Top News :
Home » , , » Menag Angkat KH Nasaruddin Umar Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Masa Bakti 2015-2020

Menag Angkat KH Nasaruddin Umar Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Masa Bakti 2015-2020

Posted on Saturday, 23 January 2016 | garis 13:39


Jakarta, Muslimedianews ~ Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengukuhkan Imam Besar dan Pengurus Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal masa bakti 2015 – 2020. Seremonial pengukuhan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama, Jl. Thamrin, Jum’at (22/01/2016).

“Saya percaya bahwa Saudara akan mampu melaksanakan tugas dan pengabdian sebaik-baiknya serta amanah, guna mengembangkan, membangun, memakmurkan Masjid Istiqlal demi bangas dan negara,” ucap Menag. 

Pengukuhan pengurus baru ini dihadiri para pejabat eselon I dan II Kementerian Agama. Prof. KH. Nasaruddin Umar menggantikan KH Ali Mustafa Yaqub sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Sedangkan Muhammad Muzamil Basyuni menggantikan Mubarak sebagai Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal. 

Menag berharap,  Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal dapat terus mengembangkan kegiatan Masjid Istiqlal yang merupakan salah satu etalase umat Islam di Indonesia. Menurutnya, sebagai masjid negara, Masjid Istiqlal harus bisa masjid contoh dan karenanya perlu terus dikembangkan sebagai pusat ibadah dan pusat pembinaan umat. “Keberadaan Masjid Istiqlal di jantung kota, harus memiliki daya tarik dari segi kegiatan dan program pembinaan keagamaan,” kata Menag.

Masjid Istiqlal harus dapat menjadi benteng umat Islam dari pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan agama dan ideologi bangsa. Masjid ini,  lanjut Menag juga harus dapat berperan sebagai pusat pembinaan umat dan generasi muda dengan nilai-nilai islam dan dakwah secara komprehensif. “Atmosfir masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam dalam memancarkan tauhid, ukhuwah dan kemajuan, kedamaian, keadaban serta rahmatan lil alamin,” tegas Menag.

Ditambahkan Menag, Pemerintah melalui Kementerian Agama akan senantiasa memfasilitasi pemeliharaan, operasionalisasi dan pengembangan Masjid Istiqlal dengan mengalokasikan bantuan APBN tiap tahun. Oleh karena itu, Menag mengimbau kepada BP2M Istiqlal untuk meningkatkan performa akuntabilitas pengelolaan bantuan APBN dan keuangan Masjid Istiqlal dari masyarakat.
Menag juga menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada pengurus periode lalu di bawah kepemimpinan Mubarok. Apresiasi juga disampaikan kepada KH Ali Mustofa Yakub yang telah menyelesaikan amanah sebagai imam besar Masjid Istiqlal. 

Setelah dikukuhkan sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin mengatakan, jabatan yang diembannya kali ini merupakan amanah yang cukup berat. Ia berharap bisa melaksanakan amanah tersebut dengan baik. “Mohon doanya, semoga saya bisa melaksanakan dan menjalankannya dengan baik dan amanah,” ujarnya.

Ia juga mengatakan telah memiliki beberapa misi yang akan dia lakukan nantinya. Misi tersebut berkaitan dengan citra yang harus terpancar dari Masjid Istiqlal.

Pertama, Masjid Istiqlal harus tetap menyimbolkan negara. "Dengan ciri keislaman moderat, bercorak rahmatan lil alamin," ungkapnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jumat (22/1/2016).

Kedua, Masjid Istiqlal dinilainya harus menjadi lambang persatuan dan kesatuan umat Islam. "Sebagai simbol pemersatu umat Islam dari berbagai mahzab," ucap Nasaruddin.

Selain itu, dia mengatakan Masjid Istiqlal juga harus menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Hal ini karena ada rumah ibadah agama lain di dekatnya.

Terakhir, Nasaruddin menyebut Masjid Istiqlal perlu menjadi paru-paru spiritual Indonesia.  "Kalau hutan itu adalah paru-paru dunia, kita perlu oase dan paru-paru spirutual," ujar Nasaruddin. 

Diketahui, Nasaruddin juga menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Guru Besar Tafsir pada Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Sebelum diangkat menjadi Imam Besar, ia pernah dipercaya menduduki sejumlah jabatan seperti Wakil Rektor UIN Jakarta, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, dan Wakil Menteri Agama.

Selain mengajar di Fakultas Ushuluddin dan beberapa perguruan tinggi lain, Nasaruddin merupakan penulis produktif. Ia rajin menulis artikel media masa, artikel jurnal, dan buku-buku. Diantaranya, Tasawuf, Gender dan Deradikalisasi Tafsir Agama, Ketika Fiqih Membela Perempuan, dan Tasawuf Modern.

Nasaruddin sendiri menempuh pendidikan pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mendapatkan gelar Magister (1992) serta doktoral (PhD) (1998). Selama studi kedoktorannya, dia sempat menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas McGill, Montreal, Kanada (1993-1994), dan juga sebagai salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas Leiden, Belanda (1994-1995).
Sumber: Kemenag/ UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/ Republika.

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News