Top News :
Home » , , » Mencabut Pohon Radikalisme

Mencabut Pohon Radikalisme

Posted on Monday, 7 December 2015 | garis 13:48


Muslimedianews ~ IBARAT pohon, radikalisme Islam hanya bisa tumbuh subur karena tiga perkara. Pertama tafsir keagamaan sempit sebagai benihnya; kedua kemiskinan dan keterbelakangan umat sebagai tanahnya; dan ketiga, ketidak-adilan global sebagai air dan pupuknya. Siapa pun yang tidak menginginkan tumbuhnya pohon radikalisme ini harus mengadress ketiga factor tersebut secara serius, seimbang dan simultan.
 
Masing-masing factor ada penanggungjawab utamanya sendiri. Soal tafsir ajaran yang sempit jelas tanggungjawab para ulama atau para pemimpin Islam untuk mengatasinya;  Soal keimiskinan umat dengan segala implikasinya adalah pemerintah  dan para pengambil kebijakan di negara-negara Islam sebagai penanggungjawab utamanya; Sementara fator ketidak adilan global yang paling bertanggungjawab adalah Barat, terutama Amerika Serkiat dan kedua pengikut setianya, Inggris dan Australia.

Tafsir keagaman yang sempit memang bukan monopoli Islam. Semua umat beragama pernah atau bahkan sering direpotkan oleh pekerjaaan rumah (PR) mengurusi “penyakit” yang latent ini. Basisnya adalah kecenderungan sekelompok kecil orang yang mengaku paling benar (truth claim) di hadapan kitab sucinya, di hadapan Tuhannya, dan di hadapan siapa pun juga. Dalam Islam, kelompok ini tumbuh bukan belakangan ini saja, tapi sejak awal mula. Merekalah yang bertanggungjawab, antara lain terhadap pembunuhan sayidina Ali ra. Dan belakangan merekalah yang bertanggungjawab atas berbagai aksi kekerasan mematikan, seperti yang terjadi di WTC Amerika, di Bali, di beberapa tempat di Jakarta, di Italia, di London, dll. dengan korban tak pandang bulu baik muslim maupun lainnya.

Mereka menganggap pemahaman agama yang ada di otak dan benaknya sama absolutnya dengan yang ada di dalam cetak biru kitab sucinya. Seolah, otaknya dan kitab suci adalah identik dan tidak ada beda.  Oleh fanatismenya  yang membara, mereka lupa bahwa otaknya adalah otak manusia biasa, yang nisbi dan karenanya pasti tidak mampu merengkuh kemutlakan isi dan pesan kita suci yang ilahi itu. Mereka menganggap dirinya sebagai kebenaran itu sendiri. Siapa pun yang berbeda atau berseberangan dengan rumus keyakinannya adalah orang -orang “kafir, musyrik, munafik, atau ahli bid’ah”. Siapa pun yang beda keyakinan dengan dirinya adalah sesat dan hanya layak di lempar ke dalam neraka. Bisa dibayangkan, bagi seseorang yang hanya layak dilempar ke  “neraka”, maka sekedar dirobohkan rumahnya, disakiti tubuhnya, bahkan dilenyapkan nyawanya, adalah ringan adanya.

Merekalah orang-orang yang memandang agama tidak lain sebagai garis api atau pedang pemisah antara kawan dan lawan. Yang sekeyakinan dengan mereka adalah mukminin , kawan yang yang layak disayang; sementara yang beda keyakinan, meski barang satu inci, adalah kafirin, musuh yang harus dilawan. Dengan parameternya yang sempit, tentu saja sangat sedikit jumlah mukmin yang layak disayang, dan begitu banyak jumlah musuh yang harus dilawan. Kata mereka, dari sekian banyak orang yang mengaku muslim di Indonesia dan di dunia, maksimal hanya 10% saja yang benar-benar beriman dan layak menjadi kawan; 90% sisanya adalah orang-orang kafir, munafik, fasik dan ahlul bid’ah, “musuh-musuh”  yang harus dimusnahkan. Bahwa kenyataannya masih banyak yang fisik mereka biarkan, adalah soal waktu dan kesempatan saja. Sementara penistaan – secara teologis – terhadap siapa pun yang beda standar keyakinan, terus mereka lakukan.

