Top News :
Home » » Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 8)

Sunnah Tasyri'iyyah dan Sunnah Non-Tasyri'iyyah (Bagian 8)

Posted on Wednesday, 25 November 2015 | garis 16:44

Pontianak, Muslimedianews ~ Termasuk hadis yang diucapkan Nabi SAW dalam kapasitasnya sebagai kepala negara atau pemerintah, Beliau bersabda: "Barangsiapa menggarap tanah mati (tak bertuan), maka dialah menjadi pemiliknya. (HR. Abu Daud dari Urwah).

Hadis ini tidak berlaku umum atau universal, sebab ini merupakan kebijakan Nabi sebagai pemerintah. Oleh karena itu, apabila ada orang yang pertama kali menggarap suatu lahan, dia belum bisa menjadi pemiliknya, kecuali ada izin dari pemerintah setempat.

Begitu juga hadis "Barangsiapa mengganti agamanya (murtad, dari Islam masuk ke agama lain), maka bunuhlah. (HR. Bukhari).

Kalau setiap umat Islam mengamalkan perintah hadis ini secara tekstual, maka hubungan kehidupan antar umat beragama rusak dan kacau bahkan bisa melanggar hak asasi manusia. Padahal Islam adalah agama yang sangat menghargai kebebasan beragama. Apakah Nabi SAW pernah membunuh orang murtad?

Hadis ini disabdakan Nabi dalam kapasitas sebagai kepala negara atau pemerintah. Orang murtad yang dimaksud adalah yang mengancam keselamatan negara, disamakan dengan pemberontak, pengkhianat, yang memusuhi, menggalang kekuatan dan menyerang dan membahayakan kehidupan umat Islam. Tentu ini kebijakan pemerintah, bukan oleh individu.

Ada yang bertanya bagaimana dengan hukum potong tangan bagi pencuri?

Hukuman atau sanksi ini juga tidak berlaku umum siapa saja bisa melakukannya. Ini dilakukan oleh Nabi dalam kapasitasnya sebagai hakim atau pemerintah sehingga kebijakan hukumannya bisa mempertimbangkan konteks sosial budaya. Para ahli fiqih sangat beragam pandangannya mengenai penerapan hukum potong tangan, karena banyak syaratnya, baik jumlah harta yang dicuri, kondisi sosial budaya pada saat pencurian, kondisi psikologis pencuri, bahkan ada yang berpendapat bisa diganti dengan hukuman yang lain. Dalam buku Dirasat Islamiyah Mu'ashirah Nahwa Ushul Jadidah Lil Fiqh al-Islami, disebutkan bahwa hukum potong tangan secara fisik adalah hukuman maksimal bagi pencuri profesional yang tidak mau sadar tidak mau tobat. Hukuman yang tidak maksimal bisa dilakukan dengan cara dipenjara. Karena dengan dipenjara berarti dipotong tangan dalam arti kekuasaan/keleluasaan aktivitasnya. 

Hukuman penjara bagi pencuri boleh dikata sudah menjalankan perintah agama walaupun caranya berbeda. (Bersambung...)


Oleh: Dr Wajidi M.Ag., Dosen IAIN Pontianak, Ketua Majlis Fatwa MUI Kalbar, Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News