Top News :
Home » , » Dari Haramain ke Nusantara (Indonesia)

Dari Haramain ke Nusantara (Indonesia)

Posted on Friday, 29 January 2016 | garis 17:10

Muslimedianews.com ~

Oleh : Abdul Aziz*

Transmisi gagasan-gagasan pembaruan boleh jadi merupakan bidang kajian Islam yang cukup terlantar. Sebagaimana ungkapan Azra dalam pendahuluan bukunya Jaringan Ulama (xvii: 2004). Tidak cukup hanya mengkaji tentang transmisi ilmu pengetahuan, misalnya, dari Yunani kepada kaum Muslim dan selanjutnya kepada Eropa modern. Namun, kita pun boleh memikirkan bagaimana terlantarnya kajian Islam mengenai transmisi hadis, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, perlu adanya kajian komprehensif tentang transmisi gagasan-gagasan kegamaan –khususnya bidang hadis- dari pusat-pusat keilmuan Islam ke bagian-bagian lain Dunia Muslim, misalnya, transmisi keilmuan Islam (hadis) dari Haramain (Timur Tengah) ke kawasan Melayu-Indonesia.

Jika kita menelisik ke belakang, ternyata hubungan kaum Muslim di kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. Azra (xix: 2004) menyebutkan, para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan Anak Benua India yang mendatangi kepulaun Nusantara tidak hanya berdagang, melainkan dalam batas tertentu juga menyebarkan Islam kepada penduduk setempat. Tentunya dengan adanya Islamisasi seperti ini, sekitar abad ke XV sampai XVIII, secara tidak langsung hadis-hadis Nabi juga mulai berkembang di masyarakat Indonesia, bahkan boleh jadi pada saat itu pula hadis mulai ditransmisikan oleh para pendengarnya ke orang lain.

Proses transmisi dalam ilmu hadis biasa disebut dengan tahammul wal ada’, yang berarti proses menyampaikan dan menerima hadis. Maksudnya bahwa, hadis dikirim, disampaikan atau diteruskan melalui pesan dan sebagainya dari seseorang kepada orang lain. Transmisi hadis dari ulama Haramain ke Indonesia begitu ketara ketika memasuki pertengahan awal abad ke IXX. Dari hasil penelitian saya terkait hal ini, baik yang terdapat di berbagai karya tulis yang berkaitan dengan biografi tokoh ulama Indonesia maupun jaringan ulamanya, dari Haramain ke Indonesia, membuktikan bahwa diantara mereka terdapat jaringan, atau transmisi hadis yang sangat urgen.

Ini dibuktikan dengan adanya penetrasi keilmuan keluarga Al-Maliki dengan ulama Indonesia. Abad IXX, misalnya, dari Sayyid ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki ke Syekh Hasyim Asy’ari (Syaifuddin, 2014: 11). Kemudian setelah Sayyid ‘Abbas wafat, digantikan putranya yakni Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin  ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki, ulama abad XX. Beliau juga mempunyai beberapa murid yang berasal dari Indonesia diantaranya seperti TG.KH. Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid Lombok, KH. Abdullah Faqih Langitan dan KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang.

Proses transmisi ulama hadis Haramain ke Indonesia pun belum putus sampai disana. Memasuki pertengahan abad ke XX hingga awal abad XXI, sepeninggal Sayyid ‘Alawi, maka perjuangan dakwahnya diteruskan oleh putranya, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki. Beliau juga mempunyai banyak murid di Indonesia yang terdiri dari para kiai dan habaib. Sebagian diantara mereka seperti, KH. Ihya’ ‘Ulumiddin Pujon, KH. Lutfi Basori Malang, KH. Thoifur Mawardi Purworejo, KH. ‘Abdurrahman ‘Abdullah Kebumen, Habib Sholeh, Habib Abbas al-Haddad, Habib Ahmad Barakwan, Habib Abdullah Baqir al-‘Athhos, Habib Muhammad bin Idrus al-Haddad, TG.H. Muhammad Thohir Azhari, KH. Najih Maimoen Rembang dan masih banyak para kiai dan habaib lainnya. Hingga untuk tetap mempertahankan persatuan dan kesatuan murid-murid Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, jaringan ulama hadis Indonesia tersebut membuat komunitas yang disebut Hai’ah Ash-Shofwah. Sebuah komunitas yang menampung murid-murid Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki di Indonesia, bahkan ada pula Hai’ah Ash-Shofwah Internasional.

Memasuki era modern, maka perjalanan haji sembari menuntut ilmu di Haramain pun semakin dipermudah oleh teknologi maupun informasi. Kesempatan kemudahan studi Islam ini tidak disia-siakan oleh para ulama Nusantara. Diantara mereka banyak yang mengirim santri-santri dan putranya untuk belajar keilmuan Islam (hadis) di Haramain, tepatnya di Ribath Al-Malikiyyah asuhan Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki (1946-2004M). Sufyan Tsauri (2015) menyebutkan bahwa, lama para santri yang belajar disana relatif mulai dari 2, 3, atau 4 tahun, hingga puluhan tahun.