Para ulama dengan keluasan ilmu dan kearifannya  perlu lebih sering berbicara dari hati kehati dengan mereka, orang-orang yang merasa berhak menghakimi keimanan orang lain ini. Jika tidak, maka citra Islam sebagai agama “damai” sesuai namanya, dan agama kerahmatan semesta sesuai dengan visi-Nya, akan terbantah dengan sendirinya. Mereka perlu diingatkan bahwa iman adalah  sesuatu yang sangat pribadi, lembut dan tersembunyi, dan karenanya hanya Allah saja yang pantas menghakimi:

لكل جعلنا منكم شر عة و منهاجا ولو شاء الله لجعلكم امة واحدة ولكن ليبلوكم فيما اتاكم فاستبقوا الخيرات الى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون “

“Untuk masing-masing umat diantara kalian Kami sediakan aturan dan jalan sendiri-sendiri; Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian Ia jadikan  satu umat dengan satu keyakinan saja. Akan tetapi Ia ingin menguji kalian dengan apa yang dturunkan-Nya Berlomba-lomba sajalah kalian dengan berbuat kebaikan bagi sesame Kepada Allahlah kalian semua akan kembali, kelak Dia akan menjelaskan perihal duduk masalah (keyakinan) yang kalia perselisihkan itu” (Al-Maidah [5]: 48).
 
Keyakinan bukan urusan manusia untuk menghakiminya. Biarlah masing-masing manusia dengan kejujuran nurani dan akal budinya berdialog dengan ayat-ayat suci sambil terus memohon petunjuk-Nya. Yang penting bagi manusia adalah berbuat yang terbaik bagi sesame. Sementara siapa yang sungguh-sungguh terbimbing (muhtadin) di jalan-Nya dan siapa yang sungguh-sungguh tersesat (dlallin), Allah saja yang paling menegtahui:

“.ان ربك هو اعلم بمن ضل عن سبيله و هو اعلم بالمهتدين “

“Tuhanmu-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang lebih tahu siapa yang benar-benar mendapatkan petunjuk-Nya” (An-Najm [53]: 30; An-Nahl [16]: 125; Al-Qalam [68]: 7).

 Sejalan dengan ayat di atas, Imam AL-Ghazali dalam kitabnya “Faishalut Tafriqah baynal Islam waz Zanadiqah, menegaskan sbb:

 … فيجب ان ترعوا من تكفير الفراق و تطويل اللسان فى اهل الاسلام و ان اختلفت طرقهم

ما داموا متمسكين بقول لا اله الا الله محمد رسول الله..

“Suatu keharusan bagi umat Ilam untuk menjaga diri dari mengkafirkan orang yang berbeda keyakinan dan melancarkan tuduhan sejenis terhadap sesame muslim yang berbeda jalan, selagu mereka masih berbegang teguh pada keyakinan tauhid, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah..”.

Tentang faktor kemiskinan, semua orang tahu, siapa Misno, Salik, Ikbal, Asmar Latin Sani dan para pelaku terror bom bunuh diri lain. Pertama-tama mereka adalah anak-anak manusia yang karena kemiskinannya, menjadi tidak cukup terdidik, pengangguran atau setengah pengangguran dan terbuang. Pada akhirnya, karena kemiskinan, mereka gagal menemukan makna pada “hidup“nya. Sementara mereka berfikir bahwa hidupnya hanya merepotkan diri sendiri dan keluarganya, tiba-tiba ada seorang yang dengan costum dan bahasa surgawinya menawarkan, bahkan menjanjikan, keber-arti-an diri yang luar biasa. Dan keberatrtian diri itu, sekali lagi bukan pada hidupnya, melainkan pada kematiannya, syahid!  Janji itu diberikan, tentu dengan memanipuliasi konsep “mati di jalan Allah” , seperti dalam ayat berikut:

” ولا تحسبن الذين قتلوا فى سبيل الله امواتا بل احياء عند ربهم يرزقون “

“Jangan sekali-kali mengira orang-orang yang syahid terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak, mereka tetap hidup di sisi Tuhannya, kaya raya penuh dengan limpahan rizki..” (Ali Imran [3]: 169).

Sementara Nurdin M Top dan DR. Azahari sendiri tidak memilih jalan surganya  dengan bom bunuh diri utk membunuh orang lain, seperti yang mereka tawarkan kepada  Misno dkk. Minimal karena keterdidikannya, mereka tetap yakin bahwa makna dirinya bukan pada kematiannya, melainkan pada hidupnya, pada keahliannya (mengindoktrinasi orang dan merakit bom utk diledakkan orang lain).  Di Indoensia, dan di banyak Negara Islam lainnnya umat yang merasa hidupnya tak bermakna karena kemiskinan yang dideranya, atau merasa tak berdaya karena terampas hak-hak dan kebebasannya, begitu banyak jumlahnya. Dari tahun ketahun jumlah mereka terus bertambah. Anak-anak manusia dengan kondisi seperti itulah tanah yang sangat baik dan siap untuk menerima benih radikalisme melalui indoktrinasi keagamaan yang sederhana dan penuh tawaran jalan pintas.

