Top News :
Home » , » Catatan Kunjungan Ibnu Batutah ke Jawa (Nusantara)

Catatan Kunjungan Ibnu Batutah ke Jawa (Nusantara)

Posted on Friday, 13 November 2015 | garis 15:45

Muslimedianews.com ~
Beliau lahir pada 703 H dan wafat pada 779 H (1304-1377 M). Ibnu Batutah memulai perjalanannya di tahun 725 H dan berakhir pada 752 H dan kunjungannya ke pulau Jawa pada tahun 748 H atau 1347 M. Menurut beberapa sejarawan Ibnu Batutah sebenarnya datang ke kerajaan Pasai di Sumatera yang telah memeluk Islam, namun di masa itu masih populer bernama pulau Jawa.

Ibnu Batutah adalah tokoh penyambung Indonesia-Maroko. Petualang kebudayaan, antropologi dan geografi yang satu ini mungkin bisa disejajarkan dengan posisi Duta Besar dewasa ini. Catatan perjalanannya melintasi jutaan kilometer, membentang dari Maroko sampai Indonesia, memakan waktu 25 tahun, dimulai dari usia 22 tahun, yang terabadikan dalam sebuah karya yang berjudul Tuhfah an-Nadzar fi Gharaib al-Amshar wa 'Ajaib al-Asfar.

Yang menarik dari tokoh yang bernama asli Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Luwati ini adalah kemampuannya mencatat pernak-pernik kebudayaan dan kekhasan alam yang dikunjunginya. Karyanya adalah perpaduan antara keindahan gaya bahasa lisan dan isinya yang bagaikan ensiklopedi. Tak pelak, Ibnu Batutah menjadi tokoh besar abad 8 H, kebanggaan dunia barat Islam (Maroko khususnya), sekelas dengan sejawatnya semisal Ibn Khaldun yang banyak disebut sebagai peletak sosiologi, jauh sebelum Auguste Comte dan asy-Syathibi; teoritikus ilmu maqashid dalam syari’ah Islam.

Dalam catatan tokoh kelahiran Tanger, 17 Rajab 703 H ini, Indonesia (Jawa) yang memanjang sejauh perjalanan dua bulan perjalanan, ketika itu dihuni oleh mayoritas penduduk non-Muslim. Jawa menurut Ibnu Batutah adalah pulau hijau yang sedap dipandang mata dan banyak dihiasi deretan pohon kelapa. Sedemikian terkesannya Ibnu Batutah, sampai-sampai ia singgah di Jawa dua kali. Pertama dalam perjalanan dari Bangladesh menuju China. Dan kedua rute pulang dari China menuju Basrah.

Adapun rute penjelajahan dan keberangkatan Ibnu Batutah dimulai dari Tanger menuju Mesir, Syiria, Makkah, India, Bangladesh, Jawa, Sumatera, China, lalu kembali ke Maroko. Selebihnya ia sempat menjelajahi Andalusisa dan beberapa negara tetangga Maroko di Afrika.

Ibnu Batutah merupakan penjelajah dunia yang pernah singgah ke Nusantara. Pada abad ke-14, pria Maroko itu mampir ke Pasai, kesultanan di wilayah utara Sumatra yang telah memeluk Islam. Ibnu Batutah pun membuat catatan bagaimana kehidupan di negeri tersebut. Ibnu Batutah melaporkan kehidupan masyarakat Muslim di utara Sumatera itu dalam catatan hariannya.

Ibnu Batutah menulis Sumatra dengan nama Jawa. Karena saat itu yang terkenal di kalangan saudagar dunia adalah menyan jawi. Namun yang dimaksud Batutah adalah Sumatera. Pulau dimana Pasai berada. Dalam catatan itu, Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India. “Pulau itu hijau dan subur,” tulis Batutah sebagaimana dikutip Dream dari buku The Indonesia Reader, History, Culture, Politics, Selasa 18 November 2014.

Dia menulis tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini –dulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus.

Saat sampai di pelabuhan, masyarakat setempat menyambut Batutah dan rombongan dengan ramah. Rakyat di sana datang dengan membawa kelapa pisang, mangga, dan ikan, untuk ditukarkan dengan barang lain yang dibawa pedagang yang singgah.

