Top News :
Home » , » Pemuda dan Politik; Agenda Perang di Balik Isu Sektarian dan Agama

Pemuda dan Politik; Agenda Perang di Balik Isu Sektarian dan Agama

Posted on Thursday, 29 October 2015 | garis 01:08


Muslimedianews.com ~ Selama 15 tahun Lebanon pecah perang saudara, yang dilatarbelakangi agama. 4 tahun Suriah berantakan karena isu agama. Libya sampai sekarang hancur menjadi negara gagal tempat bersarangnya teroris berbaju gamis sesudah pemersatu mereka, Muammar Qaddafi dikudeta. Irak setiap minggu terjadi minimal satu kali bom bunuh diri di pusat keramaian dan tempat ibadah yang menewaskan banyak orang.

Belajar dari situasi mereka, saya menjadi paham bahwa keragaman itu sangat mahal harganya. Mereka dulu awalnya seperti kita, persis seperti kita sekarang. Duduk minum kopi setiap sore sambil ngobrol politik adalah kebiasaan orang-orang Timur Tengah. Kehidupan mereka sangat biasa, layaknya kehidupan normal. Tidak ada yang mengira bahwa semua itu berubah 180 derajat.

Awalnya isu-isu biasa yang dihembuskan. Kemudian terbentuk ormas-ormas militan. Lama-lama semakin meluas dan meruncing ke arah sektarian. Dan kemudian masuklah orang-orang asing yang bergabung bersama orang lokal untuk membangun keributan. Jangan salah, orang-orang asing ini berbaju sama dengan yang lokal bahkan beragama sama. Mereka membaurkan diri di tengah-tengah.

Titik-titik api biasanya dimulai di perbatasan-perbatasan (ingat kan di mana posisi Tolikara dan Singkil?). Ketika di sana rusuh, maka terbukalah pintu perbatasan untuk masuknya para jihadis-jihadis dari banyak negara. Mereka bukan tentara. Mereka sipil yang militan.

Sesudah chaos, pemerintahan goyang bahkan sampai jatuh, masuklah si polisi dunia dengan kendaraan NATO-nya. NATO ini kendaraan perang bagi koalisi negara yang punya kepentingan. Mereka masuk ke medan perang, seolah-olah sebagai dewa penengah tapi sesungguhnya mereka membantu meluaskan wilayah perang. Mereka memasok amunisi dan senjata yang diterjunkan dari pesawat-pesawat kepada para militan.

Para militan ini memang seperti pembuka jalan untuk NATO. Dan ini sudah diakui langsung oleh Hillary Clinton, bahwa merekalah yang mendanai militan berbaju Islam dengan paham Wahabi itu. Awalnya AS ikut campur di Afghanistan dengan membiayai mujahidin di sana untuk memerangi Uni Sovyet.

Sesudah mujahidin menang dengan persenjataan yang dipasok mereka, AS akhirnya memanfaatkan mereka untuk meluaskan skalanya ke Timur Tengah dengan membentuk organisasi-organisasi radikal seperti al-Qaeda dan sekarang ISIS. Mereka berkoalisi dengan Saudi dan Qatar untuk ini. Ulama-ulama Wahabi di negara itu dibayar untuk memfatwakan jihad dan surga kepada para militan. Fatwa mereka menyerang pimpinan negara yang dituju, entah dia akhirnya dituding Syiah-kafir seperti Bashar Assad maupun Sunni-kafir seperti Qaddafi. Polanya sama dengan yang ada di Indonesia, meski modelnya disesuaikan dengan situasi di masing-masing negara.

Apa yang tidak terjadi di sini sekarang? Ormas militan, mengkafir-kafirkan ulama besar, isu Syiah, gesekan dengan Kristen, Parade Tauhid sebagai unjuk kekuatan, pembentukan jaringan Aliansi Nasional Anti Syiah di seluruh Jawa, dan banyak lagi yang seharusnya membuat mata kita terbuka situasi ini nanti akan mengerucut ke mana.

Sedangkan aparat juga tidak bisa sembarangan menangkapi mereka jika perangkat hukumnya belum kuat. Salah langkah, akibatnya akan menguntungkan para radikal. Situasinya sudah beda dengan era Soeharto dimana pada waktu itu belum ada media sosial yang menghubungkan seluruh dunia dalam satu layar. Bisa-bisa pelarangan dan penangkapan para radikal tanpa alasan yang kuat seperti perusakan, menjadi ajang propaganda mereka karena didzalimi pemerintah. Mereka akan menyalakan semangat jihad kemana-mana bahwa aparat bertindak otoriter. Bisa seperti Mesir negara kita berbulan-bukan dilanda kerusuhan.

Membuka wawasan terhadap situasi yang berkembang di Timur Tengah dan mengamati persamaan polanya adalah bagian dari meningkatkan kewaspadaan. Sekarang ini kita masih pada tahap perang pemikiran di media sosial, tapi nanti ujungnya akan masuk pada perang fisik. Apalagi melihat pemerintah sudah mulai mengutik Freeport dan masalah royaltinya juga kontrak perpanjangannya yang menyalahi perjanjian. Apa AS akan diam saja? Bukan begitu sifat asli mereka.

Momen Sumpah Pemuda ini seharusnya membuka kesadaran, terutama kepada para pemuda apapun latar belakangnya, bahwa wawasan politik sangat penting terutama pada situasi sekarang. Memahami akar masalah sudah menjadi keharusan. Memperingatkan potensi bahayanya kepada sekitar adalah kewajiban. Setidak-tidaknya itulah senjata pemuda yang berpikiran cerdas dan berwawasan luas sekarang ini.

Jangan jadi pemuda alay, yang rambutnya disisir ke-Korea-koreaan, meski wajahnya hidung semua. Gerak-geriknya kayak anak boyband, yang kalau liat celana warna terang terus girang dan kakinya menendang-nendang ke tanah kayak kambing kepanasan. Kalau ditanya situasi politik sekarang jawabannya terbata-bata dan langsung mengalihkan topik salon mana yang menarik. Rambut dicat pirang meski kulitnya hitam legam. Kalau bicara, "Cyiiinnn..." Can cin can cin... Muke lu kayak mocin! (Oleh: Denny Siregar).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News