Top News :
Home » » Menag: Tidak Dibenarkan Anarkisme, Eks-Gafatar Tetap Saudara Kita

Menag: Tidak Dibenarkan Anarkisme, Eks-Gafatar Tetap Saudara Kita

Posted on Sunday, 24 January 2016 | garis 12:16

Anggota eks Gafatar dan anak-anak makan jatah nasi bungkus di pengungsian setelah kehilangan tempat tinggal (tribunews)
Jakarta, Muslimedianews ~ Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan, bagaimanapun perbedaan paham bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mayoritas, mereka tetaplah saudara dalam kemanusiaan sehingga tidak dibenarkan melakukan anarkisme kepada mereka.

"Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita, termasuk perbedaaan paham keagamaan, agar jangan lalu tersulut melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai membakar rumah tinggal sesama saudara kita. Anggota-anggota Gafatar ini juga saudara kita," kata dia, di kantornya, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Sebelumnya, terjadi aksi massa yang mengusir bekas anggota Gafatar di Kalimantan Barat. Aksi ini terbilang anarkis karena pengusiran itu disertai intimidasi, pembakaran tempat tinggal dan pengerahan massa besar-besaran. Agar aksi serupa tidak meluas ke sejumlah daerah, dia berharap masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat menahan diri tidak melakukan tindakan kekerasan.

"Meski beda paham keagamaan, sebaiknya cara menyikapi mereka adalah merangkul mereka, membina mereka, dialog dengan mereka sehingga menuju kesamaan cara pandang. Tidak justru melakukan perusakan. Agama apapun tidak mentolerir kekerasan seperti itu dan itu bukan cara kita menyelesaikan masalah," katanya.

Kementerian Agama, kata Lukman, hingga saat ini masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia soal fatwa Gafatar. MUI sendiri rencananya akan mengeluarkan fatwa Gafatar pada awal Februari.

"MUI masih mendalami, mencermati soal paham keagamannya. Kementerian Agama atau pemerintah akan mengikuti fatwa MUI terkait paham Gafatar," katanya.

Menag mengajak masyarakat umum untuk tidak mengucilkan dan memojokkan orang-orang yang terkait dengan Gafatar, melainkan mengayomi dan memberikan pemahaman kepada mereka.

"Intinya kami mengajak kita semua masyarakat khususnya untuk tidak mengucilkan mereka, tidak memojokkan mereka ataupun menafikkan dan menegasikan keberadaan mereka," kata Lukman di sela-sela tasyakuran Hari Amal Bhakti ke-70 Kementerian Agama di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat.

"Justru menjadi kewajiban kita semua agar bagaimana mereka memiliki pemahaman keagamaan sebagaimana yang dimiliki kita semua, yakni yang menyejahterakan sesama, tidak eksklusif, tidak ekstrem dan seterusnya," ujarnya menambahkan.

Lukman mengakui ada klasifikasi seberapa dalam orang-orang tersebut terlibat dalam Gafatar, baik itu yang ajarannya sudah menghujam dalam kesadaran maupaun sekadar ikut-ikutan. Untuk setiap klasifikasi tersebut tentu dilakukan pendekatan yang beragam, namun demikian semuanya harus diayomi sebagai saudara sebangsa Indonesia.

Menag menyatakan pemerintah tidak dalam posisi untuk menyatakan Gafatar sebagai kelompok sesat ataupun tidak, dan menyerahkan kepada ormas-ormas keagamaan untuk menilai apakah fahamnya bisa ditolerir atau tidak. Pun demikian, apabila kemudian dinyatakan sebagai ajaran menyimpang, pemerintah dan masyarakat umum memilki kewajiban dan tanggung jawab untuk tetap mengayomi, merangkul dan membina.

"Kalau misalkan dinyatakan menyimpang, jadi kewajiban kita bersama untuk mengayomi, merangkul dan membina mereka sehingga kembali tetap memiliki pemahaman yang sesungguhnya sesuai dengan esensi dan substansi ajaran itu sendiri," pungkasnya.

Dokumentasi sejumlah warga eks-Gafatar meninggalkan permukiman mereka yang dibakar massa saat hendak dievakuasi dari kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (19/1/2016). Permukiman di lahan seluas 43 Hektare tersebut dibakar sejumlah oknum masyarakat sebelum 796 warga eks-Gafatar berhasil dievakuasi pemda setempat. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Menurut Menag saat ini pemerintah tengah berupaya melakukan penangan terhadap anggota Gafatar, termasuk yang di Kalimantan Barat dan tengah berangsur-angsur kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Sebanyak lebih dari 700 orang eks anggota Gafatar yang bermukim di Kabupaten Mempawah, Kalbar, secara bertahap dipulangkan ke Semarang, Jawa Tengah dan Surabaya, Jawa Timur. Hal serupa juga terjadi di Desa Simbak Jaya, Binjau Hulu, Kabupaten Sintang dan Desa Sukadana, Kayong Utara, Kabupaten Ketapang, yang hampir 1.000 mantan anggota Gafatar dievakuasi dan "dipaksa" kembali ke daerah asalnya. (Antaranews)


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News