Top News :
Home » , » Dua Aktifis NU Terdampar di Timika Papua

Dua Aktifis NU Terdampar di Timika Papua

Posted on Wednesday, 25 November 2015 | garis 00:10


Muslimedianews.com ~ Sabtu 20 November 2015, kami melakukan perjalanan menuju Pulau Asmat. Perjalanan kami aktifis NU yang dikirim oleh PPM ASWAJA dan SARKUB ke Asmat, masih sama seperti perjalanan-perjalanan kemarin ke beberapa daerah di Papua, selain mengunjungi saudara-saudara kita yang berada di pedalaman kita juga masih dalam misi membantu Pendidikan Islam dan dakwah di Pulau Cendrawasih itu.

Setelah melalui perjalanan dari Kotaraja, kurang lebih tepat jam 10 siang kami tiba di Bandara Sentani. Karena kata Mbak yang melayani pembelian tiket, kami harus sudah chek in di bandara tepat 2 jam sebelum pesawat lending. Sekilas tak banyak yang istimewa di Bandara Sentani, Jayapura. Fasilitasnya masih kalah jauh dari Bandara Soekarno-Hatta atau bandara di kota-kota besar lainya di Indonesia. Namun ketika hendak mendarat di sana, Anda akan melihat panorama bukit dan danau yang cantik jelita.

Bandara Sentani, merupakan salah satu pintu gerbang untuk menjelajahi Papua. Berada di Jayapura, bandara tersebut selalu penuh hiruk-pikuk aktivitas masyarakat setempat. Senyum tulus dan keramahan warga Papua akan Anda rasakan jika keluar dari bandara.

Terlepas dari kesederhanaan Bandara Sentani, ketika kita naik pesawat dan hendak mendarat di sana, ada pemandangan cantik yang terlihat jelas dari ketinggian. Pemandangan yang rasanya tidak dimiliki bandara-bandara lainnya di Indonesia. Tengoklah ke luar jendela, saat pilot memberitahu bahwa pesawat akan mendarat di Bandara Sentani, perbukitan hijau yang terlihat bergelombang terlihat begitu cantik. Perbukitannya seperti permadani hijau raksasa, dikala pesawat dalam posisi di atas perbukitannya. Namun ketika pesawat dalam posisi sejajar dan tak sampai 10 menit bakal mendarat, perbukitannya malah terlihat bagai bukit Teletubbies. Menakjubkan!

Tak sampai di situ, Danau Sentani yang berada di dekat Bandara Sentani membuat pemandangan di luar jendela pesawat makin elok dilihat. Danaunya yang tenang, bagaikan cermin raksasa yang memantulkan awan-awan putih di atasnya. Bahkan, Danau Sentani dengan luas mencapai 245.000 hektar memiliki banyak pulau kecil. Kalau kita lihat lebih ke bawah dari jendela pesawat, danau ini bagaikan lautan saja karena saking luasnya dan banyak pulau kecil di atasnya.

Konon nama Sentani memiliki arti "Di sini kami tinggal dengan damai". Jika melihat pemandangan Danau Sentani dan perbukitan di sekitarnya, arti tersebut seolah tidak berlebihan. Pemandangan cantik yang mendamaikan jiwa.

Pesawat Delay

Qadarullah (takdir Allah), setiba di Bandara Sentani, usai chek-in dan beberapa menit menunggu, ternyata pesawat yang akan membawa rombongan sepertinya mengalami masalah teknis dan menyebabkan pemberangkatan mengalami delay. 2 jam sudah kami duduk di ruang tunggu, namun tak kunjung ada pemberitahuan dari pengeras suara bahwa pesawat ke Timika akan terbang. Saat itu jam sudah menunjukkan 12.20 WIT. Waktu dimana seharusnya kami meninggalkan Bandara Sentani sebagaimana yang tertera di tiket kami.

Tiba-tiba, terdengar suara yang seorang wanita yang mengatakan bahwa penerbangan ke Oksibil dibatalkan karena faktor cuaca. Pembritahuan itu membuat kami gelisah, jangan-jangan penerbangan kami ditunda atau dibatalkan juga lantaran faktor yang sama. Padahal kapal dari Timika ke Asmat berangkat pukul 13.30 WIT. Ada kapal lagi tanggal 29 nanti. Kalau ditunda, kami bisa jadi "orang hilang" di Timika. Tiada teman, kenalan, apalagi sanak saudara. Kulirik Ust. Agus yang duduk di sebelahku yang sedang mengantuk. Hanya senyum para calon penumpang pesawat yang saat itu sedikit bisa menghiburku.

