Top News :
Home » » Kontroversi Natal: Belajar Berbeda Pendapat ala Mbah Wahab dan Mbah Bisri

Kontroversi Natal: Belajar Berbeda Pendapat ala Mbah Wahab dan Mbah Bisri

Posted on Monday, 28 December 2015 | garis 23:33

Jombang, Muslimedianews ~ Pemandangan hitam dan putih selalu tersaji menjelang atau sesudah perayaan Natal yang jatuh tiap tanggal 25 Desember. Kontroversi ini senantiasa muncul, entah memang sengaja dimunculkan dan membuat masyarakat resah dengan varian opini perayaan Natal. Sebagaian lagi khawatir, ikut serta membantu perayaan natal ini sebagai wujud tenggang rasa akan mencederai kepercayaan mereka. Ditambah, ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) selepas ada sebagian kelompok yang menyerukan PNB (Perayaan Natal Bersama). 

Fatwa itu dicetuskan pertama kali oleh Buya Hamka pada 1 Jumadil Awal 1401 atau 7 Maret 1981 tentang Perayaan Natal Bersama (PNB). Hal tersebut dilatarbelakangi fenomena yang kerap terjadi sejak 1968 ketika Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 1-2 Januari dan 21-22 Desember. Lantaran perayaan Lebaran berdekatan dengan Natal, banyak instansi menghelat acara perayaan Natal dan Halal Bihalal bersamaan. Ceramah-ceramah keagaman dilakukan bergantian oleh ustadz, kemudian pendeta. 

Hal tersebut, menurut Jan S. Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Hamka mengecam kebiasaan itu bukan sebagai bentuk toleransi, namun memaksa kedua penganut Islam dan Kristiani menjadi munafik. Ulama yang juga penulis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk itu juga menilai penganjur perayaan bersama itu sebagai penganut sinkretisme. Tentu saja ini menjadi sangat meresahkan. 

Dalam fatwanya, MUI sendiri melihat bahwa perayaan Natal Bersama telah disalahartikan oleh sebagian umat Islam dan  disangka sama dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw., karena salah pengertian itu, ada sebagian umat Islam ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal. Padahal, lanjut MUI, perayaan Natal bagi umat Kristen adalah ibadah.

Di islam, penetapan halal dan haram harus tegas dan jelas. Kebiasaan manusua selalu menginginkan hukum yang lebih ringan. Ketika diberi hukum yang berat,  maka mereka tak sungkan menawar. Toh, penawarannya masih dalam koridor yang katakan agak berat.Beda halnya ketika memberikan hukum yang lentur, pasti akan ditawar lagi. 

Belajar dari Mbah Wahab dan Mbah Bisri Syamsuri

Membicarakan kelenturan dan ketegasan mengingatkan penulis pada Dwi Tunggal Nahdlatul Ulama; KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri. Andaikata mereka berdua masih hidup, kira-kira apa jawaban keduanya ketika ditanya hukum mengucapkan Selamat Hari Natal? 

Mbah Wahab dengan kelenturannya dan Mbah Bisri dengan ketegasannya dan keduanya hampir tidak pernah sependapat. Hal ini dipengaruhi oleh metode pendekatan kedua tokoh tersebut. Mbah Wahab kerap menggunakan pendekatan ilmu ushul fiqh, sehingga kelenturannya sangat terlihat. Mbah Wahab menggunakan kaidah, bukan menggunakan teks. Sedangkan Mbah Bisri lebih suka menggunakan teks karena dianggapnya lebih hati-hati dalam memandang segala sesuatu.

Suatu ketika Gus Dur pernah bercerita tentang watak kedua tokoh itu yang bertolak belakang. Ini tentang Dewan Perwakilan Rakyat  Gotong Royong (DPR-GR) bentukan Soekarno yang merekrut banyak orang. Mbah Wahab memperbolehkan DPR-GR. Jika nanti dirasa tidak cocok, maka bisa keluar dan tidak ikut model sistem tersebut. Namun bagi Mbah Bisri, hal itu tetap tidak bisa. haram hukumnya.

Lain pula pendapat dalam Bahtsu Masail. Begitu kerasanya, konon, bahkan sampai ngedor-ngedor bangku jika salah satu pendapatnya berbeda. Tapi hal itu hanya terjadi ketika di dalam forum. Ketika istirahat seakan tidak terjadi perbedaan sama sekali. Bahkan rebutan nimba. Jika Mbah Bisri yang berhasil meraih timba dulu maka Mbah Wahab yang dilayani, begitu sebaliknya, maka Mbah Wahab yang melayani. Memberikan pelayanan wudhu kepada satu sama lain adalah bentuk takdzim dan cinta pada sahabatnya.

Harmoni antara Mbah Wahab dan Mbah Bisri seperti sebuah magnet yang bertolak belakang dan sekaligus saling tarik menarik. Akan selalu ada ruang berbeda, ruang berdebat dan ruang untuk saling menjaga kewarasan dalam hidup.  Berbeda pendapat (utara dan selatan) tapi di saat yang lain saling takdzim dan tawadlu.
Mendamaikan kontroversi Natal ini adalah upaya tidak terjatuh pada lubang yang sama dan membuat keresahan masyarakat.  Toh, tidak ada orang yang benar-benar sama dalam segalanya, bukan? Apalagi urusan beragama yang kompleks. Dan kita akan tetap berjalan bersama, beriringan dalam damai, walaupun kerap bertolak-belakang dalam berpendapat seperti yang dicontohkan K. H. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syamsuri. Wallahu a'lam. 




Oleh: Septian, alumni PP. Tebuireng, Jombang. Pengelola Majalah Tebu Ireng. 


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News