Top News :
Home » , , » Ngaji Islam ala Aswaja Bersama Kiai Ma’ruf Khozin

Ngaji Islam ala Aswaja Bersama Kiai Ma’ruf Khozin

Posted on Wednesday, 30 December 2015 | garis 18:57

Kiai Ma'ruf Khozin bersama PCNU Balikpapan, 28 Desember 2015.

Pontianak, Muslimedianews ~ Alhamdulillah, serangkaian tour dakwah KH. Ma’ruf Khozin di Pontianak dalam rangka membumikan paham-paham keislaman ala manhaj ahl sunnah wal jama’ah telah sukses dan lancar. Hal ini terbukti dengan terlaksananya berbagai macam majlis ta’lim yang beliau isi selama dauroh ini. Alhamdulillah, penulis sempat hadir dalam sebuah pengajian yang mungkin terakhir dari rangkain tournya di bumi khatulistiwa. Pada pengajian kali ini beliau menyampaikan sebuah materi yang cukup urgen untuk di bicarakan dan di diskusikan dengan singkat. Materi yang mula-mula beliau sampaikan adalah rumusan genealogi terbentuknya Islam Nusantara sebagai sebuah corak keislaman produk akulturasi antara nilai universal Islam dengan nilai tradisi lokal. 
Dakwah dan Pengaruh Atas Terbentuknya Paham Keagamaan
Dalam pemaparan pertama ini, beliau berusaha mengungkapkan hakikat makna Islam Nusantara ini dengan melakukan pembagian peta dakwah yang di berikan oleh Rasulullah kepada para sahabat. Pada waktu itu, ada dua jalur dakwah yang harus di tempuh oleh umat Islam dalam rangka menyebarkan Islam. pertama gerakan dakwah jalur jihad. Yang kedua adalah gerakan dakwah garis kultur. 
Gerakan dakwah dengan versi pertama, dilancarkan ke wilayah yang masih berada dalam cengkeraman kekaisaran Persia dan Romawi. Daerah-daerah ini ini seperti Iraq, Persia, Damaskus dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa daerah yang waktu itu dikuasai oleh Islam bukan dengan jalur ini, tapi melalui jalur kulturalisasi dan pribumisasi. Islam yang lahir dengan proses dakwah pertama ini lahir dengan corak Islam yang sarat dengan nuansa Arab. Hal ini di karenakan masuknya Islam ke daerah ini melalui jalur “pemaksaan” nilai ke dalam tradisi lokal melalui jalur peperangan. Jalur peperangan dan penaklukan inilah yang merupakan fondasi pembentuk pola keislaman untuk selanjutnya di wilayah produk dakwah pertama. 
Corak dominan yang menjadi ciri khas keberislaman di daerah ini adalah timbulnya mode pembumian nilai universal Islam dengan upaya menonjolkan corak formalitas keberagamaan. Sementara di sisi lain, nilai Islam secara hakiki hanya terbungkus dalam bingkai formalitas itu. Hal ini dikarenakan cara masuknya nilai Islam untuk yang pertama kali di daerah seperti ini melalui jalur penaklukan, dan berbicara mengenai penaklukan maka siapa yang menang dialah yang akan berkuasa. Dengan sistem demikian, tampaklah bahwa pada era keterbentukan basis Islam di daerah itu kental dengan warna formalitas seperti tata cara berpakaian dan sebagainya. Pada akhirnya pengaruh paham keberagamaan yang seperti ini juga merambah dalam dunia ideologi mereka. Yang mana nilai-nilai formalitas dalam beragama harus selalu dikedepankan, sementara hal-hal yang bersifat substansif tidak begitu menarik bagi mereka. 
Corak keberislaman yang lebih mengedepankan sisi formalitas ini pada akhirnya juga merambah ke dalam tata cara beragama dan berbangsa mereka. Seperti menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi dasar negara. Karena formalitas agama bagi mereka sangat penting dikedepankan demi izzul Islam wal Muslimin. Maka negara pun dijadikan sebagai sebuah wadah untuk menghidupkan nilai Islam secara formalitas. Namun secara substansif pergerakan nilai Islam di dalamnya belum tentu lahir. Maka tak heran, di negara dengan pola keagamaan yang demikian, banyak lahir pertentangan dan pertikaian sesama muslim. Hal ini dikarenakan masing-masing dari satu paham keislaman yang mengedapnkan formalitas berusaha berjuang untuk mengedapankan bahwa cara keislaman merekalah yang lebih unggul untuk di jadikan sebagai ideologi ideal dalam beragama dan bernegara. 
