Top News :
Home » , » Makna Kembali Ke Pesantren

Makna Kembali Ke Pesantren

Posted on Saturday, 17 October 2015 | garis 07:54

Muslimedianews.com ~ Twips, kembali sy akan share pemikiran Kyai @saidaqil tentang "MAKNA KEMBALI KE PESANTREN". Monggo disimak.

#KangSaid: (1) Tiga puluh tahun yang lalu yakni tahun 1984 tepatnya di Situbondo, NU mencanangkan gerakan Kembali ke Khittah 1926

(2) Langkah strategis itu telah membawa kemajuan yg sgt berarti bg NU, sehingga menjadi organisasi yang besar, kuat dan disegani

(3) Pada hakekatnya kembali ke Khittah adalah kembali pada spirit, pola pikir serta nilai luhur pesantren

(4) Periode ini NU mncanangkn gagasan "Kembali Ke Pesantren" sbg realisasi Khittah serta jati diri NU yg lahir & bsr di Pesantren

 (5) Maka sudah selayaknya dalam usianya yang ke-92 tahun (Hijriyah) ini NU menegaskan kembali gagasan mulia tersebut.

(6) Pesantren mrpakn khazanah peradabn Nusantara yg tlh ada sjk zaman Kapitayan sblm hadirnya agama2 bsr spt Hindu, Budha & Islam

(7) Pertemuan dgn agama besar tersebut pesantren mengalamai perubahan bentuk dan isi sesuai dengan karakter masing-masing agama

(8) tp misi & risalahnya tdk pernah berubah, yaitu mmberikan muatan nilai spiritual & moral pd setiap perilaku masyarakat sehari2

(9) baik dalam kegiatan sosial, ekonomi maupun kenegaraan.

(10) Sjk awal pesantren mnjd pusat pendidikan masyarakat mulai dr bdg agama, kanuragan, kesenian, pereonomian & ketatanegaraan


(11) Krn itulah pr calon pimpinan agama, pujangga bahkan calon raja & sultan semuanya dididik dlm dunia pesantren/padepokan

(12) Para pandita, panembahan atau Kiai yang mengasuh para murid, cantrik atau santri dalam belajar sehari-hari.

 (13) Zaman Islam terutama pd masa Walisongo, pesantren yg semula bernuansa Hindu-Budha mulai mendapatkan nuansa Islam.

(14) Dari pesantren itulah agama diajarkan secara luas di tengah masyarakat

(15) Diajarkan scr mendalam dgn mempelajari bbg kitab babon, shngg melahirkn ulama/kiai besar yg mnjd penerus perjuangan pr wali

 (16) Bbg kitab yg diajarkan di pesantren saat ini, baik kurikulum, kitab & metodenya semuanya berasal dr generasi pr wali & kiai

 (17) Metode itulah yg terbukti berhasil melahirkan bbg ulama & pujangga serta sultan yg berpengaruh dalam sejarah Islam Nusantara

(18) Paku Buwono VI, Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I) & Pangeran Diponegoro semuanya murni hsl pendidikan politik pesantren

(19) Politik Etis tahun 1900 yg mmperkenalkn pendidikn ilmu2 keduniaan dgn dsr rasional, terjadilah dualisme pendidikn Nusantara

(20) Pendidikan yang semua terpadu mulai dipisah antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum

(21) Pendidikan Barat tdk mengenal ilmu agama hanya mengenal ilmu umum, sdgkn pendidikn pesantren saat itu mngintegrasikn keduax.

 (22) Hadirnya pendidikn kolonial secara persuasif & represi menjadikan sekolah menjadi pendidikan tunggal yg menggeser pesantren

(23) Ktk politik diarahkn pd paradigma Barat bljr hukum & politik hrs ke Sekolah Barat bkn lg ke pesantren spt pr sultan sebelumx

 (24) Sementara pesantren yang menjalankan politik anti tasyabuh atau non kooperasi total, menolak segala bentuk budaya Belanda

 (25) Pesantren terus berjalan dengan paradigmanya sendiri, namun demikian tetap melahirkan tokoh besar yang tak terkalahkan.

