarah kadang tidak berpihak. Banyak penggalan-penggalan yang sengaja maupun tidak, dibiarkan begitu saja. Mestinya kita bangga bahwa kesadaran Nasionalisme  bukanlah hasil didikan Barat, sebaliknya muncul secara inhern dari keyakinan agama kita bahwa Hubbul Wathan Minal Iman, cinta tanah air sebagian dari iman.

Penulis : Mohammad Yahya

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News