Top News :
Home » » Independensi Auditor Syariah dan Auditor Eksternal

Independensi Auditor Syariah dan Auditor Eksternal

Posted on Friday, 13 November 2015 | garis 04:56



INDEPENDENSI AUDITOR SYARIAH DAN AUDITOR EKSTERNAL
(Resume dan Review Jurnal Internasional, The Independence of Religious and External Auditors: The Case of Islamic Banks, Rifaat Ahmed Abdel Karim, Faculty of Commerce, Economics and Political Science, Kuwait University, Kuwait) 

Pada dasarnya auditor independen diperlukan untuk memberikan tingkat kepercayaan pada sebuah laporan keuangan. Sehingga mampu meningkatkan kepercayaan bagi pengguna laporan keuangan. Pada penelitian tersebut penulis bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan independensi auditor syariah dengan auditor eksternal. 

Karakteristik Bank Syariah

Seluruh aktivitas transaksi keuangan diatur oleh syariah islam. Tomkins dan Karim (1987) menunjukkan bahwa aturan syariah islam mempengaruhi budaya bisnis dan menyoroti perbedaan antara praktik bisnis islam dengan barat. Syariah islam melarang adanya praktik riba (QS.Al-Baqarah:285), perjudian (QS.5:90), penimbunan (QS.9:34), spekulasi, dan juga larangan untuk investasi di sektor non-halal.

Selain itu, setiap bank islam juga mempunyai auditor syariah atau yang dikenal juga dengan istilah SSB (shari’a supervisory board). Tugas dan fungsi dari SSB adalah memastikan bahwa seluruh transaksi dan aktivitas operasional bank islam sudah sesuai dengan prinsip syariah islam. Brishton dan El Ashker (1987) menyebutkan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh auditor syariah seharusnya mencakup tiga area, yaitu ex ante audit yang merupakan pengawasan yang dilaksanakan sebelum produk diluncurkan (pra audit), ex post audit yang merupakan pengawasan pada saat produk digunakan atau dioperasikan (pasca audit), dan terakhir pengawasan perhitungan serta pembayaran zakat. 

Sifat Independensi Pada Auditor
Watt dan Zimmerman (1981) menyebutkan bahwa profesional merupakan sifat independensi seorang auditor. Salah satu bentuk profesionalitasnya bahwa auditor harus melaporkan setiap kesalahan atau pelanggaran serta mempunyai otoritas yang kuat untuk menolak adanya tekanan pengaruh dari klien. Mautz dan Sharaf (1961) mengidentifikasikan independensi menjadi dua, yaitu real independence dan apparance independence. Real independence adalah independensi auditor yang berkaitan dengan sudut pandang dirinya sendiri. Seperti sikap mental, karakter, kejujuran, dan juga kepatuhan terhadap kode etik auditor. Sedangkan apparance independence merupakan independensi auditor yang berkaitan dengan hubungan auditor dengan manajemen. 

Insentif Auditor bagi Independensi 

Independensi mengacu pada hubungan antara auditor dan manajemen. Auditor yang mandiri (independen) seharusnya menahan diri atas setiap upaya yang dilakukan untuk mempengaruhinya ketika menemukan pelanggaran. Auditor yang mandiri akan lebih dihargai oleh investor (Moizer, 1985). 

Penulis menyebutkan bahwa auditor syariah hanya memiliki sedikit persepsi mengenai keuntungan yang diperoleh, karena ia mempunyai komitmen terhadap ajaran islam. Bagi mereka, biaya moral yang timbul akibat kegagalan menjaga hukum sesuai syariah islam adalah jauh lebih besar dibandingkan kerugian atas pendapatan ekonomi. Sedangkan auditor eksternal cenderung harus bekerja keras untuk mengatasi persepsi bahwa keuntungan adalah unsur utama dan paling penting.

Moizer (1985) mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi independensi auditor sehingga ia dipandang sebagai sesorang dengan ekonomi yang rasional. Pertama, nilai ekonomis auditor akan hilang jika manajemen perusahaan terganggu oleh auditor.Kedua, kemungkinan bahwa klien akan melepaskan jasa auditor jika ia mengungkapkan pelanggaran manajemen. Ketiga, hilangnya penerimaan dimuka sebagai akibat hilangnya reputasi yang dialami ketika membuat kesalahan publik 

Independensi Auditor Syariah dan Auditor Eksternal 

Dalam jurnal tersebut, penulis menerangkan bahwa terdapat beberapa persamaan antara auditor syariah dengan auditor eksternal. Yaitu keduangan memeriksa transaksi yang dilakukan dibawah manajemen bank, keduanya memberikan laporan kepda pemilik bisnis, dan keduanya melaporkan apakah laporan keuangan sudah merepresentasikan operasional organisasi. Auditor syariah memberikan pernyataan apakah aktivitas bank yang tercermin pada laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip syariah, sedangkan auditor eksternal memberikan pernyataan bahwa laporan keuangan sudah sesuai dengan kondisi keuangan bank serta merepresentasikan aktivitasnya. 

Auditor eksternal diatur oleh hukum dan kode etik. Sedangkan auditor syariah diatur oleh moral yang sesuai dengan prinsip islam dan juga kewajiban terhadap rekan-rekan kerjanya. Sehingga dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, ia tidak hanya mengambil sampel sebagai pengujian layaknya auditor eksternal. Namun auditor syariah harus memastikan bahwa seluruh transaksi telah dijalankan sesuai dengan prinsip syariah. Selain itu auditor syariah lebih fokus pada komitmen dan ketaatan suatu institusi terhadap nilai-nilai islam.

Sebagai penutup, Rifaat Ahmed Abdel Karim berpendapat bahwa independensi auditor syariah dan auditor eksternal keduanya sangat dibutuhkan untuk memastikan kredibilitas laporan keuangan. Sehingga dalam menjalankan tugas dan fungsinya mereka harus bekerjasama serta saling melengkapi satu sama lain. Penulis berharap penelitiannya bisa memperluas konsep umum independensi auditor dan juga memberikan pengetahuan tentang auditor internasional. Ia juga menyarankan adanya penelitian terkait yang menguraikan hubungan antara auditor syariah dan auditor eksternal dari beberapa perspektif.
Penulis : Nur Khayati
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Depok

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News