Top News :
Home » , » Cadar, Tradisi Bukan Ibadah

Cadar, Tradisi Bukan Ibadah

Posted on Thursday, 7 January 2016 | garis 14:21


Pontianak, Muslimedianews ~ Sebuah buku kompilasi makalah ulama-ulama Mesir yang di terbitkan oleh Darul Kutub al-Mishriyyah telah menggunakan judul diatas dalam rangka memberikan pemahaman tentang keberadaan cadar yang sebenarnya. Buku itu adalah kompilasi dari makalah yang di tulis oleh 4 ulama terkemuka di Mesir. Yakni Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq, Syekh Muhammad Sayyid Thantawi, Syekh Abdul Halim Abu Syaqah, dan Mufti Jumhur Syekh Ali Jumu’ah. di dalamnya juga di muat pandangan Syekh Muhammad Ghazali terhadapa cadar, dan pembahasan rinci seputar fatwa cadar yang beredar di Mesir oleh Darul Ifta’ al-Mishriyyah. 
Dari judul kitab demikian, kita sudah dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa di negara seperti Mesir cadar bukan sebuah hal yang bernilai Ibadah dengan sendirinya. Hal ini berdasarkan keputusan Ulama dan Darul Ifta’ yang ada di sana. Dalam beberapa baris di bawah ini penulis mencoba mengulas beberapa poin penting seputar pandangan kibarul ulama dalam buku ini. Namun hanya beberapa poin saja. Hal ini sangat penting karna di Indonesia sendiri banyak yang masih tidak memahami hukum bahkan keberadaan cadar itu sendiri dalam Islam. sehingga pekerjaan mereka tidak menghasilkan nilai ibadah tetapi hanya sekedar ikut-ikutan. pandangan ulama-ulama berikut ini bukanlah sebuah upaya untuk menggugat mereka yang sudah menggunakan cadar untuk membukanya, tetapi ingin menegaskan bahwa cadar itu bukanlah sebuah hal yang bernilai Ibadah dengan sendirinya. 
Dari beberapa makalah penting yang di sajikan dalam buku itu, makalah Syekh Ali Jumu’ah seorang ulama bergelar Mufti al-Jumhuriyyah, menjadi salah satu yang menarik untuk didiskusikan. Selain karna pamor beliau sebagai seorang ulama yang tentunya lebih gampang di kenal oleh orang, juga kehebatan beliau dalam menelurkan butiran hukum yang relevan. 

Cadar Berkaitan Erat Dengan Tradisi


Poin pertama dalam makalahnya, Syekh Ali Jumu’ah mengajukan dua pertanyaan yang sangat urgen sebagai berikut : 

Apakah hiasan yang sesuai dengan nilai Syariah serta layak bagi seorang Muslimah?, dan apa hukum menggunakan cadar ?

Pertanyaan pertama yang mula-mula beliau bahas dengan mengajukan ayat dalam al-Quran surat an-Nur ayat 31 : 

Itu adalah dua ayat yang beliau ajukan untuk memulai bahasannya mengenai masalah berhias dan mengunakan cadar. Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban bagi muslimat agar menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya, serta tidak menampakkan hiasan kecuali pada tempatnya. 

Beliau memahami kalimat الاماظهرمنها dengan pengertian : “kecuali tempat dimana perhiasan itu harus di tampilkan”. Dengan demikian ada tempat dimana perempuan boleh berhias dengan catatan sesuai dengan tempat yang di perbolehkan oleh Syariat. 


Adapun tempat yang di perbolehkan untuk menampilkan hiasan bagi seorang wanita diantaranya : celak salah satu dari hiasan untuk memperelok wajah, dan cincin di peruntukkan untuk memperindah jari-jemari. 

Kemudian beliau mengutip satu Hadis : 


Hadis diatas menjelaskan bahwa apabila wanita sudah mencapai masa pubertas yang di tandai dengan datangnya Haidh, maka yang boleh terlihat adalah wajah dan telapak tangannya. 

Pada poin awal ini Syekh Ali Jumu’ah menegaskan bahwa wajah dan telapak tangan wanita, bukanlah aurat yang wajib di tutupi. Karna disinilah tempat dimana wanita bisa menampilkan hiasan mereka sesuai dengan ketentuan syariat. 

