Top News :
Home » » Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 3)

Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 3)

Posted on Wednesday, 4 November 2015 | garis 11:49

Pontianak, Muslimedianews ~ Postingan sebelumnya: 
  1. Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah dan implikasi Penerapannya (Bagian 1).
  2. Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 2).
Secara etimologi, sunnah adalah arah, jalan, model perilaku, tindakan, ketentuan, peraturan, atau tata cara yang sudah mentradisi.

Secara terminologi, sunnah dalam pandangan para ulama beragam, antara lain; yaitu semua yang bersumber dari Nabi SAW selain al-Qur'an berupa perkataan, perbuatan, atau takrir yang dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum syariat.

Abdul Mun'im an-Namr dalam bukunya As-Sunnah wa at-Tasyri' menyebutkan istilah as-Sunnah at-Tasyri'iyyah wa as-Sunnah gairu at-Tasyri'iyyah.

Sunnah Tasyri'iyyah meliputi apa yang diucapkan, dilakukan, atau ditetapkan Nabi SAW dalam kapasitasnya sebagai Rasul dan mengandung hukum yang mengikat, berlaku universal dan abadi.
Sunnah non-Tasyri'iyyah adalah meliputi kebijakan Nabi SAW dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, pemimpin masyarakat atau kepala negara, atau hakim yang bisa bersifat lokal, kondisional, temporal, tidak berlaku umum, dan tidak mengikat.

Kategorisasi Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah, selain didasarkan pada kapasitasnya sebagai Rasul dan manusia biasa juga boleh didasarkan pada tema masalah yang diucapkan atau dilakukan. Apabila berkaitan masalah agama, maka ia Sunnah Tasyri'iyyah, dan apabila berkaitan masalah kemaslahatan dunia, maka ia Sunnah Non-Tasyri'iyyah.

Asy-Syaukani dalam Irsyad al-Fuhul menyebutnya Laisa fihi Uswah (bukan untuk diteladani), Laisa fihi Ta'sis (bukan untuk dijadikan dasar pijakan), La bihi Iqtida'' (tidak untuk diikuti). Asy-Syirazi menyebutnya As-Sunnah Laisat bi Qurbah (sunnah tidak untuk mendekatkan diri kepada Allah). Al-Juwaini menyebutnya as-Sunnah La Istamsaka bihi (sunnah tidak untuk jadi pegangan). Al-Gazali menyebutnya Sunnah La Hukma Lahu Ashlan (sunnah tidak mengandung hukum sama sekali).

(Bersambung)


Oleh:Dr Wajidi M.Ag., Dosen IAIN Pontianak, Ketua Majlis Fatwa MUI Kalbar, Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News