(26) Hampir seluruh perlawanan thd penjajah dilakukn o/ pimpinan pesantren. yang melibatkan para kiai dan santri dari pesantren.

(27) Bbg tokoh bsr Islam; KH Ahmad Rifai, KH Hasyim Asy’ari adalah tkh prgerakn nasional yg mampu mnggoncangkn kekuasaan Belanda

 (28) Demikian juga KH Wahab Hasbullah dan KH Wahid Hasyim yang piawai dalam politik.

(29) sehingga sejak tahun 1943-an telah menjadi Pimpinan Shumubu (Menteri Agama) dan ketua Masyumi, mewakili KH Hasyim Asy’ari

(30) Pd Sidang BPUPKI, Kyai Wahid mnjd anggota perumus Panacasila dasar negara dan perumus Mukadimah UUD 1945

(31) sehingga konsep filosofis itu menjadi sangat religius ketika mendapatkan muatan nilai pesantren.

(32) Kiai Wahab sendiri yg merupakan politik ulung mitra Bung Karno dlm mghadapi persoalan kenegaraan, murni didikan Pesantren

(33) Justru dengan keilmuan pesantren itulah para Kyai tersebut bisa melengkapi politik Barat yang dianut oleh Bung Karno.

 (34) Ketika Konstituante mengalami jalan buntu, para kiai dari Pesantren justru memberikan jalan keluar yang kreatif


 (35) sehingga Bung Karno dengan mudah mengeluarkan Dekrit Presiden '59, Kembali ke UUD 1945 setelah berkonsultasi dengan NU

(36) terutama dalam menempatkan Piagam Jakarta secara proporsional.

(37) Tidak ditetapkan secara formal, tetapi juga tidak diabaikan perannya, tetapi ditempatkan sebagai jiwa bagi UUD 1945.

(38) Walaupun politik sering dituduh anti moral, ttp seburukx politik masih mmbutuhkan moral agar relasi antar pelaku bs berjalan

 (39) NU menawarkan gagasan moral atau akhlakul karimah dalam politik, karena itu NU bisa ambil peran.

(40) Deideologisasi serta depolitisasi pesantren yang dilakukan rezim Orde Baru telah mengarah pada deNUnisai

 (41) Apalagi sejak zaman reformasi ketika gelombang globalisasi dan liberalisasi melanda seluruh dunia termasuk negari ini

(42) maka nilai moral dalam kehidupan sosial, gotong-royong semakin memudar, dalam bidang seni budaya etika telah ditinggalkan.

(43) digantikan dengan estetika yang hanya mengumbar nafsu dan kemewahan dunia.

(44) Di bdg ekonomi terjadi persaingan bebas saling memangsa. Sementara dlm bidang politik, etika/fatsoen politik ditinggalkan

(45) Pasca Reformasi, globalisasi & liberalisasi menggilas seluruh sektor kehidupan. NU dituntut untuk hrs kembali ke pesantren

(46) untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat sejalan dengan tradisi dan etika

 (47) "Kembali ke Pesantren" memiliki dua makna, fisik maupun secara nilai dan tradisi, yg tak terpisahkan dr sistem pesantren

(48) "Kembali ke Pesantren" makna fisiknya semua kegiatn NU; rapat pleno, konferensi, Munas hgg Muktamar dipusatkn di pesantren

#KangSaid: (49) Dg sgala keterbatasannya terbukti pesantren mampu menyedaikn suasana yg kondusif, penuh keakraban dan kesederhanaan.

#KangSaid: (51) Sekaligus memperkuat institusi pesantren sbg pusat perubahan pengembangn masyarakat & kembali dilihat & diperhitungkn orang

(52) "Kembali ke Pesantren" dlm arti tata nilai > ponpes selalu mnekankn nilai kejujurn, kesederhanaan, kebersamaan & pengabdian

 (53) Dari nilai2 tersebut tumbuh etos, rasa saling percaya, budaya gotong-royong, kecintaan pd ilmu dan profesi tanpa batas.

