Top News :
Home » , , , » Islam, Budaya, dan Toleransi

Islam, Budaya, dan Toleransi

Posted on Tuesday, 5 January 2016 | garis 16:18

Jakarta, Muslimedianews ~ Indonesia dengan kekayaan identitas masyarakat di dalamnya layak menjadi etalase kerukunan antaragama di dunia. Berbeda dengan negeri “relijius” lainnya, sejarah keberagamaan masyarakat Indonesia tampak begitu lekat dan selaras berdampingan dengan berbagai eksistensi lain yang merupakan produk budaya dan kearifan lokal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aktivitas para penganut agama dalam menjalankan ibadah keseharian maupun upacara perayaan hari-hari besar. Tak jarang, meski enam agama besar di Indonesia memiliki garis sejarah yang bersumber dari negara-negara Asia Timur dan Eropa, namun unsur keindonesiaan akan turut kentara sebagai bagian dari identitas keagamaan di Nusantara.
 
Keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama ini memang bukan sebuah keajaiban yang halal untuk membuat masyarakat Indonesia terbuai, lengah maupun abai dalam melestarikan prinsip-prinsip luhur di dalamnya. Belakangan, terlebih pasca-reformasi 1998, ada semacam upaya-upaya yang cenderung menggugat kekayaan budaya dan keberagaman identitas dengan mengatasnamakan kepentingan satu-dua kelompok semata. Imbasnya, persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia di bawah prinsip luhur Pancasila kerap terusik.

Istilah diskriminasi, intoleransi, radikalisme, terorisme serta segala hal bersifat provokatif melalui sensitifitas suku, ras, agama dan antargolongan (SARA) menjadi kian sering terdengar dan mengkhawatirkan. Pada titik ini, masyarakat merasa penting untuk kembali bersama-sama meresapi pentingnya falsafah kebangsaan dalam beragama guna menjaga kelestarian prinsip kerukunan antaragama di Indonesia.
 
Sebagai agama dengan penganut terbesar di Indonesia, Islam kerap dimanfaatkan oleh kelompok tidak bertanggungjawab sebagai pintu untuk mengusik rasa kesatuan dan persatuan. Berbagai peristiwa intoleransi, teror dan radikalisme banyak mengatasnamakan agama yang menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 ini dianut oleh 87,18 persen penduduk Indonesia.

Menghadapi hal ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, mengingatkan tentang betapa pentingnya bagi masyarakat Indonesia untuk menghargai apa yang telah dirumuskan para pejuang dalam merebut kemerdekaan bangsa.
 
“Jangan usik lagi soal prinsip kebangsaan dan bernegara di Indonesia. Itu sudah selesai. Kita wajib menghargai perjuangan para pahlawan yang telah mempertimbangkan beragam identitas masyarakat dalam membentuk Negara Indonesia. Tugas kita sekarang adalah bagaimana caranya turut berperan dalam pembangunan demi kemajuan bersama,” kata Said saat ditemui di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (24/12/2015).
 
Said juga mengingatkan masyarakat Indonesia agar turut mengambil pelajaran dari konflik-konflik di berbagai negara Timur Tengah. Menurut dia, kurangnya rasa kesatuan dan persatuan mengakibatkan masyarakat di dalamnya mudah untuk diadu domba baik dari sisi identitas agama maupun kesukuan.
 
“Kita mesti mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan cara tetap menghargai dan menghormati hak kelompok lain dalam menjalankan keyakinannya, tanpa melakukan diskriminasi, teror dan bertindak radikal,” ujar Said.
 
Islam Nusantara dan Keragaman Budaya
 
Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muktamar Ke-33 yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur pada Agustus lalu mengangkat tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Menurut Said, NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia merasa berkewajiban untuk kembali mengingatkan tentang pentingnya memadukan prinsip kebangsaan dalam menjalankan ibadah dan kepercayaan beragama.
 
“Islam Nusantara bukan mazhab baru, bukan aliran baru. Islam Nusantara adalah Islam yang melebur dengan budaya, Islam yang menghormati dan menghargai budaya, yang kita warisi dari nenek moyang leluhur bangsa,” kata Said.
 
Memadukan iman keislaman dengan prinsip kebudayaan bangsa, kata Said, tidak perlu disertai dengan kekhawatiran yang berlebihan. Menurut pengasuh Pesantren At-Tsaqafah Ciganjur dan Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini, perpaduan keduanya justru mendatangkan manfaat dan kemaslahatan bersama.
 
“Selama budaya masyarakat itu tidak jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, seperti meminum khamr (minuman keras) atau melakukan seks bebas, maka, tak soal. Islam melebur dengan budaya akan lebih meresapkan iman ke hati masing-masing masyarakat Nusantara, sementara tradisi budaya Indonesia akan tetap lestari dan langgeng,” kata dia.
 
Seperti halnya Muktamar Muhammadiyah Ke-47 di Makassar yang kembali mengajak masyarakat untuk melakukan  “Gerakan Perubahan Menuju Indonesia Berkemajuan”, penekanan tema melalui kata Islam Nusantara juga bukan merupakan gagasan baru. Islam Nusantara, menurut Said, adalah hal yang sudah dilakukan oleh para pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.
 
“Kita memiliki sejarah panjang soal Islam Nusantara, seperti hal yang dicontohkan dalam penyebaran agama Islam yang dilakukan Wali Songo,” ujar pria yang akrab disapa Kiai Said ini.
 
