BREAKING NEWS
latest

728x90

468x60

Sunday, November 08, 2015

Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 6)

Pontianak, Muslimedianews ~ Setelah dijelaskan dasar penetapan kategorisasi sunnah tersebut dari Hadis Nabi SAW dan pendapat sahabat Nabi, kali ini akan dijelaskan pendapat para ulama, antara lain:

1. Menurut Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Sunnah ada yang disabdakan sebagai Risalah mengandung hukum syariah, bersifat universal dan berlaku abadi, dan ada sunnah yang disabdakan bukan sebagai risalah, tidak mengandung hukum syariat, misalnya kesehatan, pengobatan berdasar eksperimen dan pengalaman hidup, tradisi kebiasaan, bukan karena ada tujuan ibadah, kebijakan yang diambil untuk kemaslahatan temporer pada saat itu, dan tidak menjadi tuntunan yang mengikat yang harus diikuti oleh semua umat Islam. 

2. Syaikh Mahmud Syaltut menyebut Sunnah Non-Tasyri'iyyah sebagai al-ibahah al-'aqliyah, yakni kebolehan secara rasional, yaitu:
a. Sunnah dalam konteks hajat hidup manusia, misalnya makan, minum, tidur, berjalan, berkunjung, mendamaikan orang dengan cara baik. 
b. Sunnah yang merupakan hasil eksperimen dan kebiasaan individual dan sosial, misalnya tentang pertanian, pengobatan atau kedokteran.
c. Sunnah dalam konteks manajemen manusia dalam mengantisipasi kondisi tertentu, misalnya menyusun strategi perang. 

3. Syaikh Abdul Wahhab Khallaf menyebut Sunnah Non-Tasyri'iyyah meliputi:
a. Apa yang bersumber dari Nabi SAW sebagai tabiat kemanusiaannya (al-af'al al-jibilliyyah), misalnya berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan dan minum. 
b. Apa yang bersumber dari Nabi SAW sebagai pengetahuan kemanusiaan, keahlian, dan eksperimen dalam urusan keduniaan, misalnya pertanian (pertukangan), pemberian resep obat-obatan, strategi militer.
c. Apa yang bersumber dari Nabi SAW dan ada dalil syariat bahwa itu berlaku khusus, maka tidak berlaku umum. 

Salah satu cara membedakan perbuatan kemanusiaan dan perbuatan syariat biasanya ditentukan oleh adanya qarinah atau indikasi lain atau dalil lain yang menunjukkan bahwa perbuatan itu tercela atau mendapat pahala, maka itu menjadi perbuatan syariat. Misalnya makan dan minum pakai tangan kanan adalah sunnah tasyri'iyyah sebab Nabi SAW menerintahkan dan mencela makan dengan tangan kiri bahkan dianggap perbuatan setan. (HR. Muslim). Lain halnya makan dengan lesehan atau pakai kursi, pakai sendok, garfu, dan lain-lain, itu hanya pilihan kebiasaan dan keperluan menyesuaikan konteks situasi dan kondisinya. (Bersambung .....).

Oleh:Dr Wajidi M.Ag., Dosen IAIN Pontianak, Ketua Majlis Fatwa MUI Kalbar, Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar.

« PREV
NEXT »

No comments