Top News :
Home » , » Skisma Keagamaan dan Penyebabnya dalam Perspektif Prof. DR. Habib Abdullah Baharun, MA

Skisma Keagamaan dan Penyebabnya dalam Perspektif Prof. DR. Habib Abdullah Baharun, MA

Posted on Wednesday, 11 November 2015 | garis 20:35


Skisma Keagamaan dan Penyebabnya dalam Perspektif Prof. DR. Habib Abdullah Baharun, MA
Oleh: M. Hasani Mubarok

Alhamdulillah, akhirnya rektor universitas al-Ahqaf yaman Prof. DR. al-Habib Abdullah Baharun, M.A untuk pertama kalinya hadir di bumi khatulistiwa kota Pontianak. Dalam rangka tour dakwah beliau pada tahun ini. Banyak majlis dan pengajian yang beliau hadiri dalam rangka memberikan bimbingan kepada umat Islam terutama yang ada di kota ini. Menariknya lagi, tour beliau kali ini berbarengan dengan agenda tahunan yang juga di adakan oleh salah satu ormas Islam yakni Front Pembela Islam di bawah pimpinan imam besar al-Habib Rizieq Syihab. Agak sedikit di sayangkan, karna penulis hanya bisa mengikuti sekali dari beberapa majlis yang beliau hadiri. Oleh karena itu terasa sia-sia apabila ilmu yang di dapat dari ulama Yaman ini harus hilang di telan angin, maka penulis ingin menuangkannya dalam beberapa baris tulisan berikut. Kebetulan penulis sendiri waktu itu menjadi salah seorang yang mendapat kesempatan langsung untuk bertanya. Dan Alhamdulillah dengan bekal bahasa Arab yang standar dan cukup makan, penulis dapat mengeluarkan sedikit kegelisahan intelektual yang selama ini mungkin belum sempat tereksplorasi. Apalagi tema yang diangkat adalah “menyikapi perbedaan dalam Islam” . judulnya tidak persis seperti itu, tapi paling tidak itulah yang menjadi direct point dalam seminar kemarin. 

Ada dua point yang saya tanyakan dalam kesempatan itu, namun yang ingin penulis angkat pertama disini adalah pertanyaan pertama yakni : 

Sebab ontologis terjadinya skisma keagamaan dalam Islam

Dalam ceramah yang oleh beliau sampaikan, dinyatakan bahwa Hidayah adalah sesuatu yang sudah jelas termaktub di dalam al-Quran dan Hadist. penulis bertanya, Kalaulah hidayah dan kebenaran itu sudah jelasnya adanya, lantas kenapa terjadi perbedaan dalam memahaminya ?. begitulah kiranya kesimpulan pertanyaan yang sempat penulis ajukan. Beliau menjawab dengan bahasa Arab secara langsung. Beliau menjawab, perbedaan yang terjadi dalam menangkap sebuah nilai kebenaran adalah di karenakan hawa nafsu (ittiba’ul hawa) yang membuat sebuah kebenaran yang sudah jelas secara esensi harus samar ketika di tangkap dan di pahami oleh seseorang. 

Jawaban yang beliau sampaikan ini sudah sangat tepat dan merupakan sebuah pembacaan komprehnsif dalam membaca realitas skisma keagamaan yang sedang berkembang di era Islam saat ini. Kalau kita lihat fakta empiris di lapangan maka sangat jelas skisma keagamaan yang berkembang memang sangat bervariasi. Ada yang paling kanan sampai yang paling kiri serta yang memantapkan diri sebagai Islam moderat juga ada di dalamnya. Walaupun yang mengaku diri sebagai pemahaman Islam yang moderat tak jarang terjebak dalam satu pendulum dua kutub keberagamaan ini. Jawaban diplomatis padat dan penuh makna dari Habib Abdullah menunjukkan kedalaman Ilmu yang beliau miliki. Semoga Allah kembali memperkenankan beliau untuk memberikan siraman rohani untuk seluruh umat Islam khususnya di Indonesia. 