Hal ini dapat kita lihat di negara-negara yang menjadikan Islam sebagai ideologi bernegara telah dikuasai oleh salah satu dari sekian corak keislaman yang ada di negara itu, seperti Arab Saudi, dimana secara ideologi keagamaan di kuasai oleh dinasti Bani Sa’ud yang notabene bercorak puritan ala Wahabi dengan madzhab Hanbali. Kita dapat melihat bagaimana keadaan muslim yang tidak sepaham dengan tata cara beragama dinasti yang menguasai mereka. Ulama-ulama yang tidak sepaham dengan Wahabi ini pada akhirnya terus menerus dikucilkan dan dirampas hak agamanya. Penindasan dan perampasan hak terus mereka lakukan atas nama negara dan agama. Di sinilah fenomena riilnya. Dimana Arab Saudi di bawah kekuasaan Bani Saud mengekang berkembangnya ajaran Islam yang tidak sepaham dengan ideologi puritan mereka. 
Begitu juga yang terjadi di Iran dan Iraq, dimana dua wilayah ini berada di bawah naungan kekuasan Islam berideologi Syiah. Kita dapat melihat bagaimana nasib warga muslim yang berpaham Islam ala sunni. Mereka dirampas hak agamanya dan dikekang sedemikian rupa. Pembantain saudara sendiri pun tak dapat dihindarkan. Inilah yang terjadi di wilayah Islam yang umat muslimnya bersikeras memahami Islam dalam bingkai formalitas yang kaku. Dan masih banyak kasus yang bisa dijadikan contoh akibat adanya pemaksaan nilai baku formalitas Islam ke dalam sebuah negara. Hal ini semuanya diakibatkan adanya pemaksaan doktrin keagamaan Islam yang partikular ke dalam pluralitas pemahaman yang ada dalam satu negara. Dikatakan partikular, tak lain karena terjadinya perbedaan pemahaman dan tata cara beragama yang terjadi di dalam dunia Islam saat ini. Maka bila satu dari sekian paham itu berusaha bersaing meraih kekuasaan tertinggi atas nama Islam, maka sesungguhnya bukanlah Islam yang ingin mereka tampilkan, tapi golongan dan tata cara beragama mereka yang mereka kedepankan. 
Islam Nusantara = Produk Dakwah Garis Kultur
Kalau corak keislaman sebagaimana disebutkan di atas lahir dari rahim Islam yang tersebar karena proses penaklukan, maka jalur dakwah kedua yakni jalur dakwah kultural telah memproduksi warna keislaman yang berbeda dengan corak yang pertama. Dakwah kultural ini tersebar ke berbagai wilayah yang waktu itu belum tersentuh dengan berbagai peradaban. Baik peradaban Persia maupun Romawi. Dengan kata lain wilayah yang masuk dalam peta dakwah kedua ini notabene daerah yang masih murni berpegang pada tradisi agama primitif atau Hindu-Budha. Agama primitif adalah agama yang orientasi keagamaanya masih sangat erat dengan format tradisi yang ada dalam satu naungan lokalitas. Jadi secara sederhana agama ini masih sangat konservatif dan diisi oleh kaum yang masih jauh dari sentuhan peradaban kemajuan. Agama seperti ini tentu sangat berbeda cara menghadapinya daripada menghadapi agama Nasrani, Yahudi, Zoroaster dan sebagainya yang sudah menjadi agama di kota-kota berperadaban tinggi. Maka tak heran untuk berdakwah dan mengislamkan mereka, Islam harus dapat melakukan sebuah terobosan agar dapat menemukan eksistensinya. Sebab bila wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan emperium Persia-Romawi itu tidak dibebaskan, maka keserakahan dua emperium ini akan semakin menjadi-jadi hingga akhirnya agama Islam pun akan musnah di bawah kekuasaan mereka. Jadi pilihan dakwah dengan metode Jihad seperti ini memang sangat diperlukan dan relevan dalam rangka membebaskan umat dari belenggu imperial. Dan hal ini juga bijak dilakukan demi tegaknya Islam. 
Untuk daerah yang belum tersentuh keserakahan dua imperium ini, Islam mengajarkan sebuah metode dakwah kultural sebagai jalan untuk membimbing mereka dengan lembut. Dakwah ini lumrahnya dilakukan oleh para ulama-ulama, pedagang, da’i, sufi dan petualang Muslim ke daerah-daerah yang dalam dunia peradaban masih sangat primitif. Inilah nantinya yang akan membentuk formasi ontologis dan operasional epistemik untuk menentukan “warna Islam” yang lahir di Nusantara. Mengingat Nusantara adalah salah satu wilayah yang masuk dalam peta dakwah kultural, maka secara otomatis memiliki warna berbeda dengan realitas Islam yang berkembang di wilayah yang di lalui jalur Jihad dan penaklukan. 
