Top News :
Home » » Antara Wali Allah dan Karamah

Antara Wali Allah dan Karamah

Posted on Thursday, 19 November 2015 | garis 11:10

Muslimedianews.com ~ Para wali Allah itu dikenal dengan memiliki karamah atau kejadian luar biasa. Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, ada kewajiban meyakini adanya karamah para wali. Al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri mendifinisikan karamah para wali sebagai berikut:

وَالْكَرَامَةُ أَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ يَظْهَرُ عَلىَ يَدِ عَبْدٍ ظَاهِرِ الصَّلاَحِ مُلْتَزِمٍ لِمُتَابَعَةِ نَبِيٍّ كُلِّفَ بِشَرِيْعَتِهِ مَصْحُوْبٍ بِصَحِيْحِ اْلاِعْتِقَادِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، عَلِمَ بِهَا أَوْ لَمْ يَعْلَمْ.
“Karamah ialah sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada seseorang yang jelas kesalehannya, yang selalu mengikuti ajaran nabi yang disyariatkan kepadanya, yang disertai dengan akidah yang shahih dan amal yang shaleh, baik dia tahu kepada karamah tersebut ataupun tidak.” (Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Baijuri, Tuhfatul-Murîd ‘ala Jauharatut-Tauhîd, tahqîq Ali Jum’ah Muhammad, Kairo, Darus-Salam, 2002, hlm. 253.).

Banyak sekali contoh-contoh karamah para wali Allah Swt yang dikisahkan dalam al-Qur’an al-Karim dan Hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya ialah kisah Siti Maryam di dalam al-Qur’an sebagai berikut ini:

وَهُزِّيْ إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (مريم [19]: 25)

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam [19]: 25).

Pangkal pohon kurma yang semula kering menjadi segar kembali dan mengeluarkan buah kurma yang masak ketika pohon tersebut digoyangkan oleh Siti Maryam.

Al-Qur’an juga mengisahkan tentang Ashhabul Kahfi, yaitu beberapa pemuda yang tidur di dalam gua selama 309 tahun.

وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلاَثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا (الكهف [18]: 25)

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.” (QS. Al-Kahfi [18]: 25).

Ashhabul Kahfi tersebut tidur di dalam gua selama 309 tahun, dengan kondisi tubuh masih hidup dan terjaga dari berbagai penyakit.

Al-Qur’an juga mengisahkan karamah Ashif bin Barkhaya, teman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

أَنَا آَتِيْكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ (النمل [27]: 40)

“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml [27]: 40).

Dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa Ashif bin Barkhaya mengangkat istana Ratu Bilqis dari negeri Saba’ di Yaman menuju Palestina, lebih cepat dari kerdipan mata.

Al-Qur’an juga mengisahkan tentang karamah Siti Maryam sebagai berikut:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا، قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا، قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ. (آل عمران [3]: 37)

“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” (QS. Ali-Imran [3]: 37).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Siti Maryam walaupun tidak pernah keluar dari Mihrab (ruangan untuk ibadah yang tidak dimasuki oleh orang lain), akan tetapi setiap saat selalu tersedia aneka macam makanan.

Demikianlah al-Qur’an memberikan contoh karamah yang terjadi pada manusia yang bukan nabi pada zaman dahulu. Dan banyak sekali riwayat yang sahih dan mutawâtir tentang karamah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tabiin dan orang-orang yang saleh yang dimuat dalam kitab-kitab Hadis, sejarah dan tasawuf, seperti kitab Karamat al-Auliya karya al-Hafizh al-Lalika’i, Hilyah al-Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim, Jami‘u Karamâtil-Auliyâ’ karya Syaikh Yusuf an-Nabhani dan lain-lain.

Namun dalam perihal kaitan wali Allah dan karamah ini, kita harus merujuk pada batasan yang telah ditetapkan oleh para ulama yang mu’tabar berdasarkan al-Qur’an dan Sunah. Yaitu bahwa tanda kewalian yang paling utama adalah keimanan dan ketakwaan, tidak melakukan maksiat dan durhaka, bukan pada kejadian luar biasa yang dialaminya. Oleh karena itu, orang yang mengaku dirinya sebagai wali Allah, tapi meninggalkan syariat, maka pengakuannya tersebut adalah dusta semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hadhratusysyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, mengutip dari kitab Nataijtul-Afkar al-Qudsiyyah ‘ala Syarh ar-Risalah al-Qusyairiyyah karya al-Imam Mushthafa al-‘Arusi:

فَمَنِ ادَّعَى الْوِلاَيَةَ بِدُوْنِ شَاهِدِ الْمُتَابَعَةِ فَدَعْوَاهُ زُوْرٌ وَبُهْتَانٌ

“Siapa saja yang mengaku dirinya menjadi wali Allah tanpa bukti mengikuti syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka pengakuan orang tersebut adalah dusta dan mengada-ada.”

