Top News :
Home » » Cara Pecah Belah Gaya Baru, Umat Dipaksa Jadi Wahabi atau Dituduh Syi'ah

Cara Pecah Belah Gaya Baru, Umat Dipaksa Jadi Wahabi atau Dituduh Syi'ah

Posted on Saturday, 21 November 2015 | garis 15:00

Muslimedianews.com ~ Pada tahun 1980-an dan 1990-an, di Jakarta, sudah ada sekelompok orang, atau organisasi yang menganggap bid'ah beberapa amalan yang dilakukan kebanyakan umat Islam. Muhammadiyyah dan Persis adalah dua ormas yang mempunyai pandangan yang sama tentang bid'ah. Akan tetapi, meskipun begitu, kajian-kajian yang digelar kedua ormas tentang bid'ah itu tidak membuat panas telinga dan hati ormas atau kelompok yang berbeda pendapat dengan mereka.

Sebagai bukti, para tokoh dan pimpinan Muhammadiyyah serta Persis, masih bisa bertemu dan saling silaturahim dengan tokoh dan pimpinan NU yang jelas punya pandangan sendiri juga tentang bid'ah.

Saya masih ingat ketika guru saya al-maghfur lahu K.H. Arma Abdurrachim yang bercerita tentang suasana takziyah pada saat al-maghfur lahu Dr. Mohammad Natsir, tokoh Persis, pendiri Dewan Dakwah serta mantan Perdana Menteri Indonesia, itu wafat. Guru saya mengatakan," bahwa ada omongan di luar sana yang berkata bahwa almarhum pak Natsir anti dengan bakaran dupa (gaharu) di dekat jenazah orang yang wafat dan katanya pak Natsir melarang orang membaca Yasin di sisi jenazah. Tapi, kemarin waktu saya melayat jenazah pak Nasir, saya melihat ada bakaran dupa tidak jauh dari jenazah dan saya pun dibolehkan membaca surat Yasin di samping jenazah pak Nasir. Itu bagaimana menurut ente semua?"

Kajian-kajian yang digelar Muhammadiyah dan Persis bisa dibilang tidak sering membahas persoalan khilafiyyah dengan kelompok lain. Muhammadiyyah tampaknya lebih senang membahas pengembangan kapasitas SDM umat. Sedangkan Persis, lebih banyak menyoroti dinamika politik internasional dan deislamisasi yang melanda daerah-daerah kantong muslim di Indonesia. Begitu rukun dan indah, suasana perbedaan pada masa itu dilihat. Ada beberapa orang kawan yang pada masa-masa itu sudah mengenakan celana di atas mata kaki , namun keluhuran akhlak mereka membuat kami makin hormat dan segan kepada mereka.

Ketika suasana itu tidak lagi saya jumpai. Kini makin banyak kajian keislaman dijumpai di berbagai tempat, yang justru membuat umat ini makin terkotak-kotak. Umat Islam kini seolah "dipaksa" untuk memilih menjadi salafi atau menjadi Syiah. Sehingga dari paksaan itu muncul pemetaan, jika tidak memilih salafi berarti mendukung Syi'ah. Begitu pula sebaliknya. Sebuah cara yang saya kira cukup efektif untuk membelah umat dan benar-benar tidak menunjukkan sebuah keadaban.

Saya hanya berharap agar kiranya Muhammadiyyah, Persis dan NU kembali bertemu untuk memberi penawar keresahan umat. Semoga figur-figur seperti Buya Hamka, Kyai Abdullah Syafi'i, dan K.H. muhammad Shiddiq terlahir kembali untuk merekatkan umat.

Ust. Abdi Kurnia Djohan, 13 November 2015

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News