Dua kutub ekstrim dalam fakta keberagamaan yang terjadi dalam Islam ini memang telah menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Di Indonesia sendiri kali ini sedang mengalami himpitan kuat dari dua terminology ini. Gerakan Islam kanan dalam Islam di Indonesia sendiri  terwakili oleh gerakan garis ekstrim yang sudah merebak. Baik keras dalam segi doktrin atau kekerasan ideologis, atau kekerasan dalam tindak laku radikalis. Semua gerakan kanansentris ini telah memberikan sumbangsih atas memudarnya makna Islam yang toleran dan penuh keakraban di Indonesia sendiri harus di tukar dengan wajah sangar dan beringas. Gerakan kutub ekstrim kanan ini di tandai dengan salah satu ciri-ciri : yakni sangat mudah dalam mengkafirkan sesama muslim. Gerakan ini tidak sungkan memberi label kafir, murtad, syirik dan sebagainya kepada siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka. Kalau kita baca sejarah, orang yang pertama kali sibuk dengan mengkafirkan sesama muslim ini adalah buyutnya orang Wahabi yakni Muhammad Bin Abdul Wahhab. Dialah orang pertama yang memusyrikkan mayoritas Ulama dan mengatakan mereka sebagai pengikut ajaran Amr bin Lahy.  sedangkan tauhid yang dianggap paling benar adalah miliknya sendiri dengan versi sendiri pula. Gerakan garis keras ideologis/atau fisikal ini sebenarnya tidak pernah ada presedensi idealnya di dalam ajaran di era formatif kecuali gerakan khawarij. Sebuah gerakan yang di huni oleh barisan lascar sakit hati dan sebagai wujud pembrontakan. Mereka membentuk barisan yang solid dalam rangka mengkafirkan para sahabat-sahabat mulya Nabi yang hidup dan berkecimpung dalam perpolitikan pada saat itu. 

Ciri-ciri kedua dari aliran garis keras ini adalah monopoli mereka terhadap sebuah konsep dalam doktrin agama. Mereka menahbiskan diri sebagai golongan yang paling benar dalam memahami al-Quran dan Hadist serta ajaran Ulama. Akibatnya merekapun dengan mudah memperkosa pemahaman orang lain dan dianggap sesat. padahal Banyak sekali hadist yang melarang seseorang untuk mengkafirkan sesama muslim namun mereka tidak pernah mengindahkannya. Berikut salah satu Hadist yang di riwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Kabir, sebuah Hadist yang bersumber dari Sahabat Abdullah Bin Umar dengan sanad yang baik. 

كفوا عن اهل لااله الاالله لاتكفروهم بذنب وفي رواية لاتخرجوهم من الاسلام بعمل

“tahanlah diri kalian dari ahli La Ilaha Illa Allah (jangan menyerang mereka), dan janganlah kafirkan mereka gara sebuah dosa-dalam salah satu riwayat- janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam gara sebuah amal (perbuatan). 

Ciri-ciri selanjutnya adalah pemahaman literalsentris terhadap ayat dan doktrin keagamaan. Dengan pemahaman literal tertutup ini mereka menolak segala bentuk penafsiran yang berorientasi lebih luas demi mancapai makna baru yang lebih baik. Bahkan pemahaman seperti ini mereka sebagai sebuah pemahaman yang di ilhami oleh padangan orag kafir dan tidak di sahkan dalam Islam. Salah satu contoh yang bisa diketengahkan adalah pemahaman mereka terhadap makna Jihad. Kalau ulama yang memiliki padangan lebih progresif dan luas terhadap Islam, memahami konteks jihad di era modern ini harus di rekonstruksi. Kalau untuk Negara Indonesia maka makna jihad yang paling relevan demi menjaga stabilitas Negara kesatuan dan mendorong kemajuan adalah jihad intelektual. Beda halnya jika terma jihad ini di kumandangkan di Negara Palestina yang tertindas oleh orang kafir, maka jihad harus di kembalikan kepada makna gerilya dan pertempuran. Bahkan dengan lihai mereka membalikkan kata bahwa wacana rekonstruksi makna jihad sebagai sebuah wacana yang di hembuskan oleh Barat untuk mengikis semangat jihad kaum Muslim di dunia. Tentu ini sebuah tuduhan yang tidak relevan dan tidak realistis. Karna di dalam Islam sendiri jihad bukanlah sekedar bermakna perang dan angkat senjata, bahkan Hadist masyhur tentang makna jihad yang sebenarnya adalah jihad melawan hawa nafsu. Bahkan ayat-ayat jihad di dalam al-Quran tidak semuanya bermakna angkat senjata. Berikut ini adalah beberapa ayat-ayat tentang jihad yang kadang-kadang di pakai oleh gerakan garis keras sebagai sebuah legitimasi gerakan kekerasan atas nama Islam. Berikut penafsiran ulama yang ternyata tidak sejalan dengan apa yang mereka pahami. 