(54) sebagi bentuk pengabdian pada Allah, yang ditasarufkan sebesar-besarnya pada kemaslahatan umat manusia.
1 retweet 0 favorites

 (55) "Kembali Ke Pesantren" terasa radikal-kontroversial di tgh marakx individualism bhkn egoisme persaingn bbs tnp belas kasihan
1 retweet 0 favorites

 (56) Krn ini berarti menentang arus yg sdg berjalan, yaitu individualisme, pragmatisme yg seolah menjdi nilai kehidupan tertinggi

 (57) Pendidikan pesantren diberikan oleh seorang ulama yg representatif, yg telah mendapatkan ijazah (pengesahan) dr guru masing2

(58) Dengan demikian otentisitas sanad (mata rantai) keilmuannya menjadi jelas, sehingga pemahamnnya bisa dipertanggungjawabkan

 (59) Selain itu segala ilmu dan amalan diajarkan secara bertahap dan thuluz zaman (dalam waktu yang lama).

(60) Ilmu & amal yg dikerjakan mnjd sgt hakiki. Sang kiai mrupakn guru pembimbing yg mnjd contoh teladan bg santri dlm kehidupan

 (62) Tbkti skrg ini banyak kesalehan yg ditampakkn scr lahiriah, bhkn skp ketaatan, kedisplinan beribadah & kesemarakan yg kompak

(63) Tetapi pada saat yang bersamaan pelanggaran terhadap norma-norma agama terjadi pada orang yang bersangkutan.

(64) Bahkan tingkat kejahatannya melebihi orang tdk mengenal agama. Padahal semua perilaku mereka & kelompoknya atas nama agama.

(65) Ini tidak lain karena pendidikan atau tarbiyah yang dijalankan serba instan. Hanya mengutamakan kedisiplinan fisik

(66) Tidak diisi dgn kerohanian yg mendalam. Agama yg diajarkn scr instan, dangkal serta sepintas, hanya jd kedok,alat manipulasi

(67) Padahal perbuatan yang memamerkan amal tetapi tanpa isi seperti itu menurut Allah merupakan kedurhakaan

(68) Dalam amaliah sehari-hari termasuk dalam ibadah, terdapat perbedaan yang tipis antara yang benar dan yang salah,

 (69) karena itu para ulama pesantren menjaga agar para santri berhati-hati dengan jebakan tersebut.

(70) Bimbingan seorang guru, mursyid/kiai pd umat menjadi sangat penting utk menghindari pengerjaan amalan yg sia2 seperti itu.

(71) Yaitu aktivitas berkedok agama tetapi untuk tujuan duniawi semata.

(72) Inilah pentingx kembali ke pesantren utk menegakkn moralitas & nilai2 yg diajarkn pr wali & ulama sepanjng sejarah Nusantara

(73) Ajaran & hikmah yg diamalkn pr ulama terdahulu itu sngt penting justru dlm situasi globalisasi yg serba tdk menentu saat ini

(74) Pondok Pesantren merupakan budaya asli Nusantara, yang mengembangkan nilai kenusantaraan lestari hingga sekarang

 (75) Antara sultan dg wali (ulama) merupakan satu kesatuan, bermakna menyatunya antara kesultanan/keraton dengan dunia pesantren

(76) mulai dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Demak, Mataram Islam di Jawa hingga Ternate Tidore di Maluku dan Papua.

(77) Berangsur, hubungan itu renggang, terpisah, berdiri sendiri tanpa saling mengisi, berawal sejak Belanda hingga zaman ORBA.

 (78) Padahal mulanya mrk sekeluarga. Keterpisahan berakibat kemerosotan, terutama pihak kesultanan yg paling merasakan akibatnya

 (79) Terbukti, saat ini hanya tinggal 2-3 kesultanan sj yg hidup & berkuasa, yg lain tggal nm, tdk punya rakyat,tdk punya tentara

(80) Bayangkan dengan dunia pesantren, ketika ditindas Belanda & direpresi ORBA, tetapi masih terus hidup.