Lantas adakah batasan berhias bagi wanita ?

Islam dengan kesempurnaan ajarannya juga memberikan bimbingan bagaimana seorang wanita harus menampilkan keindahannya. Merupakan sebuah hal yang lazim bahwa salah satu dari sifat wanita adalah ingin memperindah diri. Ini merupakan pembawaan lahiriah. Maka hal inipun tidak lepas dari pandangan Islam untuk memberikan bimbingan serta tata cara berhias yang tentunya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang universal. 

Syekh Ali Jumu’ah menjelaskan batasan itu sebagai berikut : 


Wanita muslimah diperbolehkan bahkan di anjurkan untuk berhias dengan segala perhiasan yang tidak menampakkan lekukan tubuh dan perhiasan yang berpotensi untuk menampilkan auratnya. Perhiasan itu juga hendaknya menutupi bagian tubuh yang harus di tutup, kecuali muka dan telapak tangan. Wanita juga tidak dilarang menggunakan pakaian yang berwarna selama tidak mencolok dan tidak mengundang pandangan serta tidak menimbulkan fitnah baginya. Apabila syarat-syarat berhias sebagaimana demikian telah terpenuhi, maka setiap wanita boleh berhias dengan model dan style apapun. 

Apa Hukum Cadar ? 

Dalam makalah ini Syekh Ali Jumu’ah menjelaskan tentang keberadaan cadar dan hukumnya. Berikut penjelasan beliau : 


Adapun cadar yang menutup wajah, menurut pendapat yang lebih shohih adalah tidak wajib. Hal ini dapat di pahami bahwa aurat wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Maka dari itu, diperkenankan bagi wanita untuk membuka wajah dan telapaknya. Inilah pendapat jumhur ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Imam Mardawi mengatakan bahwa kesohihan itu juga dianut kalangan ulama Hanabilah dan mujtahi terdahulu seperti imam Auza’i, Abi Tsaur dan lainnya. Bahkan ulama Malikiyyah menjelaskan bahwa bercadar dimakruhkan bagi seorang wanita, jika tradisi bercadar disana tidak ada. Hal ini termasuk perbuatan ekstrim dalam beragama. 

Catatan penting dari kutipan diatas adalah bahwa cadar menurut jumhur ulama tidak pernah di wajibkan. Bahkan ulama Malikiyyah memakruhkan bila tradisi bercadar tidak ada di daerah itu. Hal ini dikarenakan adanya perhiasan yang di khususkan letaknya bagi wanita. Seperti celak yang merupakan salah satu hiasan yang orientasinya di muka yakni di mata. Dan cincin terletak di jari-jemarinya. Dengan demikian, wajah dan telapak tangan mempunyai hak untuk di perlihatkan karna itu tempat dimana wanita bisa menampilkan hiasannya secara syar’ie. 

Fakta yang berkembang sekarang adalah, banyaknya orang yang berlomba-lomba menggunakan cadar sekaligus kaos tangan padahal di daerah itu tradisi cadar tidak berlaku. Menurut ulama Malikiyyah ini merupakan sebuah pemahaman yang ekstrem terhadap agama. Kenapa demikian ?, hal ini karna wanita –terutama zaman modern ini- juga di tuntut untuk dapat berinteraksi dengan kehidupan sosial di luar. Seperti berbelanja,bertransaksi dan sebagainya yang disitu cadar dapat menjadi penghalang kelancaran dalam sebuah komunikasi. Berikut penjelasan Syekh Ali Jumu’ah :


Pandangan beliau ini juga di perjelas oleh Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq, salah satu penulis dalam kitab ini. Beliau menulis sebagai berikut : 



Dalam penjelasan ringkas Syekh Hamdi Zaqzuq diatas, bahwa dalam realitasnya seorang wanita yang menggunakan cadar telah menutup diri dari kelancaran komunikasi dengan sesama. Maka dari itu wanita seperti ini selalu menarik perhatian terutama di tempat yang tradisi demikian tidak ada. Bahkan wanita seperti ini sudah tersebar di berbagai isntansi dan lembaga. Ada yang di rumah sakit, guru-guru di sekolah, anak perempuan di sekolah dasar dan sebagainya. Sebagian orang berpendapat bahwa wanita yang demikian ini adalah pertanda bahwa ia menjaga diri, taat beragama dan ketaqwaan. Sedangkan sebagian orang lagi berpendapat bahwa berpakaian seperti ini merupakan hak asasi baginya. Maka boleh saja bagi seseorang untuk menggunakan pakain sesuai dengan seleranya. 