Dalam melakukan syiar Islam, Wali Songo menjadikan prinsip Islam Nusantara sebagai instrumen keagamaan yang membawa rahmat, kedamaian, ketenangan serta tidak memberikan rasa takut bagi kelompok lain. Said menceritakan banyak hal tentang upaya para pendahulu dalam melakukan syiar Islam yang sekaligus mampu merawat kearifan lokal, hal itu, jelas Said, bisa dilihat dari beragam rutinitas keislaman masyarakat lokal yang sebenarnya berpadu dengan unsur kebudayaan.
 
“Kreasi budaya masyarakat lokal yang sudah ada waktu itu diisi dengan konten syariat, tanpa mecerabutnya dari tangan masyarakat,” kata dia.
 
Selain memerhatikan eksistensi budaya, Said juga menyebutkan bahwa para pendahulu kerap mengedepankan rasa toleransi dalam menyampaikan ajaran Islam guna menghindari konflik sosial, terlebih tindak kekerasan.
 
“Ketika Sunan Kudus, yakni Syekh Jafar As-Shodiq bin Utsman Al-Hamadani melihat umat Hindu di Jawa sangat menghormati sapi, maka beliau melarang umat Islam melaksanakan ibadah qurban menggunakan sapi. Beliau menyarankan menggunakan kerbau, padahal di Al-Quran tidak disarankan berkurban selain menggunakan unta, sapi, kambing maupun biri-biri,” jelas Said.
 
Sikap toleransi tersebut, lanjut Said, menunjukkan betapa pemahaman Islam secara kontekstual lebih diutamakan ketimbang mengedepankan segala hal yang bersifat simbolis dan formal yang barangkali justru mengganggu hak dan kebebasan kelompok lain.
 
“Mari kepada umat Islam di Indonesia, tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah umat Islam yang beradab, berbudaya, berbudi pekerti dan berakhlak yang menolak segala tindak diskriminasi, intoleransi, terorisme dan radikalisme. Berikan harapan baik bagi dunia melalui ajaran Islam yang kita anut,” ujar Said.
 
Kemiskinan dan Sikap Intoleran
 
Kecenderungan maraknya sikap intoleransi di Indonesia belakangan ini tidak muncul secara kebetulan. Kiai Said menjelaskan beberapa faktor yang memicu terjadinya intoleransi bahkan tindak terorisme dan radikalisme yang hadir di tengah masyarakat Indonesia dengan mengatasnamakan Islam.
 
“Faktor pertama adalah kekurangpahaman terhadap ajaran Islam. Semisal memerpolehkan memusuhi dan memerangi non-muslim. Mereka bertumpu pada sepenggal kutipan Al-Quran tentang qital (perang/membunuh orang kafir), padahal, memang ayat tersebut turun di tengah kondisi perang. Setelah masa peperangan usai, maka ayat yang memerintahkan manusia untuk hidup rukun dan mengedepankan toleransi justru turun lebih banyak,” jelas Said.
 
Faktor berikutnya, lanjut Said, adalah kemiskinan dan pengangguran. Tingkat kemiskinan di Indonesia yang masih tinggi membuat beberapa oknum masyarakat rentan terhadap provokasi bermuatan SARA.
 
“Kemiskinan adalah faktor yang cukup tinggi terhadap wujudnya penyakit intoleransi. Ada memang oknum pelaku yang mapan dan kaya, tapi ini lebih bernilai politis,” kata dia.
 
Kurang memahami dan menghargai pesan sejarah, kata Kiai Said, adalah faktor yang tak kalah turut menyumbang meningkatnya tren intoleransi dan diskriminasi di Indonesia. Menurut dia, perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dibangun melalui pengorbanan para pahlawan dengan beragam latar belakang identitas suku dan agama wajib untuk dihayati dan dihargai.
 
“Soal ini, ada yang memang tidak ingat atau tidak paham, ada yang paham tapi memang pura-pura tidak paham. Yang kedua (pura-pura tidak paham) justru lebih berbahaya, karena memanfaatkan sensitifitas keagamaan untuk merusak tatanan kebangsaan secara senagaja,” kata Said.
 
Pemahaman agama Islam saat ini, kata Said, semestinya digunakan untuk berbagai kepentingan yang bisa membawa kemajuan bersama. Islam tidak boleh dijerumuskan oleh kelompok-kelompok tertentu ke lembah kehancuran karena dicap negatif di mata dunia.
 
“Dengan semangat Islam Nusantara tadi, mari kita gunakan prinsip keislaman ini untuk menjaga keutuhan negara, baik secara kemasyarakatan maupun geografis, menjaga kekayaan alam, hutan, laut dan mineral tambang, ini jauh lebih penting,” jelas dia.
 
Terkait dengan maraknya kelompok yang dianggap merongrong nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, Said menyatakan bahwa Islam sejak awal tidak diperkenalkan untuk merusak tatanan yang bersifat baik yang sudah ada, terlebih mengusik keberagaman, memunculkan sikap intoleransi, dan menghalalkan tindakan diskriminatif.
 
“Kita harus melihat sejarah. Rasulullah tidak pernah mendirikan negara Islam. Yang dibangun saat itu justru negara Madinah, berhasal dari lafaz tamaddun (negara peradaban dan kebudayaan), bukan negara agama atau negara etnik. Dengan bukti, semua eksistensi baik suku, agama dan tradisi lokal saat itu mendapatkan hak perhatian dan perlindungan yang sama dari Baginda Muhammad,” pungkas Said.




Sumber: Metro TV News.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News