1.ibn katsir

وقوله: { وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ } أي: بأموالكم وألسنتكم وأنفسكم، كما
 قال تعالى: { اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ }

2.Tafsir Alkassyaf

{ وجاهدوا } أمر بالغزو وبمجاهدة النفس والهوى وهو الجهاد الأكبر

3.tafsir sayyid thanthawi

وهى أنواع ، أعظمها : جهاد أعداء الله - تعالى - من الكفار والمنافقين والظالمين والمبتدعين فى دين الله - تعالى - ما ليس منه .
كذلك من أنواع الجهاد : جهاد النفس الأمارة بالسوء ، وجهاد الشيطان

4.tafsir ibn abbas

وَجَاهِدُوا فِي الله حَقَّ جِهَادِهِ } واعملوا لله حق عمله { هُوَ اجتباكم } اختاركم لدينه { وَمَا جَعَلَ عَلَيْكمْ فِي الدين } في أمر الدين { 
مِنْ حَرَجٍ } من ضيق ، يقول من لم يستطع أن يصلي قائماً فليصل قاعداً ومن لم يستطيع أن يصلي مضطجعاً يومىء إيماء

5.tafsir al-Qurthubi

قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَجاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهادِهِ) قِيلَ: عَنَى بِهِ جِهَادَ الْكُفَّارِ. وَقِيلَ: هُوَ إِشَارَةٌ إِلَى امْتِثَالِ جَمِيعِ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ، وَالِانْتِهَاءِ عَنْ كُلِّ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ، أَيْ جَاهِدُوا أَنْفُسَكُمْ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَرُدُّوهَا عَنِ الْهَوَى، وَجَاهِدُوا الشَّيْطَانَ فِي رَدِّ وَسْوَسَتِهِ، وَالظَّلَمَةَ فِي رَدِّ ظُلْمِهِمْ، وَالْكَافِرِينَ فِي رَدِّ كُفْرِهِمْ

6.tafsir al-Alusi

{ وجاهدوا فِى الله } أي لله تعالى أو في سبيله سبحانه ، والجهاد كما قال الراغب استفراغ الوسع في مدافعة العدو وهو ثلاثة أضرب . مجاهدة العدو الظاهر كالكفار . ومجاهدة الشيطان . ومجاهدة النفس وهي أكبر من مجاهدة العدو الظاهرة كما يشعر به ما أخرج البيهقي وغيره عن جابر قال : قدم على رسول الله صلى الله عليه وسلم قوم غزاة فقال : " قدمتم خير مقدم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قيل وما الجهاد الأكبر؟ قيل وما الجهاد الأكبر؟ قال : «مجاهدة العبد هواه “

7. tafsir assamarqandi

قوله عز وجل : { وجاهدوا فِى الله حَقَّ جهاده } ، يعني : اعملوا لله عز وجل حق عمله؛ ويقال : جاهدوا في طاعة الله عز وجل وطلب مرضاته؛ وقال الحسن : { حَقَّ جهاده } أن تؤدي جميع ما أمرك الله عز وجل به ، وتجتنب جميع ما نهاك الله عنه ، وأن تترك رغبة الدنيا لرهبة الآخرة

Surah al-Furqon 52

Ayat ini sering di gunakan oleh para pelaku pembrontak yang merasa tidak puas dengan pemerintahanya. Biasanya dilakukan karna sang pemimpin beda aliran sehingga mereka (fundamentalis-radikalis) menggap sang pemimpin kafir dan harus di perangi. Berikut pemahaman ulama mengenai ayat ini. 

