Top News :
Home » , » Membaca Agenda Wahabi Membenturkan Sunni-Syiah di Indonesia

Membaca Agenda Wahabi Membenturkan Sunni-Syiah di Indonesia

Posted on Sunday, 1 November 2015 | garis 01:31


Muslimedianews.com ~ Terlalu simplistis, dan bahkan berbahaya, mengasosiasikan Sunni dengan faksi Mu'awiyah. Kepemimpinan Dinasti Umayyah banyak ditentang dan diingkari oleh ulama Sunni yang kita anut, seperti Imam Syafi’i. Hanya Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal dengan Umar II yang diapresiasi, selebihnya dianggap melenceng dari semangat Khulafa’ ar-Rasyidun.

Yang berkonflik saat ini sebenarnya adalah reinkarnasi Khawarij dengan faksi Syiah Ghulat. Yang pertama menggiring opini bahwa seluruh ekspresi kecintaan tehadap Ahlul Bait berarti Syiah. Yang kedua bilang Sunni adalah Dinasti Umayyah yang sejak Marwan bin Hakam mengharuskan khutbah Jum’at ditutup dengan kecaman tehadap Ahlul Bait. Jika klaim ini kita ikuti, kita masuk dalam perangkap opini dua kelompok ekstrim. Ini berbahaya.

Sekarang ini gampang orang dituduh Syiah hanya karena mengkritik Mu'awiyah dan memuji Ali. Padahal kenyataannya, para ulama Sunni yang dianut Nahdlatul Ulama lebih bersimpati dengan Ali ketimbang Mu'awiyah. Banyak garis ilmu dan ritual NU yang bersumber dari Ahlul Bait. Wirid-wirid dan hizib-hizib yang diamalkan para santri, tawassulnya selalu ke Ali. Karen itu, Gus Dur bilang, NU adalah Syiah minus Imamah.

Reinkarnasi Khawarij modern menjelma dalam kelompok Wahabi. Mereka coba rebut klaim bahwa Sunni adalah mereka. Karena itu, setuju dimassifkan sebutan Ahlussunnah wal Jam’ah an-Nahdliyah.

Kalau kita baca Robert Dreyfuss dalam Devil’s Game, Khawarij modern ini tumbuh dan berkembang karena support dan dukungan oleh AS dan Israel. Selama 60 tahun, sepanjang perang dingin, mereka di-support untuk melawan setan merah Uni Soviet. Miliaran dollar AS telah dikucurkan utk memupuk mereka melawan faksi sosialis dan nasionalis di Timur Tengah. CIA, MI-6, dan Shin-Bet secara aktif mendukung tokoh-tokoh Ikhwan di Mesir melawan Nasser yang sosialis-nasionalis. Ketika Ikhwan dilarang dan dikejar-kejar, Said Ramadan, menantu Hasan al-Banna, diterima oleh Eisenhower di ruang Oval Gedung Putih.

Di Arab Saudi, Ben Laden mendapat proyek rekonstruksi Haramain senilai setengah juta Dollar bantuan AS. Kelak Osama akan berangkat ke Afghanistan memimpin pasukan jihad melawan invasi Soviet. Pasukan Jihad ini sepenuhnya di-support, dilatih, dan didanai oleh operasi intelelijen CIA. CIA, melalui Kermit Rosevelt, juga memobilisasi kelompok Islam untuk menggulingkan Mossadegh yang nasionalis di Iran. Hal yang sama dilakukan CIA menggulingkan Soekarno di Indonesia melalui KUP, yang diganjar segera dengan penerbitan UU PMA No 1/ 1967. Di Palestina, Shin Bet secara aktif melatih Hamas melawan PLO. Hamas dibentuk oleh tokoh-tokoh Ikhwan cabang Palestina.

Sekenario yang lebih besar adalah plot benturan peradaban ala Bernard Lewis dan Huntington. Dua orang ini keterlaluan, menggebyah-uyah Islam dengan fundamentalisme. Maunya mereka, setelah Komunisme, musuh Barat ya Islam. Islam harus dicitrakan fundamentalis dan teroris agar bisa terjadi benturan. Islam harus diwakili oleh Afghani, Abduh, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Maududi, Said Ramadan, Yusuf Nada, Taqyuddin Nabhani, Nashiruddin al-Albani, Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, dll.

Karena itu, sekarang mereka mendanai ISIS, dibenturkan dengan Syiah, diproyeksikan menjadi proyek global. Islam moderat seperti NU, yang tidak mau dibenturkan, tidak diberi panggung, karena dapat menghambat skenario benturan. Kalau tidak percaya, kita tunggu bocoran dari Wikileaks, dana yang digelontorkan AS untuk membesarkan Islam fundamentalis jauh lebih besar ketimbang jumlah yang dikeluarkan untuk kampanye demokrasi, HAM, pluralisme, toleransi, dan tetek bengek-nya.

Tidak heran, begitu NU menggulirkan wacana Islam Nusantara, NU di-bully habis oleh kelompok Wahabi. Kenapa kita diserang? Sebab proposal NU jelas dapat mencegah skenario benturan. Maunya AS dan Wahabi, umat Islam dibenturkan, Sunni dengan Syiah, ekstrem dengan moderat sehingga dalam skenario benturan peradaban, Islam pasti keok karena sudah saling mengkafirkan sendiri.

Saudi, mbahe Wahabi, sekarang lagi ngambek sama AS karena dua hal. Pertama, AS sedang berbaikan dengan Iran. Jelas maunya Saudi merekalah proxy AS di Timteng. Mereka gak mau ‘dipoligami’ dengan Iran. Kedua, AS berhasil menggunakan teknologi rekah hidrolis untuk menggalakkan produksi migas. Namanya shale oil dan shale gas. Hasilnya, AS sekarang menjadi produsen minyak terbesar di dunia mengalahkan Saudi dan produsen gas terbesar di dunia mengalahkan Rusia. Dampaknya, serbuan migas Amrik akan mengancam pangsa pasar ekspor minyak Saudi. Saudi melawan, dengan cara menolak menurunkan kuota produksi OPEC. Akhirnya terjadilah over-supply, dan harga minyakpun jatuh.

Ini adalah perang harga. Kenapa? Biaya produksi shale oil AS masih tinggi, sekitar 77 (50-80) USD per barrel. Sedangkan biaya rata-rata produksi minyak Saudi dan OPEC hanya 10 (10-25) USD per barrel. Dengan harga minyak yang rendah, industri minyak AS akan gulung tikar. Saudi tinggal bilang: how long can you go? Ini adalah hukuman karena AS berpoligami dengan Iran. Kemarahan Saudi ini diglobalkan. Di dunia Islam, caranya menggiatkan permusuhan dengan Syiah.

Alhasil, saya melihat isu konflik Sunni-Syi’ah ini, termasuk di Indonesia, tidak terlepas dari dinamika hubungan AS dan Wahabisme-Ikhwanisne. Boleh dikata, Saudi lagi ngambek dengan Amrik karena mulai selingkuh dengan Iran. Karena itu, Syiah di seluruh dunia harus diteror. Bashir As’ad yang dianggap Syi’i Alawayin harus dihajar.

Alhasil, NU harus didukung untuk ambil peran kontra-benturan. Jangan sampai kader-kader NU malah ikut-ikutan memusuhi Syiah dengan gaya Wahabi, seperti yang sudah dilakukan NU Garis Lurus. Islam Nusantara harus menjadi imam, dan gagalkan perselingkungan AS-Wahabi menguasai dunia Islam. (Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Penulis buku Di Bawah Bendera Asing bia arrahmah.co.id).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News