Top News :
Home » » Tersandra Dalam Kepalsuan Agama

Tersandra Dalam Kepalsuan Agama

Posted on Tuesday, 17 November 2015 | garis 15:14

Muslimedianews.com (Opinion) ~ Di saat semuanya sudah berada hampir di garis finis, justru kita masih baru berangkat dari peradaban sambil meringis. Di saat semua nya berbicara soal kapitalis, kita masih berbicara soal konflik individualis. Di saat semuanya sudah berbicara soal teror Paris, justru kita masih asyik berpenampilan eksostis, emangnya artis ? maaf sekarang bukan waktunya bercanda.

Berangkat dari cerita Rasulullah yang di riwayatkan dari berbagai sumber, bahwa Rosulullah dalam menyebarkan Agama Islam sangat bersabar dari ejekan dan kedholiman kaum kafir. Beliau di ludahi tapi beliau tidak membalas sedikit pun, justru dengan strategi dan kesabaran beliau lah yang membawa Islam besar hingga saat ini. Beliau menyebarkan agama Islam menggunakan nurani bukan dengan akal yang tidak sehat, bukan perang yang diinginkan beliau, tapi dengan cara kebaikanlah beliau menyebarkan hingga ¾ dunia. Perang bagi beliau adalah jalan terakhir untuk membela agama.

Islam yang mengklaim bahwa aliran mereka lah yang paling benar menyebabkan konflik social keagamaan dalam dunia global. Mengutip pendapat Gus Dur bahwa Islam itu apa yang diperjuangkan ? kultur atau instansi kah ? jika kultur yang diperjuangkan tidak akan terjadi yang namanya kekerasan atas nama agama, politik atas nama agama, dan perang ideology mengatasnamakan agama. Tapi itu semua pasti terjadi jika instansi lah yang diperjuangkan.

Bicara soal Negara, Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi kebersatuan antar umat Islam sangatlah sulit. Berbagai ormas yang mengklaim dirinya paling benar mengakibatkan nilai dari makna Rahmatan Lil Alamin hilang diterjang keangkuhan lembaga yang mengatasnamakan agama. Penulis teringat waktu sowan ke salah satu Cucu dari Kyai Hasyim Asy’ari putra dari Kyai Kholik Hasyim yaitu Beliau Kyai Hakam ( Gus Hakam sapaannya ), beliau berbincang dengan penulis yang saat itu menjelang Muktamar NU di Jombang.

Penulis menanyakan kepada Gus Hakam soal Muktamar NU, “ Gus, maaf menurut njenengan bagaimana Muktamar NU ini Gus ? beliau menjawab, “ waduh saya bingung, di Al-Qur’an tidak ada berjuang atas nama Nahdhotul Ulama’iyun atau pun Muhammadiyun, yang ada itu Islamun, saya ndak tau bagaimana nanti Muktamar NU, dan saya gak ikut-ikut soal itu. Saya akan ikut berjuang jika semuanya bersatu dan berjuang mengatasnamakan Islam bukan golongan, dan politik yang dipakai adalah politik ala Kanjeng Nabi”.

 Setelah itu beliau menjelaskan bagaimana politik ala Kanjeng Nabi itu. Saat itu Kanjeng Nabi memilih seorang panglima perang yang masih berumur 18 tahun, yang bernama Usamah Bin Zahid dengan kemampuan yang sangat hebat dan dibarisannya yang di pimpin Usamah ada pula Umar Bin Khattab, Abu Bakar, dan banyak lagi sahabat-sahabat Rosul yang tua-tua. Artinya dalam politik ala Kanjeng Nabi dalam memilih pemimpin bukan didasarkan pada yang tua, tapi lebih pada aspek kualitas dan kemampuan. Berbeda dengan yang diterapkan di Negara ini, bukan pada yang berkualitas tapi justru yang tua-tua bilang, sek enom isok opo seh. Mendengar cerita tersebut penulis merasa semakin takdim kepada Beliau yang mengartikan bahwa semua hal tergantung pada siapa yang menjadi pemimpin.

Dalam bukunya Gus Dur pun menjelaskan bahwa menerapkan konsep Umatan Wahidatan ( Kebersatuan Umat ) itu pun mudah di ucapkan berat di lakukan. Beliau memandang Umatan Wahidatan merupakan jalan perbedaan hanya sebatas berlomba dalam kebaikan, bukan saling teror dan klaim kebenaran, rasa saling menghargai, kasih sayang itu lah yang menjadi modal persaudaraan.

Mereka sudah bersekutu tapi kita terpecah belah, mereka sudah bicara soal propaganda dunia, tapi kita masih menikmati kebodohan umat. Banyak umarah dan ulama’ di Negara Indonesia yang patut kita hargai, apresiasi, dan teruskan perjuangannya hingga kita tidak ada waktu untuk bersantai ria. Perang dunia ke 3 sudah dimulai sejak puluhan tahun silam, melalui gerakan pemiskinan, perusakan moral dan akhlak, serta pembunuhan, dsb. Pengebom an hanya bentuk luarnya saja, tapi di belakang seperti di siram air surga. Sadarlah pemuda, baca dan cermati cerita singkat diatas. Barakallah

Oleh : phewhe doni

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News