Setelah berjam-jam dicekam dingin dan gelisah agak panjang, akhirnya ada pemberitahuan bahwa pesawat ke Timika siap terbang. Lega rasanya tubuh kami bisa terbebas dari dingin AC ruang tunggu. Tapi, gelisah kian merasuk dada ketika kami sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 13.45 WIT. Kami akan benar jadi "orang hilang" di Timika. Tapi saya sangat yakin Gusti Allah tak akan pernah menelantarkan hambaNya, selama kita yakin akan pertolonganNya. Apalagi menelantarkan kami bujang-bujang tua yang juga tak kunjung bisa menikah.

Sesekali kami menengok ke jendela, saat pesawat mulai terbang. Perbukitan hijau yang terlihat bergelombang terlihat begitu cantik.
Perbukitannya seperti permadani hijau raksasa, dikala pesawat dalam posisi di atas perbukitannya. Danau Sentani yang berada di dekat Bandara Sentani seperti turut serta menjadi saksi atas kegelisahan yang baru kami rasakan. Danau yang elok dilihat, danaunya yang tenang, bagaikan cermin raksasa yang memantulkan awan-awan putih di atasnya seakan berkata pada kami "Yang sabar..."

Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, tibalah kami di Bandara Timika. Kami pasrah duduk di sebuah bangku kayu yang ada di ruang tengah bandara. Kulihat lalu-lalang orang yang ada di bandara, tak ada satu wajahpun yang saya kenal. "Bagaimana ini, Kang?" tanya Ust. Agus. Saya hanya bisa menimpali dengan senyum, karena saya sendiri bingung mau apa dan mau ke mana. Hanya saya mencoba berhusnudzan dengan ketetapan Allah, dalam kondisi apapun. Karena terlalu sering saya mengalami banyak hal yang semua berpangkal pada satu, husnudzan pada Allah.

Setelah mengambil barang-barang bawaan di bagasi, kami pun keluar dari bandara. Melihat dua pemuda menggendong begitu banyak ransel yang seperti sedang diterpa nestapa, para supir dan tukang ojek langsung menawarkan jasa-jasanya. Namun tiap kali taksi dan ojek menawarkan jasanya kepada kami, kami tak tahu harus mengatakan apa. Karena kami juga bingung di mana tempat tujuan kami singgah di Timika. Kapal yang sedianya akan mengantar kami menuju Asmat juga sudah pergi. Sambil mengendong 3 ransel, saya katakan kepada Ust. Agus: "Ustadz, yuk kita jalan, barangkali jalan raya dekat."

Jalan pun kami lalui, tapi tak kunjung pula kami berjumpa dengan jalan raya. Nasib. Kami tak putus asa, kami lanjut mengayuhkan kaki yang sudah mulai sempoyongan hingga sampai di jalan yang bersentuhan dengan gerbang menuju ke Prifort. Ya, di sanalah, bersamaan dengan lelahnya kaki, kami katakan "Ke masjid, Pak" pada tukang ojek yang menghampiri kami. Kami diantarkan ke sebuah masjid tak jauh dari kota. Masjid al-Furqan namanya. Sampai di masjid, kami berbagi tugas, cari tiket pesawat ke Asmat dan tinggal di masjid menjaga barang-barang bawaan.

Hasilnya nihil. Tiga outlet yang saya sambangi sudah tutup. Dan buka lagi hari Senin. Padahal, sekarang hari Sabtu. Di tengah kepasrahan, saya mengajak Ust. Agus untuk mencari makan, karena saya baru teringat jika kami belum sarapan sedari pagi.

Warung Sumber Waras, di situlah kami istirahat dan makan. Selagi menikmati makan, ada telfon dari Asmat bahwa kami akan dijemput seseorang. Pun kami bergegas mencari tempat yang mudah untuk ketemuan. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke sebuah Masjid Agung di Kota Timika.

Dijemput Abah Ali, Santri Mbah Hamid Pasuruan

Menjelang Maghrib, akhirnya kami bertemu dengan seseorang itu. Seorang pria agak sepuh, bersarung, berpeci putih dengan surban di leher. Kami hampir tak percaya bahwa pria itulah yang menjemput kami. Kami yang anak-anak merasa tak patut merepoti orang sepuh. Gambaran di angan kami sebelumnya adalah orang muda yang akan menjemput kami. Beberapa kali saya ucapkan kata maaf dan ucapan terimakasih kepada beliau saat kami berjabatan tangan.

