Top News :
Home » » Sekjen RMI NU: Akar Radikalisme Global Diantaranya Faktor Kemiskinan

Sekjen RMI NU: Akar Radikalisme Global Diantaranya Faktor Kemiskinan

Posted on Wednesday, 2 December 2015 | garis 13:49

Jakarta, Muslimedianews ~ Para pemimpin dunia tengah bergulat untuk mengatasi Islamic State of Iraq and Siria (ISIS) paska serangan Paris. Beberapa bertanya-tanya apakah reformasi Islam harus menjadi bagian dari solusi penanganan ISIS.

Dalam sebuah editorial, Daily Telegraph, politisi Australia Peter Costello bekomentar bahwa serangan itu “tidak ada hubungannya dengan Islam”. Dia mengatakan serangan itu jelas berasal dari orang-orang membunuh atas nama Islam.
 
“Jelas itu ada hubungannya dengan Islam. Dan orang-orang yang melakukannya berpikir bahwa segala sesuatu berkaitan dengan Islam. Itulah mengapa mereka berteriak Allahu Akbar sambil menembakkan senjata dan meledakkan bahan peledak mereka, “tulisnya rilis News Com AU.

Sebagian besar Muslim hidup dalam damai, tetapi Costello mengatakan untuk sebagian kecil (minoritas umat Islam), interpretasi mereka atas Al-Quran digunakan untuk membenarkan perilaku ekstremis.

“Apa yang kita butuhkan dari para ulama Islam untuk memberitahu kami, dan yang lebih penting untuk memberitahu calon jihadis, mengapa bagian yang sulit dari Al-Quran dan Hadist tidak harus dipahami secara harfiah dan tidak harus diikuti hari ini,” kata Costello .

Benar, Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) diasosiasikan sebagai orang-orang yang mengaku sebagai Muslim. Tapi nomor satu korban kelompok teror barbar ini adalah Muslim. ISIS telah menewaskan ribuan umat Islam di Timur Tengah, termasuk pemenggalan Muslim Sunni di Irak karena tidak mau memberikan loyalitas kepada mereka, mengeksekusi Imam untuk tidak menyampaikan kepada mereka, dan bahkan membunuh seorang Imam di Irak untuk hanya mencela mereka.

Dan hanya beberapa hari sebelum serangan teroris brutal di Paris, ISIS meluncurkan serangan teroris terkoordinasi di Beirut, menewaskan 43 dan melukai 239 orang yang itu Muslim. Namun, berbeda dengan Paris, media Amerika ‘metutupi’ serangan Beirut. Rupanya Muslim yang dibunuh oleh ISIS tidak cukup menarik penilaian negara-negara dan media Barat.
 
Solusi Konstruksi Pesantren Indonesia, Pentingnya Menata Kemandirian

Sebagaimana dikutip Arrahmah di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sekretaris Jenderal Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama, KH. Miftah Faqih, menyampaikan akar persoalan radikalisme dan ektrimisme global, diantaranya faktor kemiskinan.

“Orang menjadi tidak stabil ketika lapar. Mudah menjadi sub-ordinat orang dengan iming-iming, dan mudah menjadi agen siapapun, termasuk kematian dirinya. Justifikasi agama dimunculkan, lalu bom bunuh diri pun dengan mudah bisa menjadi jihad suci.” ungkapnya.

Mengutip pesan Lukmanul Hakim dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Juz 2, hal. 32. Kemiskinan atau kefakiran akan menjadi bencana bagi siapapun, khususnya umat Islam, yang mendorong pada jurang kehancuran.

“Ketika orang menjadi fakir maka ia akan ditimpa tiga musibah. Pertama, agamanya tidak merdeka. Kedua, hilang kecerdasannya. Dan yang paling menyakitkan ketiga, hilang kewibawaannya sehingga disepelekan orang.” terangnya

Menegaskan, KH. Miftah Faqih menggambarkan proses internalisasi radikalisme pada diri seseorang.

“Orang menjadi lapar dalam kemiskinan, maka dia akan mudah terprovokasi dengan isu ketidakadilan. Ketidakadilan mendapat justifikasi prinsip keimanan yang berhenti pada credo yang sifatnya hitam putih, iman-kafir. sehingga dalam sikap hidup muncul karakter keras dan kasar sampai pada nalar kehadiran orang lain sebagai ancaman, kompetitor yang mengancam eksistensi saya. Sehinggga harus saya habisi. Ini jauh dari ajaran Islam yang penuh kasih sayang. Landasan kita dua kalimat Arrahman dan Arrahim, yang selalu mengiringi Bismillah.” imbuhnya

Menurut KH. Miftah Faqih, model-model beragama ala kelompok radikalis dan ekstrimis sama sekali tidak menggambarkan wajah Islam. Pelakunya tidak serius dengan keber-Islam-annya.

“Kalau kita serius dengan Islam, Islam saja itu sudah jelas, artinya kedamaian. The ultimate goal Islam adalah membangun peradaban. Bukan menghancurkan peradaban. Terkait ISIS, ISIS berhenti pada credo, ISIS kejahatan. Kriminal, tapi dibungkus dengan jargon Islam. itu politik. Pure kriminal. Maka generasi muslim harus ekstra hati-hati. Ideologi ISIS tidak begitu menakutkan, tetapi uangnya yang bisa membayar orang untuk melakukan apapun. Mencegah itu, untuk itu santri harus mandiri.” tegasnya. (Arrahmah)

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News