Top News :
Home » , » Habib Luthfi Bin Yahya; Yang Sangat Bernilai dari Gus Dur

Habib Luthfi Bin Yahya; Yang Sangat Bernilai dari Gus Dur

Posted on Wednesday, 20 January 2016 | garis 11:11


Muslimedianews.com ~ "Saya modali!" jawab Habib Luthfi bin Yahya saat pertamakali disowani forum Gusdurian Tegal yang hendak mengadakan Haul Gus Dur yang ke-6. "Pihak yang diundang malah memberikan modal duluan bahkan dengan nominal yang cukup besar," ungkap panitia saat memberikan sambutannya di acara Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal.

Uniknya di Haul Gus Dur malam itu seluruh elemen bangsa berkumpul jadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu "Kita Semua Bersaudara", merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan semua elemen masyarakat baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Hadir sebagai acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

"Mendiang adalah seseorang yang tak mengenal capek. Walaupun secara kondisi fisik, sulit untuk melihat. Tapi pola pikir, keintelektualan, wawasan kebangsaan dan keagamaan, dan kejeniusannya yang sulit untuk bisa ditemukan kembali." Ucap Habib Luthfi mengawali ceramah agamanya. Habib Luthfi sudah sering menemani Gus Dur semenjak sebelum menjadi Pengurus Besar NU, bersama Kiai Fuad Buntet Cirebon, berdakwah kesana-kemari satu mobil bersama. Pengalaman yang sangat bernilai dari Gus Dur adalah nilai sejarahnya yang selalu dipegang kuat. Karena mengenal sejarah maka beliau lebih jauh mengenal bangsanya. Karena mengenal sejarah maka sulit untuk bisa melupakan bangsanya. "Itulah diantara yang saya kenal dari Gus Dur," kenang Habib Luthfi.

Gus Dur kalau dicerna oleh orang yang belum faham atau tidak cerdas, maka pada dasarnya pemikiran Gus Dur yang melangkah lebih jauh ke depan sedang melatih kita berfikir cerdas. "Ibarat memetik mangga yang belum masak (pentil; bahasa Jawa), akan menjadikan sakit perut jika dimakan bukan pada waktunya. Namun menjadi kebutuhan bagi ibu hamil yang sedang ngidam," lanjut Habib Luthfi.

Pembicaraan Gus Dur itu tidak bisa dimakan hari ini. Tapi mungkin bisa dimakan satu bulan atau satu tahun kemudian. Orang akan baru menyadari, "Oh iya benar kata Gus Dur". Ada kritikan dari beberapa guru kita, diantaranya "Koe aja mung pinter ngalem kuburan bae" (Kamu jangan hanya suka memuji kuburan terus). "Lama-lama saya tanya maksudnya apa. Ternyata, ketika seorang tokoh atau pemimpin tersebut, dan memang resiko bagi dirinya, sewaktu masa hidupnya banyak dikatakan, "Orang itu terlalu keras", yang lain mengatakan, "Orang itu terlalu blak-blakan". Ada yang suka dan ada yang benci. Tetapi setelah tiadanya, yaitu sesudah di kuburan, mereka baru ramai-ramai memujinya."

Terkait tema Haul Gus Dur ke-6 "Kita Semua Saudara", menurut Habib Luthfi adalah tema yang sangat menyentuh dan luar biasa. Karena kita semua adalah saudara, bagian dari "Bela Bangsa". Yang namanya bela bangsa itu bukan hanya mengangkat senjata, latihan militer atau wajib militer. Meningkatkan rasa memiliki bangsa dan republik ini, itu juga bagian dari bela bangsa selain juga memajukan ekonomi dan pertanian. Menggalang persaudaraan, semua kita bersaudara, itu adalah benteng-benteng yang kokoh untuk melengkapi wujudnya ketahanan nasional.

Persaudaraan ada dua. Pertama, saudara seagama sebangsa setanah air. Kedua, saudara sebangsa setanah air, ini yang harus diperkuat. Tanpa memandang ras dan agamanya, tapi katakan "Saya Indonesia". Tidak ada sekat keturunan manapun, entah China ataupun Arab. Persaudaraan yang sejati adalah ketika saudara kita dicubit maka kita turut merasakan sakit, tanpa ada pengkotak-kotakkan. Jika terjadi pengkotak-kotakkan maka kita tidak akan tahu hakikat persaudaraan tersebut.

Menghargai hak sesama sudah jauh lebih dulu dilakukan oleh tokoh-tokoh kita terdahulu. Bahkan, lihatlah riwayat sejarah deklarasi Madinah terbentuk dari Yahudi, Nasrani dan Muslim untuk sama-sama saling menghormati dan menghargai hak sesamanya. Kita merupakan regenerasi dari sejarah, menjalin persaudaraan demi regenerasi masa yang akan datang. Dengan memahami itu bangsa akan menjadi kuat. 

"Sebab yang saya khawatirkan adalah, seperti dalam ajaran kami Nabi Besar Muhammad Saw. dalam sabdanya: "Kadar bobot keimanan seseorang tergantung kecintaannya padaku." Kalau ditafsirkan, maka maknanya adalah ketika kadar bobot kecintaan (kepercayaan) seseorang pada tokohnya (dari agama manapun) memudar maka imannya pun semakin luntur. Kalau sudah luntur maka sangat mudah untuk dipecah-belah. Jangan coba-coba memecah-belah Bangsa Indonesia dan membenturkan antar umat beragama, karena "Kami Semua Bersaudara". Rapatkan barisan kita, jangan beri kesempatan seujung rambutpun kepada oknum-oknum manusia yang akan menghancurkan NKRI!" Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut dengan semangat antusias para pengunjung Haul Gus Dur malam itu. (Sya'roni As-Samfuriy).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News