Top News :
Home » , , , » Kisah Nyata: Pekik Tahlil di Depan Gereja

Kisah Nyata: Pekik Tahlil di Depan Gereja

Posted on Sunday, 20 December 2015 | garis 16:30


Solo, Muslimedianews ~ Saban Jumat pagi, para santri sebuah pondok pesantren di pinggiran Solo yang tak perlu disebut namanya itu selalu mengadakan lari pagi berjamaah. Di halaman pondok, mereka berbaris rapi layaknya tentara. Lalu dalam derap yang padu mereka berlari menyusuri jalan-jalan kampung. Tak lupa yel-yel penambah semangat mereka teriakkan. Mereka juga kadang menyanyikan penggalan nasyid favorit: perjuangan menegakkan Islam, ku akui tak seindah kata...Lagu itu terdengar seperti nyanyian pengantar menuju medan perang, atau meminjam bahasa anak pondok, medan jihad. 

Sampailah rombongan santri lari pagi itu di depan sebuah gereja. Entah bagaimana, tanpa dikomando, yel-yel yang mereka pekikkan berubah menjadi tahlil. Lailaha Illallah, Muhammadur Rasulullah mereka teriakkan kencang sekali. Tidak terdengar teduh, tapi menyeramkan. Sering juga mereka memekikkan yel: khaibar-khaibar ya yahud, jaisu Muhammad saufa ya’ud. Mungkin dengan meneriakkan tahlil di depan gereja para santri merasa sedang berdakwah. Mengajak seisi gereja masuk Islam. Menunjukkan kebenaran melalui sepenggal kalimat tahlil yang dipekikkan sambil lari pagi. 

Saya berada di sana, di dalam rombongan santri yang lari pagi itu. Penuh semangat saya meneriakkan kalimat tauhid. Terbawa suasana. Tak peduli bagaimana perasaan orang di dalam gereja. Juga pandangan warga sekitar gereja. Jika terkenang masa itu saya sedih dan geli. Begitu bodoh dan naifnya saya. Berlaku intoleran dalam pikiran dan perbuatan. Ya, bisa saja perbuatan itu dianggap sebagai iseng dan nakalnya anak-anak usia tsanawiyah. Tapi nakal dan iseng yang nggak banget.

Untunglah, setamat tsanawiyah dari pondok itu, saya hijrah ke MAPK Solo. Sekolah yang menjadikan pikiran saya lebih terbuka. Tak ada teriakan tahlil di depan gereja sambil lari pagi. Tak ada lagi nonton bareng dokumenter gorok leher orang Amerika di Iraq. Tak ada lagi penyitaan buku-buku dan kaset-kaset yang dianggap kurang Islami. Di MAPK Solo, saya menemukan mereka yang berlatar belakang Muhammadiyah dengan santai ikut yasinan malam Jumat. Mereka yang nahdliyin juga tidak gusar shalat Subuh tanpa qunut karena kebetulan yang jadi imam anak Muhammadiyah.

Burhanuddin Muhtadi pengamat politik yang juga alumni MAPK Solo menuliskan ingatannya: MAPK Solo adalah miniatur Islam Indonesia. Banyak teman saya yang seide dengan Daud Rasyid, Abu Rido dan para penentang Cak Nur lainnya. Tapi tak sedikit di antara mereka yang setuju dengan Cak Nur yang melihat keharusan adanya penyegaran pemikiran keagamaan di kalangan umat Islam. Menariknya, pandangan para ustad kami juga terbelah menjadi dua. Ada Ustad Charis Muannis yang alumni Gontor dan aktif menjadi juru bicara pemikiran Cak Nur di kelas maupun di asrama kami. Tapi ada juga Ustad Aqib yang alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Jakarta, yang merupakan cabang Universitas Muhammad Ibnu Suud, Riyadh, yang aktif “menyesatkan” ide-ide Cak Nur. Ada juga Ustad Ilyas dan Ya’kub dari Pesantren Ngruki yang bahkan mengharamkan upacara menghormat bendera merah putih!

Lanjut Burhan, sekolah saya sewaktu aliyah itu adalah pasar raya ide yang dipenuhi oleh kios-kios yang menjajakan tafsir Islam yang warna-warni. Banyak kawan dan ustad saya yang memerankan diri sebagai sparring partner saya dalam diskusi soal keislaman. Banyak di antara mereka yang berperan sebagai lawan diskusi yang baik, meski ada juga yang sudah mengambil “kesimpulan di awal” bahwa Cak Nur adalah dhallun wa mudhillun (sesat dan menyesatkan), seraya menuding beliau sebagai antek Yahudi. Dalam banyak kesempatan, saya selalu memerankan diri sebagai pembela Cak Nur. Sekolah di MAPK Solo adalah fase penting dalam hidup saya. MAPK adalah sekolah yang pertama kali membuka akses saya kepada diskursus keislaman mutakhir.

Barangkali yang dirasakan Burhan juga dirasakan banyak alumni MAPK lain. Tepat kiranya istilah ‘pasar raya ide’ yang dipakai Burhan. Jika MAPK Solo adalah pasar raya ide, maka pondok saya ketika tsanawiyah adalah adalah toko yang hanya menjual satu jenis barang dan orang-orang harus membelinya. Betapa tidak menyenangkan sebuah toko dengan satu jenis barang. Betapa menyedikan mendapat pemahaman Islam yang sempit dan tunggal.

Mengenang “masa-masa suram” ketika tsanawiyah saya jadi teringat salah satu kultwit seorang cendekiawan Islam ( @ShihabAlwi ) tentang bagaimana Islam mengajarkan tolerasi. Jadi, suatu kali Pak Alwi pernah ngetwit hubungan Islam-Kristen dengan tagar #IslamInklusif. Menurut Pak Alwi: Terhadap pengikut Isa a.s dan Musa a.s, Al-Quran menggunakan kata ahl al-Kitab (yang memiliki kitab suci). Penggunaan kata ahl, yang berarti keluarga, menunjukkan keakraban dan kedekatan hubungan. Lebih dari itu, pengikut Nabi Muhammad SAW yang terpaksa meninggalkan Makkah untuk menghindari penganiyaan bangsanya sendiri (Arab Jahiliyah) berhijrah ke Eithopia. Di sana mereka diterima dengan baik oleh Raja Negus (Najashi) yang beragama Kristen. Peristiwa ini menandakan keakraban dan hubungan harmonis antara kedua umat. 
       
Seandainya saya (dan para santri pondok itu) diberi pelajaran tentang toleransi yang begitu indah ini oleh ustaz-ustaz kami dulu, mungkin tak akan ada pekik kalimat tauhid di depan gereja. 


Oleh: Abraham Zakky Zulhazmi, alumnus PP Al-Mukmin, Solo. Menulis buku Propaganda Islam Radikal di Media Siber (2015).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News