Top News :
Home » , » Sketsa Hadits di Nusantara

Sketsa Hadits di Nusantara

Posted on Friday, 13 November 2015 | garis 16:07

Muslimedianews.com ~ Sebagian orang mengatakan bahwa para saudagar Arab yang berdagang ke Nusantara tidak murni untuk berdakwah, namun pada kenyataannya telah terjadi spiriual interaction atau interaksi kebatinan antara para saudagar Timur Tengah dengan penduduk asli pribumi. Oleh karenanya, memang tidak dapat dipungkiri telah ada sebagian da’i dari Timur yang memang datang ke pribumi berniat untuk berdakwah. Hal ini bisa dibuktikan dengan terjadinya perkawinan antara saudagar Arab dengan pribumi hingga menjadikan masyarakat pribumi memeluk Islam sekaligus berketurunan Islam. Masuk dan diterimanya Islam untuk menapakkan kakinya di bumi Nusantara ini dalam teori terakhir telah ada sejak abad ke-VII M. Dan proses islamisasi dilakukan pada abad ke-XIII M. Hal ini tentunya memberi ruang yang cukup beruntung bagi para da’i untuk menyebarluaskan Islam ke seluruh pelosok Nusantara.

Masuknya Hadis
Makkah dan Madinah, juga dunia Islam secara umum, telah hadir dalam pikiran penduduk Nusantara sebelum mereka memeluk Islam. Perdagangan internasional telah membawa nusatara kontak dengan Timur Tengah. Bahkan sumber-sumber Arab menyebutkan dua surat-menyurat antara raja kerajaan pra-Islam, Sriwijaya, Sri Indrawarman, dengan Khalifah Dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz (717-720). Berdasarkan penelitian Fatimi, dua surat ini memberikan bukti kuat tentang kontak awal antara Nusantara dengan Timur Tengah. Di dalam surat-surat itu, seraya menyatakan dirinya sebagai “Raja Nusantara” (the King of al-Hind), raja Sriwijaya menyapa Umar bin Abdul Aziz sebagai “raja Arab”, menjelaskan fakta bahwa raja tersebut telah akrab dengan Arab. (Jajat Burhanudin, 2012: 29)
 Ini merupakan salah satu indikasi adanya interaksi Islam dengan Hindi (Sriwijaya). Dimana jika melihat sekilas, tampaknya Raja Sriwijaya berkeinginan kuat untuk mengetahui sekaligus mempelajari Islam lebih dalam dari bangsa Arab pada waktu itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai sosok umara sekaligus ulama yang sangat menitik beratkan pada tadwin al-hadis, hingga terjadinya pengumpulan dan pembukuan hadis besar-besaran pada saat itu. Artinya, ketika masa Umar bin Abdul Aziz banyak pula terdapat ulama-ulama hadis. Sehingga dimungkinkan sekali ia juga mengirimkan ulama yang mempunyai ilmu di bidang hadis yang diakui kredibilitasnya ke Nusantara khususnya Sriwijaya. Walaupun dalam literatur sejarah belum dipastikan siapa yang dikirim sang khalifah untuk mengajarkan Islam di Sriwijaya (Nusantara).

Selanjutnya, dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam setelah abad ke-XIII M, seperti Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Kerajaan Malaka dan Kerajaan Demak di Jawa menjadikan hubungan Nusantara dengan Timur Tengah semakin mapan. Kehadiran ulama dari Timur Tengah dan dunia Islam yang lebih besar, khususnya Makkah, merupakan langkah penting dalam memperkenalkan Islam ke Nusantara. Dengan demikian perkenalan hadis ke Nusantara pun mempunyai indikasi yang signifikan. Sebab hadis tidak bisa dinafikan dari perkataan-perkataan para da’i. Walaupun boleh jadi pengkajian terhadap hadis secara formal pada waktu itu belum begitu terlihat atau menonjol seperti sekarang.

