Top News :
Home » » Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 6)

Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 6)

Posted on Sunday, 8 November 2015 | garis 15:11

Pontianak, Muslimedianews ~ Setelah dijelaskan dasar penetapan kategorisasi sunnah tersebut dari Hadis Nabi SAW dan pendapat sahabat Nabi, kali ini akan dijelaskan pendapat para ulama, antara lain:

1. Menurut Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Sunnah ada yang disabdakan sebagai Risalah mengandung hukum syariah, bersifat universal dan berlaku abadi, dan ada sunnah yang disabdakan bukan sebagai risalah, tidak mengandung hukum syariat, misalnya kesehatan, pengobatan berdasar eksperimen dan pengalaman hidup, tradisi kebiasaan, bukan karena ada tujuan ibadah, kebijakan yang diambil untuk kemaslahatan temporer pada saat itu, dan tidak menjadi tuntunan yang mengikat yang harus diikuti oleh semua umat Islam. 

2. Syaikh Mahmud Syaltut menyebut Sunnah Non-Tasyri'iyyah sebagai al-ibahah al-'aqliyah, yakni kebolehan secara rasional, yaitu:
a. Sunnah dalam konteks hajat hidup manusia, misalnya makan, minum, tidur, berjalan, berkunjung, mendamaikan orang dengan cara baik. 
b. Sunnah yang merupakan hasil eksperimen dan kebiasaan individual dan sosial, misalnya tentang pertanian, pengobatan atau kedokteran.
c. Sunnah dalam konteks manajemen manusia dalam mengantisipasi kondisi tertentu, misalnya menyusun strategi perang. 

3. Syaikh Abdul Wahhab Khallaf menyebut Sunnah Non-Tasyri'iyyah meliputi:
a. Apa yang bersumber dari Nabi SAW sebagai tabiat kemanusiaannya (al-af'al al-jibilliyyah), misalnya berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan dan minum. 
b. Apa yang bersumber dari Nabi SAW sebagai pengetahuan kemanusiaan, keahlian, dan eksperimen dalam urusan keduniaan, misalnya pertanian (pertukangan), pemberian resep obat-obatan, strategi militer.
c. Apa yang bersumber dari Nabi SAW dan ada dalil syariat bahwa itu berlaku khusus, maka tidak berlaku umum. 

Salah satu cara membedakan perbuatan kemanusiaan dan perbuatan syariat biasanya ditentukan oleh adanya qarinah atau indikasi lain atau dalil lain yang menunjukkan bahwa perbuatan itu tercela atau mendapat pahala, maka itu menjadi perbuatan syariat. Misalnya makan dan minum pakai tangan kanan adalah sunnah tasyri'iyyah sebab Nabi SAW menerintahkan dan mencela makan dengan tangan kiri bahkan dianggap perbuatan setan. (HR. Muslim). Lain halnya makan dengan lesehan atau pakai kursi, pakai sendok, garfu, dan lain-lain, itu hanya pilihan kebiasaan dan keperluan menyesuaikan konteks situasi dan kondisinya. (Bersambung .....).

Oleh:Dr Wajidi M.Ag., Dosen IAIN Pontianak, Ketua Majlis Fatwa MUI Kalbar, Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News