(81) Saat ini umumnya pondok pesantren yang jumlahnya ribuan itu ada yang memiliki santri 2.000 - 5.000 orang.

 (82) Bahkan organisasi kepesantrenan masih memiliki kekuatan para-militer terlatih yang jumlahnya bisa ribuan orang.

(83) Hal yang sama tidak dimiliki oleh Keraton atau Kesultanan manapun di Nusantara.

(84) Belakangan ini keraton baru menyadari akan kelemahan tsb, bersamaan dengan kunjungan Para Sultan Nusantara ke pesantren.

 (85) Slama ini mrk mngalami kelumpuhan ktk pr Sultan berjalan tanpa Wali, sehgga posisi mrk smkin terpuruk tdk ada yg bs menolong

(86) Menurut mereka walinya Republik Indonesia saat ini adalah pesantren yang dipimpin oleh NU.

 (87) Krn itu mrk mulai merasa pentingnya kerjasama dg organisasi kepesantrenan spt NU, sbg upaya mengembalikan wibawa kesultanan

 (88) Sjk ditaklukkan Belanda, kesultanan telah ditundukkan scr moral & intelekual. Akhirnya mrk berkiblat ke barat ktk berpolitik

(89) Apalagi sjk awal mrk mendapatkan hak istimewa utk bs sekolah Belanda, yg menjadikan mrk semakin westernis, semakin terpuruk

(90) Nilai kenusantaraan terutama nilai keagamaan mrk tinggalkn, apalagi pesantren yg dl mendampingi, membimbing & mengarahkn mrk

(91) diganti dengan penasehat dari Belanda dan Eropa lainnya, maka Kesultanan semakin jauh dari rakyatnya.

(92) Karena itulah masa kemerdekaan mereka (Kesultanan/Kerajaan) dihancurkan bersama hancurnya kolonialisme.

(93) Sementara kaum santri bergabung dengan kaum Republiken yang dengan aktif mendirikan Republik In

 (94) Munculnya Resolusi Jihad 22 Oktober '45 oleh KH Hasyim Asyari merupakan keterlibatan pesantren dlm mendirikan Repuiblik ini

 (95) Kalangan ulama pesantren lbh sigap dlm mmbaca perubahn saat itu, smntr kesultanan msh terikat oleh bbg perjanjian dg Belanda

 (96) sehingga mereka ketingalan langkah dalam mengambil kepemimpininan di negeri ini, saat menjelang berdirinya Republik ini.

(97) Dg brtemux kembali dua elemen penting Nusantara (kesultanan & pesantren) diharapkn Indonesia bs menemukn jatidirinya kembali

(98) Karena keduanya sebenarnya pemangku utama budaya Nusantara yang berpegang teguh pada nilai tradisi dan norma agama,

(99) yg telah tertanam & terjalin sejak berabad yang lalu yang telah dirintis oleh para wali sejak datangnya Islam di Nusantara.

(100) Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, kembali pada nilai-nilai Nusantara menjadi sangat mendesak utk saat ini

(101) sbb apa yg dirumuskn dlm sistem politik & ketatanegaraan kt spt Pancasila > merupakan produk dr falsafah & budaya Nusantara

(102) Karena itu nilai kenusantaraan dan kepesantrenan perlu terus digali bersamaan dengan proses menemukan jati diri bangsa ini.

(103) Bersamaan dg derasnya globalisasi yg mmbawa arus liberalisasi, tlh melonggarkn seluruh ikatan keluarga, sosial bahkan agama

(104) Padahal tanpa ikatan agama, tanpa ikatan keluarga dan tanpa ikatan sosial, maka norma dan moralitas sulit dijalankan

(105) Karena pada dasarnya agama, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan persemaian berbagai norma dan etika

(106) "Kembali ke Pesantren" diartikan sebagai kembali pada norma keluarga, norma sosial.

 (107) karena dalam lingkungan itulah norma agama ditumbuhkan dan diinternalisasi menjadi perilaku dalam kehidupan.
Kultwit oleh : aGusJohn ‏@agusjohn2 9-10 Juni 2015


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News