Hubungan Nusantara dengan Timur Tengah menjadi lebih kuat di Kerajaan Aceh pada abad ke-XVII. Hubungan ini dibuktikan dengan terbentuknya sebuah jaringan ulama, yang kemudian membuat Makkah memainkan peranan penting dalam diskursus intelektual di Nusantara pada periode tersebut. Ulama-ulama terkenal pada periode tersebut antara lain, al-Raniri (1608), Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693) dan Yusuf al-Maqassari (1627-1699), belajar di Makkah. Mereka membentuk “lingkaran komunitas Jawi” (ashab al-jawiyyin) dengan ulama Makkah yang mengajar mereka, dan kemudian bertanggung jawab dalam mendiseminasikan pemikiran Islam yang berkembang di Makkah masa itu, neo-sufisme, ke Nusantaraan. Ulama-ulama yang disebutkan diatas menjadikan kerajaan sebagai tempat untuk melaksanakan misi pembaruan mereka. Al-Raniri dan al-Sinkili berkarier di Kerajaan Aceh, sementara al-Maqassari yang lahir di Sulawesi Selatan, membangun karier di Kerajaan Banten, Jawa Barat. (Jajat Burhanudin, 2012: 31)

 Selain Aceh, di Jawa bagian Selatan yang kala itu dikuasai oleh Mataram Islam juga sudah melakukan interaksi dengan ulama-ulama dari Timur Tengah, Gujarat maupun Maghribi. Dalam tulisan sederhana saya tentang Jejak Sang Wali Urut Sewu (2015:19), ulama dan umara Timur Tengah (Gujarat, India, Maghribi) telah melakukan interaksi dengan Jawa mulai abad ke-XVII. Ini dibuktikan dengan ditemukannya makam-makam tua sekitar abad ke XV-XVII, yakni makam para Syarif, Sayyid, dan Syekh yang berada di sepanjang pesisir Pantai Selatan Jawa seperti Banten, Kebumen dan Yogyakarta.

Setelah dibukanya terusan Zuez di Mesir pada abad ke-XIX dan perhubungan Indonesia dengan Mekkah menjadi lebih cepat dengan adanya kapal api. Merupakan langkah beruntung bagi ulama-ulama Nusantara untuk pergi haji sekaligus menuntut ilmu ke Mekkah. Disana mereka berkenalan dengan fikiran-fikiran masa itu ditanah Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Demikianlah sebagaimana ditulis Imam Munawwir dikaryanya Kebangkitan Islam dari masa Kemasa (1980: 244). Sehingga dalam studinya tersebut, para ulama menghasilkan beberapa buah karya dalam berbagai bidang keilmuan intelektual Islam seperti ilmu al-Qur’an dan tafsir, hadis dan ulumul hadis, fiqh dan ushul fiqh, tasawuf dan lain sebagainya. Ulama Nusantara yang patut dihargai sebagai “ulama tak berkeringat“ salah satunya adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Karena warisan intelektual yang didapat dari Syekh Nawawi lah, mulai dapat menyebabkan berkembangnya intelektualitas Islam di Nusantara.

Ulama Hadis

Dalam bidang hadis khususnya, Muhammad Mustaqim Mohd Zarif dalam tulisannya Penulisan Karya Hadis Nusantara Abad Ke-19 mengungkap, terdapat dua buah karya utama yang dihasilkan di akhir pertengahan kedua abad ini yaitu Tanqih al-Qawl al-Hadits oleh Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani (w. 1314H/1897M) dan al-Jawhar al-Mawhub oleh Syekh Wan Ali Kutan al-Kalantani (w. 1331H/1913M). Keduanya merupakan syarah atas karya bertajuk Lubab al-Hadits karangan Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911H/1505M). Kitab ini ditulis oleh dua orang ulama Nusantara tersebut yang berdomisili di Mekkah dan hidup pada kurun waktu yang sama. Karya-karya hadis ulama ini juga amat berpengaruh dalam kalangan masyarakat Nusantara dan masih digunakan sebagai teks pengajian agama hingga kini.
Reputasi Syekh Nawawi al-Bantani dalam bidang keilmuwan di dunia Islam, khususnya hadis sudah tidak diragukan lagi. Kepiawaiannya dalam keilmuan bahkan membuatnya menjadi salah satu dari beberapa imam Masjidil Haram pada saat itu setelah ditunjuk oleh pemerintah Saudi untuk menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas yang telah wafat. Tidak hanya di Kota Makkah dan Madinah beliau dikenal, bahkan di negeri Mesir nama beliau masyhur pula. (Rosihon Anwar: 2014).

Nama Syekh Nawawi al-Bantani sangat terkenal di Arab Saudi hingga dijuluki "Sayyidul Hijaz", yakni tokoh ulama di kawasan Hijaz. Kontribusi beliau dalam tradisi keilmuan dunia bisa dilihat hingga sekarang. Syekh Imam Nawawi al-Bantani memberi sumbangsih ilmu keagamaan melalui karya-karyanya yang luar biasa dalam ilmu tafsir, tasawuf, fikih, tauhid, dan hadis yang tidak kurang sekitar 115 kitab yang telah ia tulis. Dan hingga saat ini kitab-kitab tersebut masih menjadi bahan kajian dan rujukan di berbagai dunia Islam.

