Top News :
Home » » Memaknai Mukjizat (Bagian 1)

Memaknai Mukjizat (Bagian 1)

Posted on Saturday, 19 December 2015 | garis 15:43

Muslimedianews ~ Kisah tentang mukjizat adalah kisah tentang usaha menciptakan kepercayaan. Melalui mukjizat, seorang nabi menanamkan kepercayaan kepada kaumnya bahwa kebenaran yang diwartakannya bukan sebuah kepalsuan. Sebab, mukjizat selalu merupakan kejadian di luar kebiasaan, hal yang melampaui kelaziman dan tidak pernah dapat ditiru insan biasa. 

Mukjizat tidak bakal bisa dikalahkan kekuatan manusiawi. Kebenaran seorang nabi, sang pembawa mukjizat itu, terbuktikan sebab “lawan” tak mampu membuktikan hal sebaliknya. Mukjizat telah menaklukkan dan melemahkan si “lawan”. Dan mukjizat (mu’jizah), dari sisi bahasa pun, sudah berarti “menaklukkan dan melemahkan” (berasal dari akar kata a’jaza).

Kita tentu ingat kisah Nabi Musa saat mendemonstrasikan mukjizatnya di hadapan Fir’aun dan Bani Israil. Seperti dikisahkan al-Quran, Musa mendatangi Fir’aun untuk mengabarkan kebenaran ajaran Allah. Tapi, sebagai penguasa Mesir, Fir’aun tentu gengsi menerima ujaran seorang Musa. Fir’aun sama sekali tak mau menaruh kepercayaan kepada anak muda bekas asuhannya itu. Malah, Fir’aun menantang Musa beradu bukti. “Jika benar kamu membawa bukti (âyat), datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar,” tantang Fir’aun (QS. 7: 106).

Sebenarnya, Musa sudah menduga sikap Fir’aun dan pemuka-pemuka istana itu: menolaknya dengan angkuh. Namun Allah meneguhkan selalu hati Musa—yang saat itu didampingi saudaranya, Harun. (QS. 20: 42-46) Apalagi, Allah membekali Musa dengan mukjizat-mukjizat yang melampaui sihir-sihir kaum Israil. Bani Israil, seperti dalam kisah-kisah al-Quran, memang memiliki berbagai sihir yang hebat. Begitu hebatnya, seorang di antara mereka bernama Samiri bahkan mampu mencipta patung lembu dari emas dan dapat bersuara (QS. 7: 148). 

Hal ini tentu bisa dimaklumi. Dalam budaya masyarakat semacam itu, cara paling tepat membuat mereka percaya adalah melumpuhkan daya-daya sihir dengan keajaiban-kejaiban yang lebih tinggi.
Cara itu pula yang ditempuh Musa guna meyakinkan Fir’aun dan para petinggi istana. Musa melemparkan tongkatnya. Sekonyong-konyong tongkat itu menjelma menjadi ular. Ia mengeluarkan tangannya yang seketika menjadi putih bercahaya, berkilau-kilau. Percayakah Fir’aun? 

Alih-alih, Fir’aun dan para pemuka istana mengganggap Musa cuma seorang tukang sihir. “Inna hâdza lasâhirun ‘alîm,” kata Fir’aun. “Musa ini sungguh ahli sihir yang pandai” (QS. 7: 109). Tapi, Fir’aun bertekad merontokkan “sihir” Musa. Ia lalu mengumpulkan ahli-ahli sihir istana yang handal. 

Suatu pagi, di hari raya, saat banyak orang berkumpul, digelarlah pertandingan: ahli sihir istana melawan Musa. Di arena ini, masing-masing ingin menunjukkan, mana yang sejati, mana yang palsu. Ahli sihir istana beraksi lebih dahulu. Mereka melemparkan tali-tali dan tongkat, yang serentak tampak hidup, merayap cepat, menyalak. Musa pun sedikit keder (QS. 20: 67). Namun Allah kembali meneguhkan hati Musa. Musa lalu melemparkan tongkatnya. Tongkat itu berubah menjadi ular yang segera menelan makhluk-makhluk rekaan para ahli sihir istana. Para ahli sihir itu takjub, tak sanggup menandingi kekuatan Musa. Mereka akhirnya mengakui, Musa-lah yang sejati. Mereka pun sujud, takluk. 

Ya, kekuatan mukjizat. Musa telah “menaklukkan” mereka, membuat mereka percaya terhadap kesejatiannya, dengan bukti nyata. (bersambung)



Sumber: Majalah Syir’ah no.12, ditulis oleh Mujtaba’ Hamdi.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News