Top News :
Home » » Ini Fitnah Dari Situs Voa-Islam yang Menyebabkan Dilaporkan ke Polisi

Ini Fitnah Dari Situs Voa-Islam yang Menyebabkan Dilaporkan ke Polisi

Posted on Friday, 20 November 2015 | garis 15:40

Muslimedianews.com ~ Situs Voa-Islam, website yang dikelola oleh orang-orang Wahhabi dilaporkan kepada pihak berwajib karena telah melakukan penceramaran nama baik oleh umat Islam di Jawa Barat.

Baca: Situs Wahabi Voa-Islam Dilaporkan ke Polisi karena Cemarkan Nama Gus Dur.

Berikut ini beberapa fitnah dan alasan yang menyebabkan situs Wahab itu diajukan sebagai pencemaran nama baik kepada pihak kepolisian. Ada beberapa petikan kalimat yang mengarah kepada tidak pelecehan sebagaimana dijelaskan oleh pihak pelapor yang termuat dalam link tulisan berjudul "Rizal Ramli : Gus Dur Itu Wali yang Kesepuluh? Senin, 2 Safar 1437 H / 9 November 2015 16:08 wib" dan "Wahai Muslim! Belajarlah Dengan Akhir Hidup Gus Dur Sesudah di Baptis. Rabu, 4 Safar 1437 H / 25 Desember 2013 18:43 wib".

1. Voa-Islam menuliskan : "Abdurrahman alias si-Dur itu" :

Penulis kata si-Dur ini adalah opini tendensius yang sengaja merendahkan martabat seseorang. Dengan memakai kata si, ada kesengajaan untuk merendahkan sosok KH.Abdurrahman Wahid karena selain mengklaim dengan kata “alias” dengan memilih ungkapan yang tidak lazim (si) tersebut digunakan, juga penggunaan kata “si” ini tidak pantas digunakan untuk seorang mantan Presiden, tokoh agama, dan pemuka masyarakat.

2. Voa-Islam menuliskan : "Durahman itu doyan duit":


Penggunaan doyan duit konotasinya untuk mengatakan bahwa KH Abdurrahman Wahid tersebut merupakan orang yang mata duitan atau materalis. Kami sangat tidak bisa menerima penggunaan kata ini karena melecehkan dan jika dihubungkan dengan kalimat lanjutan “Makanya, dilengserkan oleh MPR” juga tidak terkait, sebab penjatuhan KH Abdurrahman Wahid dari Kursi Kepresidenan lebih disebabkan karena masalah politik dan dua kasus yang disebut, yaitu “Bulog-Gate” dan “Brunei-Gate” tidak terbukti secara hukum.

3. Voa-Islam menuliskan : "Konon kantor PBNU, di Jalan Kramat itu, juga tak lepas dari sumbangan dari para “taoke” Cina":

Kalimat ini secara utuh sekalipun memakai awalan konon dan dalam konteks penulisan opini tetap memiliki dimensi kesengajaan yang luar biasa vulgar untuk merendahkan KH Abdurrahman Wahid dan organisasi Nahdlatul Ulama. Logikanya, jika itu opini ditulis oleh seorang penulis, maka bagian redaktur mestinya mempertimbangkan kalimat itu yang mengedepankan fakta. Jika ini dimaksud sebagai berita, maka semestinya harus ada verifikasi terlebih dahulu sebelum menulisnya kalimat tersebut.

