BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Tuesday, November 03, 2015

Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 2)

Pontianak, Muslimedianews ~ Postingan sebelumnya: Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah dan implikasi Penerapannya (Bagian 1).

Pernah terjadi pengrusakan mimbar-mimbar masjid atau fodium yang dianggap menyalahi dan bertentangan sunnah Nabi SAW. Mereka yang merusak mengklaim bahwa mimbar masjid yang dicontohkan Nabi SAW sebagai sunnah tasyri'iyyah yang harus diikuti adalah yang bertangga tiga dan terbuka bagian depan. Mereka tidak bersalah dengan pengrusakan itu, bahkan cenderung bangga karena menganggap telah merusak yang dianggap bid'ah berlawanan dengan sunnah. Sebagaimana pernah terjadi orang tidak mau shalat di masjid yang menggunakan pemukulan beduk sebagai tanda masuknya waktu shalat, karena beduk dianggap bid'ah tidak ada contohnya dari Nabi SAW.

Dalam salah satu kaedah memahami dan mengaplikasikan hadis dan sunnah (kaifa nata'amalu ma'a as-sunnah an-nabawiyyah) dikenal kaedah: "at-Tafriqu baina al-wasilah al-mutagayyirah wa al-hadafi ats-tsabit li al-hadits" maksudnya membedakan antara sarana yang bisa berubah-ubah sesuai perkembangan zaman, tempat, dan budaya, dan tujuan yang tetap.

Dalam konteks ini, mimbar, fodium, beduk, pengeras suara, sajadah tikar shalat, bangunan masjid adalah sarana ibadah, dan bukan ibadah sehingga tidak berlaku istilah bid'ah pada sarana seperti ini.
Oleh karena itu, upaya mengaplikasikan sunnah perlu pemahaman secara cerdas dan cermat antara sunnah tasyri'iyyah dan sunnah non-tasyri'iyyah. (Bersambung .....).


Oleh:Dr Wajidi M.Ag., Dosen IAIN Pontianak, Ketua Majlis Fatwa MUI Kalbar, Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar.


« PREV
NEXT »

No comments