Selepas Maghrib, kami meluncur ke kediaman beliau. Sepanjang perjalanan kami isi dengan mengobrol banyak hal, dari menceritakan asal-usul kami sampai menceritakan tentang visi-misi hingga penyebab kami terdampar di Timika. Pertemuan dengan beliau laksana pertemuan seorang ayah dengan anaknya yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Sesekali beliau melontarkan guyon-guyonan khas "Pesantren" yang membuat kami hampir lupa bahwa kami baru saja menjadi gelandangan di tanah orang.

Waktu Isya kami sampai di kampung beliau. Kami langsung menuju masjid setempat guna melakukan shalat Isya berjamaah. Kami terkejut, kagum, dan salut saat memasuki komplek masjid. Sebuah TK dan SD Ma'arif serta gedung yang sudah beroperasi. Sederet bangunan MTs Ma'arif juga sudah berdiri. Namun belum beroperasi lantaran belum ada pengajarnya. Masjid megah juga hampir rampung. Tinggal kubahnya saja yang belum datang dari Semarang. Semua bangunan ini ternyata beliaulah pencetus dan pendirinya. Dari raut wajah beliau terlihat sekali hiruk-pikuk perjuangan dakwahnya di Timika.

Beliau adalah KH. Ali Ma'ruf, Ketua Umum PC NU Timika. Beliau Murid dari Mbah Hamid Pasuruan. Penampilan beliau yang sangat sederhana layaknya masyarakat biasa namun kapasitas keilmuaan yang beliau miliki sangat luas. Yayasan yang dirintisnya dari awal mulai dari TPQ hingga SD, mampu menyedot banyaknya minat masyarakat sekitar untuk menimba ilmu-ilmu agama plus mendapat pendidikan formal dari sekolah.

Malam itu juga kami diajak keliling untuk melihat berbagai bangunan yayasan yang dalam tahap penyelesaian. "Bah, cocok seklali di sini kalau dibangun pesantren Abah," ucapku sambil melihat gedung MTs yang belum jadi. Abah hanya tersenyum sambil menjawab, "Sing penting awakmu gelem tinggal di sini." (Yang penting, kamunya mau tinggal di sini).

Abah Ali, disamping mengajar anak-anak beliau juga mengajar kepada masyakarat sekitar. Maka tak heran beliau begitu dekat di hati masyakarat di Timika. Keramahan serta tutur bahasa yang lembut mampu meluluhkan hati-hati manusia yang keras. Kalimat yang keluar dari mulut beliau penuh dengan hikmah ilmu. Itulah yang bisa saya rasakan walaupun baru sekali ini bertemu Abah Ali.

Selepas Isya, kami bersama Ust. Taufiq seorang santri dari Abah Ali, kami disambut dengan penuh hangat oleh keluarga Abah Ali. Dengan penuh keceriaan beliau mulai bercerita tentang perjalanannya smasa di pesantren hingga menjadi seorang pengusaha sukses di Timika. Dalam obrolan itu beliau juga mengatakan sangat merasa menyesal telah menemui kami. "Saya menyesal mengapa baru menemui aktifis NU seperti kalian hari ini. Tidak jauh-jauh hari," ujarnya.

Dan berulangkali beliau mengatakan kepada kami, agar kami mau singgah untuk beberapa bulan di Timika. Dalam obrolan malam itu juga diputuskan kami akan melakukan kerjasama dalam bidang Pendidikan dan Dakwah di Timika. Tentu kerjasama ini melibatkan PPM ASWAJA dan SARKUB. Dalam waktu dekat beliau memita pada saya agar dikirimkan aktifis NU untuk membantu perjuangan beliau di Timika. Malam semakin larut, melihat wajah kami yang cukup kelelahan beliaupun mempersilakan kami untuk istirahat.

Pagi hari kami pindah dari kediaman beliau menuju yayasan. Ternyata di sana kami sudah disiapkan sebuah rumah untuk beristirahat sambil menunggu mendapatkan tiket menuju ke Pulau Asmat. Alhamdulillah. Terimakasih Abah Kyai Ali. Jazakumullah ahsanal jaza.

Entah sudah berapa banyak kejadian-kejadian seperti ini. Sebuah keberkahan yang sering saya alami di berbagai daerah di Papua. Keberkahan dari sedikit ikut serta dan aktif membantu Nahdlatul Ulama (NU). Keberkahan yang memang bisa dilihat dengan kasat mata. Keberkahan yang tak lepas dari doa para ulama dan pendiri NU. Keberkahan yang memberikan ketenangan batin. Alhamdulillah.

Saya teringat pesan KH. Ridhwan Abdullah, penemu lambang NU, yang dawuh: "Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah ke batu nisanku." (Like fp Cahaya Dakwah Dari Timur. Sumber tulisan: Ust. Abdul Wahab, aktifis NU Papua dan Koordinator Sarkub Papua).


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News