Top News :
Home » » Beranikah Mengatakan Imam Syafi'i adalah Wahabi ? Benarkah Pahala Baca Qur'an tidak Sampai?

Beranikah Mengatakan Imam Syafi'i adalah Wahabi ? Benarkah Pahala Baca Qur'an tidak Sampai?

Posted on Monday, 16 November 2015 | garis 15:00

Muslimedianews.com  ~ Sebagain umat Islam pengguna jejaring sosial facebook pasti pernah menemukan gambar dengan tulisan seperti gambar disamping ini.

Salah satunya, kami temukan di fanpage wahhabi https://www.facebook.com/cintaislam21/   "CinTa Islam Karena Allah". 

Gambar tersebut bertuliskan "IMAM SYAFI'I mengatakan, Amalan membaca Al-Qur'an itu tidak bisa sampai pahalanya kepada si mayyit (Syarah Shahih Muslim 1/90)". Kemudian kelanjutannya "Beranikah anda mengatakan Imam Syafi'i, WAHABI?".

Tulisan tersebut merupakan propaganda pengikut Wahhabi yang ingin mengklaim diri mereka atau pendapat mereka seperti pendapat Imam Syafi'i. Penting diketahui bahwa hal itu juga muncul dari keengganan mereka disebut sebagai Wahhabi.

Imam Syafi'i dan Wahhabi
Imam Syafi'i merupakan ulama salaf pengasas madzhab Syafi'iyah. Didalam madzhabnya, berkumpulan ribuan ulama besar dari berbagai bidang ilmu Islam. Sedangkan Wahhabi?. muncul abad ke 12-Hijriyah dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dalam fanpage wahhabi https://www.facebook.com/cintaislam21/   "CinTa Islam Karena Allah" dikatakan bahwa al-Wahhabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang nisbatkan kepada Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Ini adalah tipuan sekaligus kebodohan pengikut Wahhabi, sebab Ibnu Rustum bukan pendiri Wahhabi tetapi pengikut Wahbiyyah, pendirinya Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi. Untuk mengetahui lebih detail, silahkan baca tulisan "INILAH 5 ALASAN, MEREKA TIDAK MAU DISEBUT WAHHABI ?"

Kesimpulannya adalah Wahhabi dengan Imam Syafi;i tidak ada sangkut paut. Pendapat Wahhabi adalah pendapat Wahhabi, sedangkan pendapat Imam Syafi'i adala pendapat Imam Syafi'i yang banyak dijelaskan oleh murid-muridnya atau ulama Syafi'iyah.

Kalau pun Imam Syafi'i memiliki pendapat yang berbeda maka perbedaan itu tidak sampai mengharamkan yang sebaliknya, apalagi menyesatkan dan membid'ahkan. Ini berbeda dengan Wahhabi, sebab Wahhabi tidak jarang sampai mengharamkan orang yang menghadiahkan pahala bacaan Qur'an bahkan amaliyah lainnya kepada orang yang meninggalkan. Tidak hanya itu, pengikut Wahhabi juga menganggapnya sebagai kesesatan. Tentu ini berbeda sekali dengan Imam Syafi'i. Beranikah mengatakan Imam Syafi'i adalah Wahhabi?. Jawabannya Imam Syafi'i bukan Wahhabi. Perbedaannya jelas sekali.

Memang sebagian kelompok, dalam hal ini pengikut Wahhabi, sering memanipulasi dan melakukan distorsi terhadap pandangan Imam al-Syafi’i, tentang tidak sampainya hadiah pahala bacaan al-Qur’an kepada mayit seperti diatas, lalu disimpulkan bahwa: Imam al-Syafi’i mengharamkan membaca al-Qur’an di kuburan. Tentu saja, kesimpulan ini salah.

Sebab Imam Syafi'i rahimahullah ternyata dalam banyak riwayat, justru menganjurkan membaca al-Qur'an bagi orang yang meninggal (mayyit) dikuburnya. Imam al-Muhaddits al-Baihaqi didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar meriwayatkan :

قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت
"Imam Syafi'i berkata: aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk orang yang meninggal".

Dalam kitab lain disebutkan, Imam Az-Za'farani (murid Imam Syafi'i) berkata kepada Imam Syafi'i tentang membaca al-Qur'an dikuburan orang mati?. Imam Syafi'i menjawab : "La Ba'sa Biha (Yang demikian itu tidak apa-apa)".

Didalam Riyadlush Shalihin [1/295] ; Dalilul Falihin [6/426]; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) dan beberapa kitab lainnya pun menyebutkan riwayat Imam Syafi'i tersebut.

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً
"Imam Syafi'i berkata : disunnahkan agar membaca surah atau ayat al-Qur’an disisi kubur, dan jika mengkhatamkan al-Qur’an, maka itu bagus"


Perkataan Imam Syafi'i ini menunjukkan
  • Anjuran membaca al-Qur'an bagi orang yang meninggal (mayyit), bahkan dikuburan mereka
  • Ketidak-haraman melakukan amaliyah tersebut, bahkan jika mengkhatamkan maka hasan.
  • Bahwa amaliyah tersebut memiliki dasar didalam agama Islam, dilakukan oleh ulama salaf
  • Bahwa amaliyah tersebut memiliki manfaat, baik bagi orang yang meninggal (mayyit) maupun orang yang membaca (qari). Bila bermanfaat bagi mayyit, maka itu artinya sampai kepada si mayyit. 
  • Kalau pun ada yang beranggapan bahwa sisi manfaat itu tidak didapat dari sampainya pahala, tetapi bacaan Qur'an tersebut tetap memberikan manfaat kepada mayyit dari sisi lain, misalnya rahmat dan berkah dari bacaan al-Qur'an yag dibaca oleh qari'. Artinya tidak ada kesia-siaan.
Penjelasan Ulama Syafi'i Tentang Pahala Bacaan Qur'an Yang Dianggap Tidak Sampai ?
Bila seolah-oleh perkataan Imam Syafi'i diatas saling bertentangan, maksud yang tepat sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Imam Zakariyya al-Anshari dalam dalam Fathul Wahab berikut ini :

أما القراءة فقال النووي في شرح مسلم المشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابنا يصل وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إليه ثواب جميع العبادات من صلاة وصوم وقراءة وغيرها وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك وقد ذكرته في شرح الروض
“Adapun pembacaan al-Qur’an, Imam an-Nawawi mengatakan didalam Syarh Muslim, yakni masyhur dari madzhab Syafi’i bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian ashhab kami menyatakan sampai, dan kelompok-kelompok ‘ulama berpendapat bahwa sampainya pahala seluruh ibadah kepada mayyit seperti shalat, puasa, pembacaan al-Qur’an dan yang lainnya.

Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya, bahkan Imam as-Subkiy berkata ; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah”.


Ibnu Manshur


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News