Hadis di Indonesia

Kajian hadis di Indonesia, pada awalnya lebih mengacu kepada kitab-kitab hadis fiqhi, ini terjadi sekitar sebelum tahun 1950-an. Dapat dibuktikan ketika kajian-kajian hadis oleh tokohnya langsung yakni KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Jombang, yang pada saat itu masih mengkaji hadis yang bercampur dengan kajian-kajian hukum fikih. Bahkan sampai sekarang pun pengkajian fikih masih sangat kental di pesantren Jombang pada khususnya dan pesantren-pesantren salaf di Indonesia secara umumnya.

Kemudian, hadis baru berkembang dan memisah dari kajian fikih sekitar tahun 1970-an. Ini dibuktikan dari banyaknya ulama dan intelek-intelektual Indonesia yang telah menyelesaikan studinya dalam bidang hadis di Timur Tengah. Beridirnya PTAI (IAIN, UIN dan STAIN) khususnya dalam jurusan Tafsir Hadis juga membuktikan bahwa saat itu kajian hadis di Indonesia telah digalakkan. Walaupun itu terjadi di sekolah-sekolah Islam formal, namun guru atau dosennya juga tidak kalah kealimannya. Dosen pengajar hadis dan ilmu hadis pada waktu itu hingga sekarang mayoritas juga seorang ulama-akademisi; minimal keturunan tokoh agama. Artinya bukan sembarangan dosen yang mengajar bidang keilmuan yang satu ini “hadis”.

Baru pada tahun 1990-an hingga sekarang kajian terhadap hadis dan ilmunya semakin berkembang. Adanya kritik matan dan sanad dalam hadis, hermeneutika dan ma’anil hadis (yang ngetren pada abad ke-XXI atau tahun 2000-an keatas), ini membuktikan bahwa kajian hadis di Indonesia setiap tahun semakin maju dan berkembang. Dan semua itu sekali lagi tidak akan terwujud jikalau tidak ada embrio kajian hadis baik yang tertuang dalam bentuk tulisan maupun pemikiran dari para ulama hadis Nusantara seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Mahfudz al-Tirmasi dan Abd al-Rauf al-Sinkili. Disamping memang adanya jiwa yang berkobar dari para ulama Nusantara untuk terus studi ilmu keislaman, kita juga patut berterimakasih kepada ulama-ulama asli Haramain seperti Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki (ulama abad XX-XXI) yang telah melahirkan tokoh-tokoh ahli dalam bidang hadis, fikih, tafsir, dan tasawuf yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Kontribusi
Semangat yang bisa di ambil dari Syekh Imam Nawawi al-Bantani dalam konteks kekinian adalah semangat keilmuannya yang sangat besar dan pemahaman ilmu agamanya yang mendalam. Nawawi al-Jawi merupakan sosok yang dapat mengakomodasi pemikiran-pemikiran ulama besar salaf dan menggabungkan dengan tradisi pemikiran keilmuan saat ini yang terus berkembang. Kalau ini dilihat, Syekh Nawawi mengajak kita untuk banyak melibatkan rasio dalam setiap karyanya. Dan itu menjadi sumbangsih pemikiran Islam yang luar biasa hingga saat ini. (Rosihon Anwar: 2014).

Kontribusinya dalam menggalakkan pengajaran hadis di Haramain, telah mengibarkan semangat keilmuan para ulama dan santri-santrinya di Nusantara. Sehingga mulai abad ke XIX hingga kini kajian hadis di Indonesia bisa tetap eksis, bahkan berkembang.

Oleh sebab itu, banyak diantara kalangan yang menduga bahkan berani memberikan fatwa bahwa Nawawi al-Bantani lah embrio ulama-intelek yang mengguncang Nusantara, khususunya dengan karya-karyanya. Disamping ia seorang yang terpandang di masyarakat Jawa Barat (keturunan Raja), ia juga berhasil mengenakan jubah kebesarannya sebagai ulama berintelektual yang mendorong ulama-ulama lain untuk mencontoh keuletannya.

Penulis :Abdul Aziz Muslih,
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan Ketua Ikatan Mahasiswa Kebumen Institut Agama Islam Negeri Surakarta.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News