Top News :
Home » » Tawassul Bukan Syirik, Ini Penjelasannya

Tawassul Bukan Syirik, Ini Penjelasannya

Posted on Thursday, 29 October 2015 | garis 19:01

Muslimedianews.com ~ Kita sering mendengar pendapat bahwa bertawassul (menjadikan perantara) kepada Nabi dan orang saleh, di dalam berdoa itu sebagai perbuatan syirik. Dalil yang digunakan adalah surat Azzumar ayat 3:

ما نعبدهم الا ليقربونا الى الله زلفى
"Tidaklah kami menyembah mereka, kecuali karena mereka mendekatkan kami kepada Allah".

Ayat di atas, sebagaimana yang dipahami dari kitab-kitab tafsir Al-Qur'an, merupakan jawaban kaum musyrikin Quraisy yang menolak meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Simpulan hukum dan dalil yang dikemukakan penuduh tawassul itu syirik, sebenarnya mengandung masalah:

1. Bahwa dalil Surat Azzumar ayat 3 di atas, tidak bisa dijadikan sebagai dalil haramnya tawassul atau syirik perbuatan tawassul.

2. Konteks ayat di atas, berbicara tentang ibadah yang dilakukan oleh kaum musyrikin, yaitu menyembah berhala. Itu bisa dipahami secara utuh dari kalimat, " tidaklah kami menyembah mereka kecuali karena mereka mendekatkan kami kepada Allah." Pada hakikatnya, kaum musyrikin Quraisy tidak menyembah berhala karena secara logis berhala tidak bisa melakukan apapun. Namun, ada keyakinan bahwa berhala-hala itu bisa menyampaikan apa yang diinginkan kaum musyrikin itu kepada Tuhan. Oleh sebab itu, berhala-berhala disembah atau diibadahi. Kata "ibadah" atau "menyembah" itu sendiri mengandung pengertian ritual yang bersifat khusus dan tidak bisa ditinggalkan.

Bagaimana dengan tawassul? Dengan menggunakan cara pandang kaum musyrikin di atas, tidak dijumpai makna atau pemahaman tawassul dengan menyembah. Orang yang bertawassul tidaklah menyembah wasilah (perantaranya). Jika kita perhatikan, doa tawassul kepada Nabi Muhammad, apakah itu berarti yang berdoa menyembah Nabi Muhammad? Kalaupun Nabi Muhammad dapat mendekatkan setiap umat Islam kepada Allah, tidak dijumpai saat ini umat Islam yang kemudian menyembah Nabi Muhammad. Tanpa disadari bahwa Nabi Muhammad sendiri menyuruh umatnya bertawassul kepada dirinya, dengan sabda:

من صلى علي صلى الله عليه عشرا
"Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah bersalawat kepada sepuluh kali".

Apa maknanya, "Allah bersalawat kepada sepuluh kali", dengan mengucap shalawat kepada Nabi? Jika kata shalawat diartikan sebagai rahmat, bukankah dikabulkannya dia itu merupakan rahmat? Lalu karena sebab apa itu turun? Apalagi kalau bukan karena disebut nama Nabi Muhammad.

3. Doa tawassul itu lazim dibaca umat Islam ketika mereka ditimpa masalah yang sangat rumit. Pada situasi seperti itu, doa biasa belum kunjung menunjukkan hasil, seperti dialami oleh umat Islam pada masa Umar bin al-Khatthab radhiyallahu anhu. Pada masa itu, hujan tidak kunjung turun, dan tanaman pun banyak kering. Umar pun berdoa bertawassul kepada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthallib. Alhasil, hujan pun turun membasahi kebun-kebun. (lihat shahih al-Bukhori bab sholat istisqo).

Ust. Abdi Kurnia Djohan

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News