Maka Syekh Hamdi Zaqzuq segera memberikan jawaban atas hal ini  bahwa : perkara ini sama sekali tidak berhubungan dengan Hak Asasi manusia. karna dengan style berpakaian yang demikian ini telah membuat seseorang sulit untuk melayani dengan baik. Karna hal ini secara hakiki telah menyalahi prinsip-prinsip lahiriyyah kemanusiaan dan kemaslahatan masyarakat. Bahkan hal ini –menurut Syekh Hamdi Zaqzuq- termasuk penodaan terhadap agama, karna telah membuat Islam seakan menjadi sebuah doktrin yang mempersulit dan menghambat prinsip komunikasi dalam sosial kemasyarakatan. 

Demikian pandangan dua ulama ini terhadap cadar. Menurut mereka tidak ada alasan dan dalil yang cukup komprehensif untuk memberikan legalitas terhadap wajibnya menggunakan cadar. Bahkan Syekh Hamdi Zaqzuq lebih jauh menulis terkait masalah ini : 



Islam telah mewajibkan bagi wanita untuk membuka wajahnya ketika Haji dan sholat. Dan tidak ada satu dalilpun dalam al-Quran atau Hadis atau menurut logika akal yang menguatkan bahwa wanita wajib menutup wajahnya. Maka dari itu cadar (niqob) bukanlah sebuah hal yang bila di kerjakan bernilai ibadah dengan sendirinya, tetapi hanya tradisi setempat yang membentuknya. Karna menurut beliau semua hal yang bernilai ibadah tidak akan ada kecuali ada dalil yang jelas. Salah satu argumen yang bisa di jadikan pendukung adalah fakta sejarah dalam tradisi berpakaian wanita di Arab. Bahwa wanita pada zaman jahiliyyah dan pada era awal Islam terkadang menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya. Dan perbuatan ini merupakan tradisi yang berkembang di daerah Arab dan tidak bernilai ibadah. 

Hal ini di tegaskan oleh Syekh Ali Jumu’ah : 



Bahwa standardisasi cara berpakaian sangat di tentukan oleh tradisi yang berkembang dalam satu lokalitas. Cadar merupakan tradisi orang Arab yang sudah ada bahkan sebelum Islam datang. Setelah Islam datang sekalipun, cadar ini hanya digunakan oleh sebagian wanita disana sebagaimana di jelaskan oleh Syekh Hamdi Zaqzuq lalu. Mereka juga menggunakannya terkadang tidak setiap saat. Hal ini menjadi indikator bahwa cadar tidak ada kaitannya dengan ibadah dengan sendirinya. Karna pandangan ulama seputar masalah ini, lebih cenderung mengatakan bahwa cadar bukanlah ibadah. Ia hanya tradisi. 

Namun, menggunakan cadar tidaklah lantas menjadi sebuah kesalahan, sebagaimana di jelaskan oleh Syekh Ali Jumu’ah diatas, untuk daerah yang tradisi fiqihnya mengikut imam Ahmad Bin Hanbal, dimana tradisi bercadar disana dominan, maka tidak ada masalah untuk menggunakannya. Sementara apabila di daerah itu tradisi bercadar tidak ada, maka menurut pendapat ulama Malikiyyah hukumnya adalah makruh bahkan merupakan paham keagamaan yang ekstrem. 

Waffaqini allahu wa iyyakum.... 





Oleh: Muhammad Hasanie Mubarok, Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pontianak, Aktivis PMII IAIN Pontianak, Mengabdi di Ponpes al-Jihad Pontianak, serta Penggiat Forum Diskusi Tokoh IAIN Pontianak.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News