Memang, kemiskinan dan perasaan terampas bukan monopoli umat Islam. Akan tetapi kemiskinan yang menimpa masyarakat yang hidup di bumi Allah yang kaya, dengan sumberdaya alam yang melimpah dan beraneka,  adalah fakta sangat menyakitkan  yang  hamper-hampir khas pada umat yang satu ini, umat Islam. Siapa pun diantara mereka yang menyadari fakta ini akan gampang disulut amarahnya. Dan, siapa pun tahu bagaimana perilaku orang yang marah. Kenapa fakta ini meyakitkan? Karena kemelaratan yang menimpa umat Islam tidak sepenuhnya akibat kesalahan umat sendiri. Kemiskinan yang menimpa umat Islam secara menyeluruh, dari bagian Timur Nusantara sampai ke ujung barat Kordoba,  sebagian besar adalah akibat salah urus dan perilaku korup dari para penguasa dan pemimpinnya. Jika di sana ada kemalasan dan kebodohan, itupun akibat dari tiadanya daya dukung yang dikorup itu.

Para penguasa di negeri-negeri Islam umumnya tidak punya visi; mereka berkuasa semata-mata karena ingin berkuasa. Pertanyaan “mau apa dengan kekuasaannya hendak dibawa kearah mana rakyat dan bangsanya, dan dengan strategi bagaimana” sama sekali tidak menarik minat mereka. Obsesinya hanya satu, berkuasa dan terus berkuasa. Dimana-mana, kekuasaan untuk kekuasaan adalah sesuatu yang sangat mahal dan berdampang fatal bagi rakyatnya. Ia butuh modal uang yang sangat banyak, untuk membeli suara dan merawat mesin kekuasaan yang diraihnya. Maka korupsi pun menjadi strategi baku yang selalu dijalankan oleh para elit penguasa di negeri-negeri Islam dengan segala cara. Bayangkan kalau hal itu terjadi – dan di Indonesia semua orang bisa melihatnya –  mulai dari jajaran penguasa di  pusat  sampai ke tingkat desa yang paling rendah. Tidak peduli, apakah mereka eksekutif, legislative dan judikatif.

Maka, meskipun utang menumpuk luar bias banyak, dan kekayaan alam baik di dalam perut bumi, di atas permukaan bumi dan di dalam laut, sudah dikura secara semena-mena, kemiskinan tetap merajalela, kelaparan terjadi di mana-mana, berbagai penyakit rakyat terus  dan angka drop out sekolah dan pengangguran tanaga kerja semakin merata. Sementara kemewahan hidup para pejabat  dengan uang rakyat semakin mencolok mata. Jadi, jika para penguasa Negara-negara Islam serius menghadang radikalisme, bukan sekedar berdiplomasi, maka jalan paling effektif adalah: berhentilah korupsi dan gunakanlah uang Negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Kedua  hal ini memang saling mempersyaratkan. Tidak mungkin kesejehteraan rakyat terwujud, tanpa menghentikan korupsi; juga tidak mungkin korupsi berhenti, tanpa komitmen para pejabat untuk mensejahterkan rakyatnya.

Pertanyananya: apakah para penguasa itu sudi meninggalkan kebiasaan korupsi demi kesejahteraan rakyatnya? Sungguh, hanya pejabat pemerintah dan pemimpin Negara yang punya nurani yang mau peduli dengan kesejahteran rakyatnya. SUdah tiba saatnya, kita smeua berdoa kepada Tuhan, dengan cara kita masing-masing, kiranya hanya mereka yang berhati nurani sajalah yang boleh memimpin negeri ini. Yang tidak, kiranya segera disadarkan, atau singkirkan saja secepatnya. Amiin.

Tantang ketidak adilan, tegasnya kedzaliman global, sebagai air yang menyirami radikalisme di dunia Islam, rasanya semua orang di muka bumi mengatahuinya dengan jelas dan gamblang. Bahwa secara politis banyak yang tidak berani mengatakannya, atau bahkan mencoba mengingkarinya, adalah soal lain. Pertama, yang paling mencolok, adalah ketidak adilan yang diperlihatkan melalui gabungan kekuatan militer, ekonomi dan politik oleh kekuatan Barat dibawah komando Amerika sang superpower tunggal di wilayah Negara-negara Islam, mulai dari Turkey, Palestina, kemudian di wilayah Balkan, Afganistan, Irak dan tampaknya sebentar lagi di Iran.  Kalau mau bisa juga kita sebut korban lain: Libiya, Kuwait, Sudan, Somalia, Libanon, Syria, dan tidak ketinggalan Indonesia.