4. Voa-Islam menuliskan : "Kerjanya Durahman mencari “wangsit” di makam-makam wali" :

Penggunaan kata mencari “Wangsit” sekalipun dengan tanda kutip adalah sebuah pelecehan karena tradisi ziarah kubur dalam kultur Nahdlatul Ulama bukan mencari wangsit yang maknanya adalah mistik dan berdimensi penyekutuan terhadap Tuhan. Ziarah kubur adalah bagian dari tradisi kegiatan ritual-sosial di masyarakat dan tidak sepantasnya urusan tujuan personal itu dikemukakan tanpa mengutip pendapat langsung dari pelaku (KH Abdurrahman Wahid). Kata “Wangsit” sekalipun dengan tanda kutip tetap tidak mengubah makna lain kecuali makna literal dari wangsit itu sendiri. Dengan kata lain sengaja digunakan untuk memberikan cap negatif. Demikian juga dengan penggunaan kata minta “petunjuk” (“Durahman rajin berkeliling ke makam-makam wali. Minta “petunjuk” agar selamat). Ini merupakan opini yang tendensius dan bias makna. Sekalipun kata wangsit dan petunjuk yang digunakan memakai tanda petik, tetapi tidak mampu mengubah pemaknaan karena tidak ada tafsir lain kecuali kesenggajaan melecehkan sosok KH Abdurrahman Wahid.

5. Voa-Islam menuliskan : "Mungkin yang selalu mengenang Durahman sebagai “pahlawan” hanya "taoke" Cina, warga Cina, dan kalangan sekuler, pluralis, liberal, dan mungkin pengikut atheis termasuk Goenawan Muhamad. Tidak ada yang lain":

Opini ini ditulis tidak memperlihatkan nalar yang objektif melainkan sengaja untuk mendiskreditkan. Selain itu juga mendiskreditkan etnis Tionghoa/China, termasuk tuduhan Ateis kepada Goenawan Mohammad.

6. Voa-Islam menuliskan : "Durahman pula yang pernah melukai  hati umat Islam, dan mengatakan al-Qur'an, sebagi kitab suci yang paling “porno”":

Perkataan ini tidak akurat dan penuh fitnah. Sebab isu ini dulu sudah diklarifikasi bahwa ada penulisan yang bias tentang ucapan KH Abdurrahman Wahid. Dulu yang dikatakan KH Abdurrahman Wahid adalah, seandainya kata alat kelamin itu dianggap porno, maka al-Quran bisa disebut kitab porno. Penghilangan kalimat secara utuh dari pembicara (KH Abdurrahman Wahid) kemudian sering digunakan kelompok-kelompok semacama Voa-Islam untuk mendiskreditkan KH Abdurrahman Wahid.

7. Voa-Islam menuliskan : "Jombang yang disebut oleh Rizal Ramli, memang telah melahirkan tokoh setipe, seperti Abdurrhman Wahid, Nurcholis Madjid, dan MH.Ainun Najib:

Dengan membangun kesan bahwa sosok KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh yang buruk melalui tulisan tersebut--kemudian dalam tulisan berlanjut dengan penyantuman nama-nama tokoh lain-- jelas ingin mengatakan bahwa Jombang merupakan merupakan daerah yang melahirkan tokoh-tokoh buruk (setipe). Apa yang disebut Rizal Ramli berbeda dengan maksud oleh tulisan tersebut. Muatan kata kedaerahan tersebut merupakan bagian dari isu sara.

TAMBAHAN :

Selain pengajuan permasalahan tulisan di atas, selanjutnya pihak pelapor juga menemukan tulisan lain yang sangat melecehkan dan bahkan berupa penghinaan secara terbuka dari Voa-Islam terkait dengan KH Abdurrahman Wahid. Di dalam tulisan utuh (sebagaimana dilaman) secara umum isinya memang bertujuan untuk melecehkan KH Abdurrahman Wahid.

Ada satu kalimat yang begitu vulgar untuk menjadi perhatian etika pers dan juga hukum terkait dengan sebuah kalimat berikut ini:

Voa Islam menuliskan : "Seluruh dunia bersorak gembira ketika Gus Dur meninggal! Seakan kesan yang tercipta bahwa Dunia teramat senang dengan matinya Gus Dur, manusia paling hina di muka bumi ini."

Menuliskan kalimat manusia paling hina di muka bumi ini merupakan satu kesengajaan membangun opini tendensius dengan target menghinakan KH. Abdurrahman Wahid. Penggunaan kata hina itu sendiri tidak ada maksud lain kecuali untuk maksud menghinakan.


Red. Ibnu L' RabassaBerdasarkan siaran pres dengan No: 02/Laporan/11/2015
Perihal: Siaran Pers Tentang Laporan Pencemaran Nama Baik situs www.voa-islam.com


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News