Menurut Batutah, perwakilan dari panglima kesultanan juga mendatangi rombongannya. Pejabat itu menanyakan maksud kedatangan mereka. Setelah itu, rombongan Ibnu Batutah diizinkan mendarat di pantai. “Lantas kami menuju ke daratan pelabuhan, sebuah kampung besar di pantai dengan sejumlah rumah, yang disebut Sarha.” Menurut catatan Batutah, perkampungan itu berjarak sekitar empat mil dari kota raja.

Batutah juga mencatat bahwa Sultan Pasai, Malik az-Zahir, sangat ramah. Rombongan itu diterima dengan tangan terbuka. Bahkan, sang sultan meminjamkan salah satu kudanya –dan kuda lainnya– untuk rombongan Batutah yang singgah itu. “Saya dan teman-teman saya berkuda, dan kami menunggang kuda ke kota raja, kota Sumatra, sebuah kota yang besar dan indah dilengkapi dengan dinding kayu dan menara kayu.”

Dalam catatan itu, Batutah juga terkesan dengan keyakinan Sultan Malik az-Zahir. Selain terbuka, Sultan juga pecinta teologi. Sultan merupakan penganut Islam yang taat dan memerangi segala perompakan. Sultan juga memberikan perlindungan kepada kaum non-Muslim yang membayar pajak kepada kesultanan.

Selain tegas, Sultan Malik az-Zahir juga digambarkan sebagai orang yang rendah hati, “yang berjalan kaki saat menuju tempat salat Jum'at.”

Saat menuju istana, Batutah melihat sejumlah tombak tertancap di kanan-kiri jalan, di dekat gerbang. Itu tandanya, siapapun tak boleh lewat. Siapa saja yang menunggang kuda juga harus turun. Sehingga Batutah dan rombongannya harus turun dari kuda mereka.

Saat di pendopo istana, rombongan Batutah disambut salah satu letnan kesultanan yang ramah. Sang letnan menyambut mereka dengan berjabat tangan. “Kami duduk bersama dia dan dia menulis surat kepada Sultan untuk menginformasikan kedatangan kami.”

Setelah jamuan makan, sang letnan mengajak rombongan Batutah berjalan-jalan di taman berpagar kayu. Di bagian tengah dibangun sebuah rumah kayu dan berkarpet. “Kami duduk di sini bersama letnan.”

Setelah itu, datanglah pejabat kesultanan, amir Dawlasa, dengan membawa dua pelayan perempuan dan dua laki-laki dan berkata, “Sultan mengatakan kepadamu bahwa persembahan ini sebanding dengan hartanya, tidak seperti Sultan Muhammad (Sultan India)”. Setelah itu, sang letnan meninggalkan mereka, rombongan mereka beralih menjadi tanggungjawab amir Dawlasa.

Kebetulan, Ibnu Batutah sudah kenal dengan amir Dawlasa, sebab pernah menghadap Sultan Delhi bersama-sama. Ibnu Batutah pun bertanya, kapan Sultan Pasai bisa menemui rombongannya. Dan amir Dawlasa pun menjawab, “Ini adat negeri kami bahwa pendatang baru menunggu tiga malam sebelum menghadap ke Sultan, mungkin dia (tamu) sudah pulih dari kelelahan selama dalam perjalanan.”

Batutah dan rombongan pun akhirnya bertemu dengan Sultan Malik az-Zahir pada hari Jum'at. Mereka bertemu dan berbincang di sebuah masjid setelah salat Jum'at. Sultan meminta Batutah menceritakan kabar Sultan Muhammad di India.

Setelah pertemuan itu, Sultan Malik pun meninggalkan masjid. “Saat meninggalkan masjid, dia (Sultan) disediakan gajah dan sederetan kuda. Adat mereka, Sultan menunggang gajah, pengiring dan wakil menunggang kuda.” Namun saat kunjungan Batutah itu, Sultan lebih memilih menunggang kuda bersama tamunya ini.

Batutah berada di Pasai selama 15 hari. Tibalah saatnya mereka berpamitan. Rombongan ini tak bisa meneruskan perjalanan ke China karena kondisi cuaca yang buruk. Batutah dan rombongan pun berpamitan kepada Sultan. “Dia (Sultan) menyediakan perahu untuk kami, mengantar kami, dan memberi bekal banyak kepada kami. Semoga Tuhan membalas dia!”

Download kitab Ibnu Batutah رحلة إبن بطوطة المسماة تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار di sini: http://dl.wdl.org/7470/service/7470.pdf (Sya'roni As-Samfuriy).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News