Dari semua rentetan peristiwa kesewenang-wenangan tersebut nampak jelas bahwa yang tengah menjadi acuan “kebenaran” atas nama HAM atau Kebebasan di abad modern ini bukan logika dan apalagi nurani, melainkan kekuatan ( power / syaukah ). Kebenaran adalah kekuatan; sejahat apa pun asal kuat ia akan menjadi benar. Siapa paling kuat, dialah yang paling benar. Maka barang siapa yang berhadapan dengan yang paling kuat, mereka akan menjadi pihak yang salah, dan  terus dipersalahkan.

Kedua, ketidak adilan, di bidang ekonomi. Semua orang tahu, bahwa Negara-negara Islam pada umumnya kaya dengan sumberdaya alam. Namun karena kelemahan sumberdaya manusianya, kekayaan alam Negara-negara Islam dikuasai oleh atau dikuasakan pengelolaannya kepada Negara-negara Barat. Maka yang paling banyak mendapatkan keuntungannya pun tentu adalah Barat.  Bahwa keuntungan yang diperoleh secara luar biasa di dan dari Negara-negara Islam itu kemudian dipakai oleh mereka untuk menggagahi Negara-negara Islam kembali, itulah “nilai lebih” yang telah membikin perasaan sakit dan terhina di lubuh hati umat Islam semakin mendalam. Karena, dengan demikian, sebenarnya Negara-negara Islam telah membiayai dan memperkuat pihak yang justru akan telah akan mendzalimi umat Islam sendiri. Ini kedzaliman orang yang luar biasa, sekaligus kedunguan umat Islam yang lebih luar biasa.

Ketiga, lembut dan tidak terlalu terasa tapi tidak kalah serius, adalah penjajahan budaya. Jika dimaksudkan di sini adalah ilmu oengetahuan, teknologi dan bahasa sebagai medianya, tidak lah mengapa. Akan tetapi jika sudah sampai pada coal citara rasa tentang mana yang baik mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, mana yang utama dan mana yang kurang utama, mana yang dianggap maju dan yang terbelakang, maka sungguh itu sudah masuk pada wilayah hati dan jati-diri yang sangat dalam. Di sini, kita umat Islam benar-benar telah kalah telak oleh Barat dalam segala bidang. Dan dalam posisi kalah telak ini, maka dunia Islam sekaligus adalah pihak yang salah telak. Sekali lagi, karena di sana tidak ada kebenaran sebagai kebenaran; yang ada adalah kebenaran sebagai identik dengan kekuatan dan kemenangan. Yang kuat dan menang, dialah yang benar, bukan yang lain. Yang lemah dan kalah, dialah yang salah; bukan yang lain. 

Dari paparan di atas, hanya ada satu amar: Umat Islam harus bangkit  membenahi diri secara mendasar dan memperkuat diri; di segala bidang: sumberdaya manusianya, ekonomi, social, politik, budaya, ilmu opengetahuan teknologi, dan tidak kalah penting juga  “militer”.  Tidak ada gunanya, kelemahan ini ditutuptutupi dengan hanya menyalahkan orang lain, dan mengutuknya. Orang lain (Barat) terlalu kuat untuk kita salahkan, dan terlalu digdadaya untuk kita kutuk. Bahkan sekiranya diantara kita ada 100 imam samudera – nyatanya kini hamper tidka ada lagi generasi pelanjutnya – yang bisa bikin bom rakitan, maka seribu atau sejuta bom rakitan tangan, tidak akan sebanding dengan satu hulu nuklir dari ribuan hulu nuklir yang mereka miliki.

Bahwa mereka telah melakukan kedzaliman yang tidak pernah dapat dibenarkan oleh akal sehat, itu urusan mereka. Tuhan akan membalasnya di akhirat kelak, atau (jika tidak percaya pada balasan Tuhan), nurani segenap manusia dan sejarah mencatatnya. Maka daripada energi umat yang terbatas ini dihabiskan untuk percuma, maka sekali lagi kita kerahkan saja seluruh potensi itu untuk membenahi diri kita, memperkuat dri kita.  Bukan untuk melakukan balas dendam dengan melancarkan kedzaliman kepada pihak yang selama ini telah bertindak dzalim habis-habisan kepada kita. Kita bersumpah, “Sekali-kali TIDAK”. Melainkan untuk memastikan bahwa kedzaliman terhadap siapa pun, negeri / bangsa mana pun, dan oleh siapa pun bangsa / negeri mana pun, tidak boleh terjadi lagi, sekali dan selamanya di jagat raya ini [].


Oleh: KH. Masdar F. Mas’udi, Syuriah PBNU.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News