Warna Islam yang lahir di Nusantara sangat erat dengan nusansa sufistik. Hal ini sangat wajar karena adanya beberapa asumsi historis yang mengatakan bahwa: Islam di Indonesia pertama kali di bawa bukan oleh pedagang dari Arab, tapi oleh para Sufi dari Persia, India dan Gujarat. Ini dikuatkan dengan lahirnya corak Fiqh-Sufistik yang berkembang melalui lembaga dunia pesantren. Sebuah lembaga keagamaan yang tertua dalam sejarah Islam Indonesia. Maka kita masih menemukan sampai sekarang kajian kitab Bidayat al-Hidayah, Ihya’ Ulum ad-Din, Nasho’ih al-Ibad, Sabil al-Muhtadin dan sebagainya di dunia pesantren. Semua kitab itu bercorak fiqh sufistik ala Imam Ghazali. Kitab itu bukan hanya di kaji zaman sekarang, tapi jauh sebelum sejarah mencatat, bahwa kitab ini sudah menjadi bahan kajian wajib di dunia Pesantren. Pandangan sejarah yang demikian itu antara lain juga diprakarsai oleh KH. Abdurrohman Wahid atau Gus Dur dengan dukungan pakar sejarah lainnya. Dari sinilah kita dapat membaca bentuk formasi Islam Nusantara yang di perkenalkan oleh Nahdatul Ulama. 
Formasi Ontologis Islam Nusantara
Setelah dipaparkan peta dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada sahabat dalam menyebarkan Islam. maka nampak jelaslah bahwa Islam Nusantara adalah sebuah terminologi sederhana untuk menggambarkan secara komprehensif realitas Islam yang berkembang di Nusantara. Adapun formasi dasarnya adalah kenyataan logis sejarah dakwah yang telah melahirkan Islam di Bumi Nusantara sebagaimana dijelaskan dengan baik oleh KH. Ma’ruf Khozin di atas bahwa Islam di Nusantara adalah sebuah Islam yang mempunyai warna dan corak berbeda dari belahan dunia Islam lainnya. Corak keislaman di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh Gus Dur adalah mode keislaman yang dipenuhi dengan warna Fiqh-Sufistik.  
Ini adalah hal yang sangat unik, dimana nilai-nilai formalitas Islam dibungkus rapi dengan nuansa Tasawuf. Jadi formalitas keagamaan yang dijalani oleh muslim Indonesia tidaklah hanya didominasi nuansa eksoterik tapi juga dipenuhi dengan warna esoteris. Begitu juga dalam ranah berbangsa dan berbudaya, Islam menyelipkan diri sebagai sebuah nilai fleksibel dan universal dalam kehidupan muslim Indonesia. Dari sini nampaklah bahwa Islam yang berkembang di Indonesia lahir dalam bingkai formalitas dan substansif yang seimbang. Umat Islam Indonesia tidak pernah memaksakan ideologi Islam sebagai ideologi negara secara formalitas. Tapi membiarkan nilai-nilai Islam terus tersemai dengan subur secara substansif dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya sampai sekarang Islam tetap menjadi agama dominan di Indonesia. 
Wajah keislaman Indonesia ini sangat tampak dengan adanya dunia pesantren sebagai basis keberislaman khas Indonesia. Pesantren adalah sebuah lembaga keagamaan tradisional yang di dalamnya nilai-nilai keisalaman Nusantara berangkat. Dunia pesantren sampai saat ini masih dikenal sebagai lembaga keagamaan yang menampilkan nilai Islam secara formalisitis dan subsatnsif. Maka tak heran kalau pemikir-pemikir tradisional-modern menjadikan pesantren sebagai wahana komprehensif dalam menelaah realitas Islam yang berkembang di Indonesia. 
Inilah karakteristik yang membedakan antara Islam yang berkembang di wilayah selain Nusantara. Dimana nilai substansif dapat menjiwai aliran tradisi yang berkelindan dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia. sedangkan aspek formalitas yang berlebihan tidak begitu menarik bagi mereka. Mari kita lihat santri-santri yang berasal dari dunia pesantren, mayoritas tidak terjebak dalam bingkai formalitas yang berlebihan ini. 
Lantas kenapa Islam Nusantara ini di wacanakan?
Dengan pemaparan di atas, tampaklah bahwa Islam Nusantara bukanlah sebuah aliran atau sebuah paham yang patut dicurigai bahkan disesatkan dengan berbagai argumen. Karena kajian seperti ini sebenarnya sudah selesai sejak lama. Fakta sejarah bahkan membuktikan kepada kita bahwa Islam Nusantara adalah sebuah terminologi untuk menggambarkan corak komprehensif dan kompatibel dengan fakta Islam yang berkembang di Nusantara. 
