Top News :
Home » » Memaknai Mukjizat (Bagian 2)

Memaknai Mukjizat (Bagian 2)

Posted on Monday, 21 December 2015 | garis 15:51

Muslimedianews ~ Kisah tentang mukjizat adalah kisah tentang upaya menanamkan kepercayaan. Sebuah kesejatian, yang dibawa nabi dan sukar diuji. Dan, sebagaimana Musa, nabi-nabi lain pun berupaya “membuktikan” kesejatian melalui cara-cara yang khas budaya masanya. 

Al-Zarkasyi, dalam al-Burhan fi Ulum al-Quran (II: 58), memberi penjelasan, “Allah menciptakan mukjizat-mukjizat para nabi, tak lain merupakan sesuatu yang paling unggul pada zaman di mana seorang nabi dimunculkan. Sihir di zaman Nabi Musa adalah puncak pencapaian. Begitu pula bidang kedokteran di era Nabi Isa, juga seni bahasa di masa Muhammad SAW.” 

Jika penjelasan al-Zarkasyi ini diikuti, berarti masyarakat yang dihadapi seorang nabi memang masyarakat yang tersituasikan oleh kenyataan budaya zamannya. Konsekuensinya, keberhasilan seorang nabi ditentukan oleh sejauhmana “bukti” yang dibawanya mampu meruntuhkan “bukti-bukti” yang secara khusus paling diunggulkan masyarakat tersebut, mampu melampaui prestasi tertinggi peradaban sezaman. 

Daya itu sering dinamakan mukjizat: “bukti yang melemahkan bukti lawan”. Wajarlah jika al-Quran kerap menyebut mukjizat dengan istilah Ć¢yat, bayyinat, atau hujjah, alias “bukti”. Karena setiap peradaban adalah khas, setiap nabi memiliki cara “melemahkan bukti lawan” yang berbeda-beda, mempunyai bentuk “mukjizat” yang berlainan. 

Nabi Musa memiliki mukjizat yang mampu mengalahkan sihir-sihir kaumnya, yang tingkat tinggi sekalipun. Lain pula,  nabi Isa. Beliau mampu menyembuhkan orang buta-sejak-lahir, memulihkan penyakit sopak, bahkan menghidupkan orang mati. Bagaimana dengan nabi kita, Muhammad SAW? 

Kita tahu, mukjizat paling besar Rasulullah adalah kitab suci al-Quran. Al-Quran tidak dapat diungguli teks-teks sastra lain sezaman, meskipun masyarakat zaman Nabi terkenal sangat lihai dalam seni bahasa. Bahkan, dalam tuturan al-Quran sendiri, seandainya seluruh bangsa manusia dan bangsa jin bersatu padu membuat teks yang menyerupai al-Quran, tak bakal mampu (QS. 17: 88). Demikianlah, dengan mukjizat al-Quran, Nabi “membuktikan” kesejatian kerasulannya. Al-Quran menjadi hujjah kenabian Muhammad. 

Di zamannya, tidak dapat ditemukan “bukti” yang menunjukkan hal sebaliknya: teks yang melampaui al-Quran.Berbeda dengan mukjizat-mukjizat nabi lainnya, al-Quran bisa disaksikan umat hingga sekarang, tidak lenyap digulung sejarah. 

Tapi, apakah al-Quran juga hujjah di zaman kita, 14 abad lebih setelah zaman Muhammad? Tentu, kita mengimani tanpa ragu, al-Quran tetap menjadi hujjah di abad millenium ini. Tapi soalnya lebih dari itu. 

Dunia yang kita diami sekarang ini memiliki kompleksitas sosial yang lebih rumit. “Bukti” kebenaran masyarakat sekarang punya ciri tersendiri. Tidak mungkin pandangan-pandangan yang kita yakini sebagai kebenaran, yang kita ambil dari al-Quran (baik tentang negara, kemasyarakatan, sains, atau lainnya), dapat diterima begitu saja oleh masyarakat luas dengan cara mengatakan “ini berasal dari al-Quran, dari sebuah mukjizat”. 

Kalau masih cara macam itu yang kita lakukan, mukjizat tidak memiliki fungsi apa-apa, tidak dapat “melemahkan bukti lawan” (makna yang melekat pada mukjizat itu sendiri). Jika tetap dipaksakan, kita sendirilah yang kalah.

Lantas? Apa yang kita yakini sebagai kebenaran, akan diterima secara legowo sebagai kebenaran, jika, dan hanya jika kita bersedia membuka diri untuk membincangkannya. Dari perbincangan yang memungkinkan semuanya terlibat itulah suatu pengakuan akan lahir, sebuah kepercayaan bakal muncul. Dan, kita bisa mencipta lagi kisah itu: kisah tentang kesejatian yang terbuktikan. (habis)



Sumber: Majalah Syir’ah No.12, ditulis oleh Mujtaba’ Hamdi.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News