Tafsir Al-biqo’i

فلا تطع الكافرين } فيما قصدوا من التفتير عن الدعاء به ، بما يبدونه من المقترحات أو يظهرون لك من المداهنة ، أو من القلق من صادع الإنذار ، ويخيلون أنك لو أقللت منه رجوا أن يوافقوك { وجاهدهم } أي بالدعاء { به } أي القرآن الذي تقدم التحديث عنه في { ولقد صرفناه } [ الفرقان : 5 ] بإبلاغ آياته مبشرة كانت أو منذرة ، والاحتجاج ببراهينه { جهاداً كبيراً* } جامعاً لكل المجاهدات الظاهرة والباطنة ، لأن في ذلك إقبال كثير من الناس إليك واجتماعهم عليك ، فيتقوى أمرك ، ويعظم خطبك ، وتضعف شوكتهم ، وتنكسر سورتهم .

2.tafsir fathul bayan

(فلا تطع الكافرين) فيما يدعونك إليه من اتباع آلهتهم، بل اجتهد في الدعوة واثبت فيها ولا تضجر (وجاهدهم به) أي بالقرآن واتل عليهم ما فيه من القوارع، والنواذر والزواجر والأوامر والنواهي، وقيل الضمير يرجع إلى الله أو الإسلام أو إلى السيف. والأول أولى، وهذه السورة مكية والأمر بالقتال إنما كان بعد الهجرة،

3.tafsir al-Washith

{فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا}:
أَي فلا تطعهم فيما يدعونك إِليه من اتباع آلهتهم وهو دَفْعٌ له - صلى الله عليه وسلم - وللمؤمنين على التشدد معهم والمبالغة في الإِنكار عليهم {وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا}: أَي وجاهدهم بعون الله وتوفيقه، أَو بالقرآن، كما قال ابن عباس، وذلك بتلاوة ما فيه من الحجج والبراهين، والقوارع والزواجر، والمواعظ اللافتة إلى عاقبة الأُمم التي كذبت رُسُلَها لإِظهار عجزهم، وتبصيرهم بسوءِ مصيرهم،

Dari pemaparan ulama-ulama pakar diatas, jelaslah sudah bahwa kata jihad tidak harus bermakna jihad secara fisik sebagaimana di pahami secara mentah dan literal oleh golongan radikalis dalam islam. Penafsiran secara literal tentu sangat beresiko pada pemahaman satu ayat, karna di dalam memahami al-Quran tidak cukup hanya pandai menerjemahkannya, tapi juga di tuntut untuk memahami dengan baik sesuai dengan berbagai syarat yang telah di cetuskan oleh ulama muhtadin.  demikian jelaslah sudah bahwa penafsiran tentang jihad yang di pahami oleh agen-agen garis keras adalah sebuah monopoli kebenaran yang di klaim sepihak oleh mereka. 

Direct point dari pemaparan diatas adalah bahwa : pemahaman agen garis dalam memahami doktrin keagamaan adalah sebuah pemahaman yang subjektif dan penuh dengan bias ideologis. Pemahaman subjektif ini tak lain adalah buah dari sebuah hasil dari kinerja nafsu atau ittiba’ul hawa sebagaimana di jelaskan oleh Habib Abdullah Baharun di dalam ceramah beliau waktu itu. 

Dalam kasus empiris diatas, penulis hanya memaparkan beberapa subjektifitas gerakan kanansentris yang terlihat memonopoli sebuah kebenaran dalam bingkai ideologis. Hal serupa sebenarnya juga di lakukan oleh agen liberal yang berkelindan di cakrawala pemikiran Islam Indonesia. Hal ini insha Allah akan penulis rilis dalam beberapa tulisan selanjutnya.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq….

*) Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pontianak, dan Aktivis PMII IAIN Pontianak dan santi Ponpes Al-Jihad Pontianak – 085750895556.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News