Lantas kenapa akhir-akhir ini terminologi Islam Nusantara ini di wacanakan? Terutama setelah menjadi tema akbar dalam Muktamar Nahdatul Ulama kemarin, Istilah ini terus saja di baca dan di telaah. Bukankah kalau sebagaimana pemaparan diatas “Islam Nusantara” tak lebih dari sekedar Istilah? Tapi bagaimana mungkin terminologi lantas mengundang pro dan kontra di publik?. 
Jawaban untuk pertanyaan yang pertama “alasan kenapa Islam Nusantara ini diwacanakan” adalah: bahwa melihat fakta pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa dunia pemikiran dan pemahaman kita saat ini tengah terhimpit oleh dua blok aliran pemikiran. Yang pertama pemikiran ekstrim kanan yang dalam hal ini di wakili oleh Wahhabi, sebagai sebuah gerakan ideologi puritan khas Arab. Sedangkan yang kedua adalah gerakan ekstrim kiri terejawantahkan dalam pemikiran liberal-sekuler. Sebuah produk pemikiran yang banyak mengimpor tradisi berfikir gaya Barat. Dua pemikiran ini sama-sama tertolak di Indonesia karena terjadinya ambivalensi dengan budaya dan tradisi berfikir setempat. 
Dua kutub yang sama-sama mencoba menawarkan pemikiran baru terhadap cara beragama di Indonesia ini sering kali hanya mengganggu stabilitas berfikir umat. Bukan menyelesaikan masalah, tapi kadang hanya menambah perbendaharaan masalah. Dari sinilah Nahdatul Ulama sebagai sebuah ormas Islam terbesar di Indonesai mencoba melakukan ikhtiar mencari jalan keluar dari dua kutub ekstrim ini. Islam Nusantara sebagai sebuah terminologi ditawarkan sebagai sebuah paradigma baru yang dianggap kompatible dalam rangka merealisasikan dan mengembalikan warna Islam yang khas Indonesia. jauh dari pengaruh ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Inilah alasan mengapa Islam Nusantara mengundang para pemikir muda Muslim untuk menggelontorkannya ke dalam tataran pemahaman Islam di Indonesia. 
Sedangkan jawaban untuk pertanyaan fundamental kedua “lantas kenapa hanya terminologi lantas mengundang pro dan kontra?, bukankah sebuah istilah tidak lebih dari sekedar itu?, dalam artian, kalau ia hanya nama dari sebuah realitas yang sudah berkembang sejak lama, kenapa lantas banyak terjadi kontra konsepsi terhadap terminologi ini?”: adalah bahwa, jika sebuah terma dijadikan sebuah paradigma bergerak dan befikir, maka ia memerlukan metodeologi operasional yang tepat. Kali ini Islam Nusantara sudah bukan lagi sekedar terminologi yang hampa. Tapi ia sudah beranjak menjadi sebuah paradigma baru yang di tawarkan oleh pemikir Muslim Indonesia dalam rangka meminimalisir ideologi transnasional yang masuk ke dalam Indonesia dan di terapkan di Indonesia secara tidak proporsional. Dan oleh karena itu, ketika “Islam Nusantara” sudah terikat dengan metodologi operasional layaknya sebuah paradigma, maka ia pun tak dapat lagi melepaskan diri dari berbagai sentuhan pemikiran yang mencoba menawarkan sistem operasional penerapannya. Nah, dalam ranah inilah lahirnya dialektika pemikiran yang tak akan pernah terpisah dari yang namanya tesis, antitesis kemudian sintesis. 
Bagaimanapun jalannya dialektika pemikiran itu, setidaknya jangan sampai berargumen tentang Islam Nusantara dengan statemen yang tidak realistis. Baik ia bersikap pro atau kontra, maka semuanya harus didasarkan dengan argumen yang faktual dan tidak mengarang-ngarang sesuatu demi menjatuhkan argumentasi seseorang. Yang perlu di pertegas kembali bahwa “Islam Nusantara” ini bukanlah sebuah aliran, paham dan sebagainya. Ini adalah sebuah erminologi yang di gunakan guna melakukan ikhtiar membentuk sebuah paradigma baru dalam menampilkan wajah Islam Indonesia yang sesuai dengan hakikat ajarannya. 
Oleh: Muhammad Hasanie Mubarok, Mahasiswa IAIN Pontianak/ Alumni Ponpes Al Jihad Pontianak/ PMII IAIN Pontianak, 28 Desember 2015.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News