Karakter wasathiyyah yang ada dalam diri Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki, baik dalam berfikir maupun bertindak, menjadi satu sikap yang patut dicontoh oleh umat Muslim. Ditambah luluhnya sikap fanatisme madzhab dalam dirinya, juga menjadi karakteristik yang tertancap dalam diri seorang al-Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah abad XXI tersebut. Sebagai salah satu ulama sekaligus akademisi ahli hadis kontemporer, keilmuannya sudah tidak diragukan lagi. Ini lah salah satu hal yang menyebabkan Sayyid Muhammad al-Maliki sangat tersohor, baik di lingkungannya sendiri (Haramain), maupun di belahan dunia (Fakhruddin Owaisi al-Madani, 2007: 2), termasuk Indonesia.

Kedekatan antara Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan ulama Nusantara salah satunya disebabkan karena pendekatan Abuya al-Maliki sendiri terhadap murid-murid beliau. Najih Maimoen (2012:10) dalam hal ini mengatakan bahwa Sayyid Muhammad dalam mendidik santrinya seperti pendekatan seoarang ayah kepada anak-anaknya. Sayyid Muhammad sangat hafal karakter satu persatu dari para murid, dan tahu cara menghadapi setiap murid, untuk dibimbing sesuai bakatnya masing-masing. Setiap murid tanpa kecuali, pasti merasa paling dekat dengan beliau, dan pasti mendapat perhatian penghargaan yang lebih darinya sesuai dengan bidang yang ditekuni masing-masing.

Ternyata apa yang dilakukan oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ini sangat berpengaruh kepada anak didiknya, bahkan kepada sebagian ulama di Indonesia. Terbukti, tidak sedikit dari mereka para pengasuh pondok pesantren atau madrasah yang memerintahkan murid-muridnya agar memanggilnya dengan sebutan 'Abuya'. Terinspirasi dari apa yang telah dicontohkan oleh as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (Najih Maimoen, 2012:10). Pengaruh pemikiran hadisnya pun tersebar bersamaan dengan tersebarnya murid-muridnya di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Ini dibuktikan misalnya, ketika mereka senada dalam memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan amaliyyah kaum Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti ziarah kubur, tawassul, tabaruk, memperingati maulid Nabi, serta dalam metode pendidikan dan dakwah yang bijak ala Nabi SAW. Sehingga pada akhirnya living sunnah pun selalu action di tempat para murid Sayyid Muhammad al-Maliki itu tinggal.

Tumbuh dan berkembangnya alumni Ribath al-Malikiyyah Mekkah beserta murid Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki di Indonesia, juga menjadi keuntungan tersendiri bagi berkembangnya kajian hadis di negeri Khatulistiwa ini. Setidaknya di beberapa pondok-pondok pesantren abna Abuya, misalnya, Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang, Pondok Langitan, Darul Lughoh wa Da’wah, Darussholihin, Daarut Tauhid Purworejo, dan lain sebagainya.

Beberapa pesantren tersebut hanyalah sampel dari puluhan hingga ratusan pesantren abna Abuya di Indonesia yang mempunyai fokus dalam pengkajian hadis, disamping juga tidak menafikan terhadap kajian displin ilmu-ilmu umum dan keislaman lainnya. Kajian hadis memang sangat penting sebagaimana kajian al-Qur’an. Karena hadis, atau sunnah merupakan aplikasi dari al-Qur’an itu sendiri.

Berkat pengaruh ulama-ulama hadis Haramain ini, kajian hadis di Indonesia dapat berkembang. Secara otomatis, ketika hadis telah berkembang dan menjadi satu kajian utama di beberapa pondok pesantren di Indonesia, maka ilmu-ilmu lainnya seperti fiqih, tafsir, akhlak, dan tata-bahasa pun akan turut dikaji.
Fenomena adanya pengaruh pemikiran sekaligus transmisi hadis Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki di Indonesia ini lah, yang kemudian menyebar ke pelbagai pelosok negeri, sehingga pantas disebut dengan paham atau aliran ‘malikisme’. Karena memang mereka (baca: para ulama Indonesia) sedikit lebih banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Bukan berarti malikisme adalah madzhab Maliki. Namun ‘malikisme’ disini diorientasikan ke buah pemikiran Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Setuju atau tidak, malikisme di Indonesia ini adalah fakta sejarah yang tak boleh disepelekan. Fakta telah adanya transmisi atau jaringan ulama hadis Haramain-Indonesia abad IXX dan XXI ini, memberi sumbangsih yang cukup besar terhadap perkembangan kajian hadis di Indonesia. Baik di masa kini, nanti, maupun masa yang akan datang.


*Abdul Aziz,
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Surakarta.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News