Top News :
Home » , » Oman, Negara Ibadi Pecahan Sekte Khawarij tapi Damai

Oman, Negara Ibadi Pecahan Sekte Khawarij tapi Damai

Posted on Monday, 23 November 2015 | garis 19:47

Muslimedianews.com ~ Oman (عمان) atau Kesultanan Oman meerupakan sebuah negara Arab yang terletak di pantai tenggara Semenanjung Arab. Oman memegang posisi strategis yang penting di mulut Teluk Persia, berbatasan dengan Uni Emirat Arab di barat laut, Arab Saudi di barat, dan Yaman di barat daya, serta berbatasan laut dengan Iran dan Pakistan.

Dari akhir abad ke-17, Kesultanan Oman adalah sebuah kerajaan yang kuat, berlomba-lomba dengan Portugal dan Inggris untuk mendapat pengaruh di Teluk Persia dan Samudera Hindia. Puncaknya, pada abad ke-19, Oman menguasai dan mengontrol disepanjang Selat Hormuz yang kini disebut Iran dan Pakistan, dan selatan sejauh Zanzibar (sekarang bagian dari Tanzania).

Di abad ke-20, kesultanan Oman melemah hingga menjadi beradah di bawah pengaruh kuat Britania Raya, meskipun Oman secara resmi tidak pernah menjadi bagian Imperium Britania, tidak juga menjadi protektorat Britania.

Agama resmi Omana dalah Islam.  Oman pernah dikuasai oleh dinasti Al Said sejak tahun 1744, dan telah lama menjalin hubungan militer dan politik dengan Britania Raya, dan Amerika Serikat, meskipun Oman memelihara kebijakan luar negeri yang bebas.

Oman adalah sebuah monarki absolut,di mana Sultan Oman menjalankan kewenangan paripurna, meskipun demikian parlemen memiliki beberapa kekuasaan legislatif dan pengawasan.

Sultan Qaboos bin Said al Kata telah menjadi pemimpin turun-temurun dari negara itu sejak 1970. Sultan Qaboos adalah penguasa terlama di Timur Tengah.

Dalam "2010 Failed States Index – Interactive Map and Rankings", Oman adalah salah satu negara yang paling maju dan stabil di Dunia Arab. Padahal, Oman merupakan negara penganut sekter Ibadhiyah. Yaitu sebuah kelompok pecahan daripada Sekte Khawarij.

Oman, Negara Ibadiyah, Pecahan Sekte Khawarij Tapi Damai


Adzan Asar berkumandang, Khamis Ameer, dan anaknya mengajak saya shalat berjemaah. Seperti masayrakat pada umumnya, mereka adalah penganut Islam Ibadi. Dia dengan bangga menyatakan diri sebagai penganut paham yang juga dianut oleh Sulthan Qaaboos bin Said itu. "Karena paham inilah Oman bersatu", katanya.

Ketika shalat, mereka tak meletakkan kedua tangan ke depan dada, tapi membiarkan tangan bergelantung disamping badan, mirip aliran Syi'ah 12 Imam. Perbedaan lain, mereka tak mengucapkan "amin" setelah membaca surah Al-Fatihah. Pada shalat shubuh, tidak ada do'a qunut.

Aliran Islam Ibadi berkembang pesat ditanah kelahiran Khamies Ameer, desa Nizwa. Ibadi lahir sekitar tahun 650 M atau 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. "Ini paham yang kami anut sejak dulu", kata Khamis saat saya berkunjung kekediamannya.

Berbicara tentang islam Ibada sama dengan membuka kembali lembaran kitab-kitab telogi lama. Kitab Al Milal wa al-Nihal, karangan Imam As-Syahrestani sekitar 1145 M, membeberkan panjang lebar perihal berbagai sekte dan teologi didunia, termasuk Yahudi, Zoroaster, Kristen dan tentunya Islam.

"Aliran ini salah satu sempalan kelompok Khawarij, orang-orang yang tidak mengakui kekhalifahan Utsman bin Affan", tulis As-Syahrestani tentang Islam Ibadi. Kelompok ini dipimpin oleh Jabir bin Zaid. Meski begitu, Jabir menolak menghalalkan darah Utsman dan kelompok muslim lainnya yang memiliki pemikiran berbeda. Pemiiran tersebut berseberangan dengan Khawarij garis keras. Pada masa Dinasti umayyah, kekhalifahan setelah Ali bin Abi Thalib, kelompok pimpinan Jabir ini mendapat dukungan untuk menghadapi Khawarij garis keras.

Meski didirikan oleh Jabir bin Zaid, nama "Ibadi" diambil dari nama muridnya, Abdulah bin Ibadh at-Tamimi, teolog muslim yang hidup pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, khalifah ke-5 dinasti Umayyah. Dia jualah yang mendirikan sekolah teologi Ibadi. Hanya, Abdullah bin Ibadh tidak sehaluan dengan dinasti Umayyah. Kelompok ini akhirnya meninggalkan Bashrah, Irak.

Setelah Abdullah bin Ibadh  wafat, kelompok ini dipimpin oleh Abul Sha'tha Jabin bin Zayd al-Zahrani al-Azdi. pada masa itu Islam Ibadi berkembang di Oman, khususnya di Nizwa, dan meluas hingga Zanzibar, Tanzania, Libya, Tunisia dan Aljazair. Kini 75% penganut Ibadi ada di Oman, satu-satunya negara yang menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi.

Dalam beberapa aspek, Islam Ibadhi berbeda dengan aliran lain. Sumber hukum misalnya. Sementara Islam Sunni berdasarkan Al-Qur'an, Hadits, Ijma' dan Qiyas, sedangkan Islam Ibadhi hanya menggunakan tiga sumber hukum tanpa memasukkan unsur qiyas.

Dalam teologi, aliran Ibadhi banyak dipengaruhi oleh Muktazilah. Mereka berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilihat di akhirat, ini berlawanan dengan pemahaman kaum Sunni.  Kaum Ibadhi seseorang akan kekal di neraka, muslim sekalipun.

Meskipun banyak mengekor ke Muktazilah. Ibadhi termasuk aliran Islam moderat. Itu terlihat dari cara pandang mereka terhadap permusuhan antara Sunni-Syi'ah. "Menurut Ibadhi, tak ada kelompok yang berhak mengklaim paling benar, karena hanya Allah yang berhak menjadi hakim", tulis Van Jon Hoffman dalam buku The Essentials of Ibadi Islam.

Ibnu ManshurSumber https://en.wikipedia.org/wiki/Oman dan tulisan Amri Mahbub

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News