Top News :
Home » , » Tren Baru Sosial Media, Melawan ISIS dan Radikalisme cukup dengan Parodi

Tren Baru Sosial Media, Melawan ISIS dan Radikalisme cukup dengan Parodi

Posted on Tuesday, 24 November 2015 | garis 13:09

Muslimedianews.com ~ Ketika paham ISIS dan radikal makin mengkhawatirkan di Indonesia, seorang pemerhati terorisme mencoba memeranginya dengan parodi di media sosial.

Di Facebook, Anda bisa menemukannya dengan nama Ustad Abu Janda al-Boliwudi, nama plesetan yang diambil dari seorang tokoh ISIS Indonesia, Abu Jandal -yang belakangan dilaporkan tewas di Suriah.

"Saya Muslim Sunni. Saya cinta non-muslim, non-pribumi, muslim syiah, dan Indonesia," begitu pesan dalam foto profilnya.

Tokoh fiksi Abu Janda, dibuat oleh Permadi Arya pada Desember 2014, sebagai respon atas video ancaman petarung ISIS asal Indonesia Abu Jandal kepada TNI.

Dalam video berjudul "Ancaman ISIS terhadap KPI", Abu Janda menirukan gaya Abu Jandal dan berseru, "Ketahuilah, bahwa tentara-tentara film India menunggu kalian dari Inspektur Vijay, Sanjay Dutt, sampai Amitabh Bachchan."

Baru-baru ini, Abu Janda juga membuat lagu berjudul Kamu Syiah, humor satir yang dimaksudkan untuk "melawan penghasutan kebencian kaum ekstrimis."

"Jangan bawa perang Suriah ke bumi pertiwi Indonesia," begitu tulisan di akhir video. Permadi mengatakan dia tidak mau Indonesia yang mayoritas Sunni, diprovokasi dengan perang Suriah yang dianggapnya sebagai pertarungan ekonomi antara dua kelompok besar Timur Tengah.

Media sosial memang menjadi 'medan pertempuran' bagi ISIS dan kaum ekstrimis untuk menyebarkan paham-pahamnya. Di Indonesia, pegiat Indonesian Center For Deradicalisation dan Wisdom (ICDW) mengatakan hingga kini masih banyak situs-situs radikal Islam yang bebas diakses oleh masyarakat, pasca pemblokiran yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Infomatika.

"Paham radikal tetap eksis. Meskipun mereka diblok oleh kominfo, di-banned oleh FB, Twitter, dan Telegram, mereka malah tambah semangat. Bukan malah ciut," kata Matahari Timoer kepada wartawan BBC, Christine Franciska.

Yang mengkhawatirkan, situs-situs itu diklik lebih banyak dibanding situs-situs organisai seperti NU dan Muhamadiyah yang anggotanya sebetulnya puluhan juta.

Lebih Cepat Diterima Masyarakat

Kepada BBC Indonesia, Permadi mengatakan tokoh Abu Janda memang dibuat untuk melawan paham terorisme ISIS dan radikalisme yang kini berkembang di Indonesia, khususnya di media sosial.

Dan, "cara yang paling efektif ya dengan humor, cepet keterimanya. Intinya bangsa Indonesia, pada umumnya cerdas, mereka benci dengan radikalisme, tetapi mereka takut. Mereka mungkin melihat figur Abu Janda sebagai pelampiasan unek-unek mereka, oh akhirnya ada yang berani. Akhirnya tumpah unek-unek mereka. Saya sebatas memberikan media," jelasnya.

Banyak orang yang menyambut baik upaya Permadi, namun banyak pula yang tidak setuju dengan gayanya yang membawa atribut-atribut Islam.

Kontroversi yang kemudian timbul karena video-videonya membuat Permadi mendapat ancaman dan dijuluki sebagai orang yang paling dicari oleh kaum radikal. Tetapi Permadi mengatakan sebetulnya tidak ada yang perlu merasa tersinggung "kecuali teroris".

"Yang jadi objek kritikan saya ya teroris, ya kalau sampeyan teroris, pasti tersinggung," katanya.

Pada intinya, melalui tokoh Abu Janda, dia berharap bisa memberikan sumbangan dalam upaya menjaga kerukunan bangsa Indonesia. "Rapatkan barisan, muslim dan non muslim, jangan terprovokasi oleh paham-paham radikal yang mengatasnamakan Islam."
sumber via BBC Indonesian


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News