Lebih jelas lagi Abu Yazid al-Bisthami, seorang ulama sufi terkemuka, menyatakan:

لَوْ نَظَرْتُمْ إِلَى رَجُلٍ أُعْطِيَ مِنَ الْكَرَامَاتِ حَتَّى يَرْقِيَ فِي الْهَوَاءِ فَلاَ تَغْتَرُّوْا بِهِ حَتَّى تَنْظُرُوْا كَيْفَ تَجِدُوْنَهُ عِنْدَ اْلأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَحِفْظِ الْحُدُوْدِ وَأَدَاءِ الشَّرِيْعَةِ

“Andaikan kamu melihat seseorang memiliki karamah sehingga bisa terbang di udara, maka janganlah kamu tertipu dengan peristiwa tersebut. Tetapi perhatikanlah terlebih dahulu bagaimana sikap dia dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah Swt, menjaga ketentuan-ketentuan agama serta dalam melaksanakan syariat.” (Abdul Halim Mahmud, Qadhiyyatut-Tashawwuf al-Munqidz minadh-Dhalâl, Kairo, Darul-Ma’arif, 1995, hlm. 130.).

Al-Imam Izzuddin bin Abdissalam, seorang ulama besar di kalangan mazhab asy-Syafii berkata:

فَإِذَا رَأَيْتَ إِنْسَانًا يَطِيْرُ فِي الْهَوَاءِ وَيَمْشِيْ عَلىَ الْمَاءِ أَوْ يُخْبِرُ بِالْمُغَيَّبَاتِ وَيُخَالِفُ الشَّرْعَ بِارْتِكَابِ الْمُحَرَّمَاتِ بِغَيْرِ سَبَبٍ مُحَلِّلٍ أَوْ يَتْرُكُ الْوَاجِبَاتِ بِغَيْرِ سَبَبٍ مُجَوِّزٍ فَاعْلَمْ أَنَّهُ شَيْطَانٌ نَصَبَهُ اللهُ فِتْنَةً لِلْجَهَلَةِ فَإِنَ الدَّجَّالَ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ فِتْنَةً لأَهْلِ الضَّلاَلِ.

“Apabila engkau melihat manusia bias terbang di angkasa dan berjalan di atas air, atau menyampaikan berita-berita yang ghaib, namun prilaku orang tersebut bertentangan dengan syariat karena melakukan perbuatan yang diharamkan dengan tanpa sebab yang menghalalkan, atau meninggalkan kewajiban dengan tanpa sebab yang bisa memperbolehkannya, maka ketahuilah bahwa manusia tersebut adalah syetan yang diangkat Allah sebagai ujian kepada orang-orang yang bodoh. Karena sesungguhnya Dajjal bisa menjadikan manusia hidup atau mati sebagai ujian bagi orang-orang yang sesat.” (Al-Imam Izzuddin bin Abdissalam, Qawa’idul-Ahkâm fî Mashâlihil-Anâm, Beirut, Darul-Kutub al-Ilmiyah, 1999, vol. II, hlm. 148.).

Dalam bagian pengantar kitab Jâmi‘u Karamâtil-Auliyâ’, karya Syaikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, disebutkan sebagai berikut:

كُلُّ مَنْ كَانَ لِلشَّرْعِ عَلَيْهِ اعْتِرَاضٌ فَلَيْسَ بِوَلِيٍّ، وَإِنْ طَارَ فِي الْهَوَاءِ وَمَشَى عَلَى الْمَاءِ. فَعَلَى هَذَا فَكُلُّ مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ وَصَلَ إِلَى حَالَةٍ تَسْقُطُ عَنْهُ الصَّلاَةُ أَو الصِّيَامُ وَتُجِيْزُ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا مِنَ الْكَبَائِرِ أَوِ الصَّغَائِرِ فَهُوَ ضَالٌّ مُضِلٌّ كَذَّابٌ، وَهُوَ مِنْ أَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، وَلَيْسَ صُدُوْرُ اْلأُمُوْرِ الْخَارِقَةِ لِلْعَادَةِ مِنَ الشَّخْصِ دَلِيْلاً عَلَى صَلاَحِهِ وَتَقْوَاهُ بَلِ الْمَنْصُوْصُ عَلَيْهِ أَنَّ اْلأَمْرَ الْخَارِقَ لِلْعَادَةِ إِنْ ظَهَرَ عَلىَ يَدِ نَبِيٍّ فَهُوَ مُعْجِزَةٌ، وَإِنْ ظَهَرَ عَلَى يَدِ وَلِيٍّ فَهُوَ كَرَامَةٌ، وَإِنْ ظَهَرَ عَلىَ يَدِ فَاسِقٍ أَوْ ظَالِمٍ فَهُوَ سِحْرٌ اَوِ اسْتِدْرَاجٌ لِيَزْدَادَ بِهِ بُعْدًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا، وَالْعِيَاذُ بِاللهِ تَعَالَى.

“Setiap orang yang menentang terhadap syara’, jelas bukan seorang wali, meskipun ia bisa terbang di angkasa dan berjalan di atas air. Berdasarkan hal ini, setiap orang yang mengaku telah sampai pada derajat yang menggugurkan kewajiban salat atau puasa pada dirinya dan membolehkan dirinya melakukan perbuatan dosa besar atau dosa kecil, maka dia adalah orang yang sesat, menyesatkan dan pembohong. Dan ia termasuk wali syetan. Terjadinya hal-hal yang luar biasa pada seseorang tidak menunjukkan pada kesalehan dan ketakwa-annya. Bahkan yang telah menjadi ketetapan, kejadian luar biasa apabila terjadi pada seorang nabi, maka disebut mukjizat. Apabila terjadi pada seorang wali, maka disebut karamah. Dan apabila terjadi pada seorang yang fasik atau zalim, maka termasuk sihir dan istidrâj agar ia bertambah jauh dari Allah dan dosa-dosanya semakin banyak, semoga Allah Swt melindungi kita.” (Syaikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Jâmi’u Karamâtil-Auliyâ’, tahqîq Ibrahim Athwah Iyadh, Gujarat, India, Markaz-E-Ahl-Sunnah Barakat-E-Raza, 2001, vol. I, hlm 7.).
Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan, bahwa Ahlusunah wal Jamaah memiliki keyakinan akan adanya karamah para wali, yaitu kejadian luar biasa, atau peristiwa supranatural yang terjadi pada seorang Muslim yang jelas keshalehannya dan konsisten mengamalkan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan kejadian luar biasa yang terjadi pada orang-orang yang tidak konsisten dengan ajaran agama atau sering meninggalkan perintah agama, bukanlah dinamakan karamah dan tidak menjadi bukti kewalian orang tersebut di sisi Allah. Al-Imam Abdul Halim Mahmud berkata:

لاَ يُسْتَدَلُّ عَلَى الْوَلِيّ بِالْكَرَامَةِ لاِحْتِمَالِ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَلَكِنْ يُسْتَدَلُّ عَلَى صِدْقِ الْكَرَامَةِ بِصِحَّةِ الْوِلاَيَةِ.

“Kewalian seseorang tidak dapat dibuktikan dengan karamah, karena ada kemungkinan terjadinya melalui pertolongan syetan. Akan tetapi kebenaran karamah harus dibuktikan dengan keshahihan kewalian.” ( Al-Imam Ibn Atha’illah as-Sakandari, Lathâiful-Minan, tahqîq Abdul Halim Mahmud, Kairo, Darul-Kitab al-Mishri, 1991, hlm. 28.).

Pernyataan Syaikh Abdul Halim Mahmud tersebut menyimpulkan, bahwa kejadian supranatural tidak bisa menjadi bukti kewalian seseorang, karena tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut terjadi melalui pertolongan syetan terhadap orang-orang yang mengikuti ajakan syetan. Akan tetapi karamah seseorang itu bisa dibenarkan apabila kewalian orang tersebut benar-benar sahih, yaitu perilaku kesehariannya selalu konsisten dengan ajaran syariat Islam.

Wallahu a'lam

Ust. Muhammad Idrus Ramli


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News