Top News :
Home » , » Tajamnya Pena Santri Lirboyo, Bagaimana Santri di Aceh?

Tajamnya Pena Santri Lirboyo, Bagaimana Santri di Aceh?

Posted on Thursday, 29 October 2015 | garis 00:06

Muslimedianews.com ~
Kesan pertama ketika membaca karya santri Lirboyo, adanya ketidakpercayaan bahwa itu hasil karya santri. Ketika itu kami baca buku yang berjudul “Memahami istilah dalam fiqh madzhab Syafi’i”. Ketidakpercayaan tersebut karena isi yang dibahas dalam buku yang dimaksud terlalu tinggi untuk seukuran santri yang duduk di kelas Aliyah. Namun setelah melihat langsung proses penyiapan kaderisasi Lajnah Bahtsul Masail (LBM) serta proses lahirnya sebuah buku, nyatalah bagi kami karya tersebut benar-benar buah tangan dari santri Aliyah Pesantren Lirboyo.

Lalu kami menelusuri bagaimana proses kaderisasi Bahtsul Masail (pemecahan masalah) yang begitu matang di Lirboyo. Setelah kami amati di kelas-kelas mulai Ibtidaiyyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Ternyata metode Musyawarah (diskusi) dan Bahtsul Masail sudah diterapkan di kelas. Kedua metode tersebut diwajibkan bagi setiap mustahiq (guru) untuk diterapkan secara maksimal untuk  mencapai hasil akhir sebagaimana yang sudah tertuang dalam Kurikulum Madrasah.

Perlu dijelaskan bahwa antara Ibtidaiyyah, Tsanawiyah dan Aliyah di Lirboyo dengan di Aceh ada perbedaan di segi lamanya masa dari satu jenjang ke jenjang  selanjutnya. Rincian masa belajar di Lirboyo, Kelas Ibtidaiyyah mesti ditempuh selama 6 tahun kendatipun santri yang masuk kebanyakan setelah dites banyak duduk di kelas 4 Ibtidaiyyah. Jenjang Tsanawiyah dan Aliyah masing-masing tiga tahun. Rata-rata santri Lirboyo menghabiskan waktu untuk menamatkan pelajaran sampai jenjang Aliyah adalah sembilan tahun.

Lalu, darimana asal-usul budaya menulis di Lirboyo, Tim Magang Kaderisasi Guru Dayah Aceh mengamati. Di kelas, manajemen madrasah mewajibkan kepada seluruh guru dan santri menulis pelajaran selain kitab fikih. Hal ini penting untuk menumbuhkembangkan minat santri untuk menulis. Disamping itu bisa membantu mempermudah menghafal pelajaran. Karena jika menulis tentu butuh kepada membaca.

Setelah melakukan berbagai dialog dengan seluruh unsur Pesantren Lirboyo mulai dari pimpinan, pengurus, guru dan santri kami menemukan sebuah ungkapan Masyaikh (para guru besar) Lirboyo untuk membakar semangat kaum santri dalam dunia tulis menulis: "Tinta ulama lebih berharga dari darah syuhada." Kata-kata di atas sangat membekas bagi semua kalangan di Lirboyo. Dengan bukti banyak karya tulis dari kiai, guru dan santri.

Di Lirboyo dunia tulis menulis tidak hanya dalam aspek ilmu semata namun setiap bagian atau unit memiliki Tugas, Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang sudah dinarasikan dalam bentuk tulisan untuk dibukukan. Sehingga bisa dijadikan acuan untuk menjalankan TUPOKSI-nya masing-masing. Dan lebih mudah dilakukan evaluasi untuk melihat berjalan atau tidak sesuai harapan. Hal ini sepertinya masih kurang di sebagian dayah-dayah Salafiah di Aceh.

Untuk menggembleng santri agar bisa melahirkan karya tulis, setiap angkatan diwajibkan menulis karya Ilmiah dalam bentuk kerja kelompok. Alasan dibuat dalam bentuk tugas kelompok agar tidak memberatkan santri karena ini diwajibkan untuk kelas tiga Aliyah. Budaya menulis yang sudah dipupuk sejak di Madrasah ketika menjadi guru, budaya menulis ini semakin mengakar dan tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Terbukti dengan ratusan judul buku dari berbagai disiplin ilmu dengan begitu mudah kita dapatkan di Pesantren Lirboyo.

Selama kami berada di sini, setiap ada pertemuan atau dialog dengan unit Lirboyo selalu dihadiahkan buku-buku sehingga koper kami sudah penuh dengan buku karya santri dan guru Lirboyo. Pesantren Lirboyo juga mendirikan lembaga otonom yang berkiprah dalam bidang masing-masing untuk menelurkan karya tulis secara sistemastis dan profesional. Ada Lajnah Falakiah (Lembaga Astronomi), Lajnah Ittihadul Muballighin (LIM), Lajnah Bahtsul Masail (LBM), semua karya baik secara lembaga, kolektif maupun personal santri akan ditampung oleh Lajnah Taklif Wa Nashar (penerbit buku) resmi Lirboyo.

Pesantren Lirboyo juga memiliki beberapa majalah dan buletin antara lain yang sudah kami baca Majalah Misykat dan Buletin Ar-risalah. Di majalah dan buletin tersebut merupakan wadah bagi kiai, guru dan santri untuk berdakwah menyampaikan ilmu lewat tulisan. Disamping juga tempat mengasuh dan mengasah bakat santri dalam bidang Jurnalistik.

Dalam mempertahankan aqidah Ahlussunah wal Jama'ah Pesantren Lirboyo di bawah unit Ar-Risalah juga mendirikan Radio komunitas untuk menyebar dakwah bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dan ilmu pengetahuan tentang keislaman.

Nah, bagaimana kita di Aceh, seberapa banyak kita sudah menulis? Tentu kita akan terdiam. Namun yang perlu diingat, menulis tidak ada kaitannya dengan bakat, namun tergantung semangat yang kuat. Banyak sekali orang yang punya bakat menulis karena tidak diasah akan tumpul dan hilang dalam peredaran masa.

Tidak ingatkah kita pada petuah sahabat Nabi dan ulama-ulama besar yang produktif menulis sebagai cambuk bagi kita yang hanya berpangku tangan; "Bila kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar menulislah." (Imam al-Ghazali). "Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah apa yang membahagiakanmu di akhirat kelak." (Ali bin Abi Thalib). "Tinggalkan jejakmu pada dunia dengan torehan kata, tinta, lisan dan pedang." (Nadhya Shafwah). (Oleh: Tgk. Mustafa Husen Woyla, Sekum Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, via lintasnasional.com)

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News