Top News :
Home » » Mengenal Rasulullah dan Nasabnya

Mengenal Rasulullah dan Nasabnya

Posted on Saturday, 30 January 2016 | garis 17:24

Muslimedianews.com ~ Syeikh Muhammad Ba'athiyah – Rektor Imam Shafie College – dalam Kitab "Mujazul Kalam" penjelasan "Nadzom Aqidatul Awam" karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi halaman 136-142 menguraikan biografi singkat tentang Rasulullah SAW dan para leluhur beliau sebagai berikut:

Pasal : Nasab Nabi Muhammad SAW

أَبُوْهُ عَبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِبْ  -  وَهَاشِمٌ عَبْدُ مَنَافٍ يَنْتَسِبْ
"Ayahnya adalah Abdullah, Abdul Muththalib,
Dan Hasyim,  Abdu Manaf (kepada merekalah) beliau bernasab".

Di antara hal yang wajib diketahui oleh seorang yang Mukallaf adalah Nama dan Nasab Nabi Muhammad SAW. Namanya adalah Muhammad (arti kata Muhammad adalah orang yang paling banyak dipuji/mendapatkan pujian), dinamai demikian karena banyaknya hal-hal yang terpuji dalam diri beliau. Allah telah menentukan nama beliau semenjak Zaman Azali[1], sedangkan setelah 7 hari beliau dilahirkan, kakek beliau yaitu Abdul Muththalib memberikan nama Muhammad namun ada yang mengatakan bahwa yang memberikan nama adalah Ibunya.

Rasulullah SAW dilahirkan pada tahun gajah, hari senin tanggal 12 Rabiul Awal menjelang terbitnya Fajar. Ayah beliau wafat ketika beliau baru berusia 2 bulan bahkan ada yang menyatakan ketika beliau masih dalam kandungan. Kemudian disusui oleh Halimah Binti Dzuaib As-Sa'diyah. Rasulullah SAW tinggal bersamanya di perkampungan Bani Sa'ad selama 4 tahun hingga akhirnya dikembalikan kepada ibunya setelah kejadian pembelahan dadanya.


Setelah beberapa lama menetap bersama ibunya, Rasulullah SAW dibawa oleh ibunya ke Madinah untuk mengunjungi paman-pamannya. Akan tetapi dalam perjalanan pulang dari Makkah ke Madinah tepatnya di Daerah Abwa' ibu Rasulullah SAW wafat, sedangkan usia Rasulullah SAW kala itu baru 6 tahun 3 bulan 10 hari. Kubur ibu beliau berada di Abwa' dan sangat masyhur di sana. Setelah 5 hari dari pemakaman ibunya, Ummu Aiman[2] membawa Rasulullah SAW kembali ke Makkah.

Dalam usia yang ke 8 tahun, kakeknya yaitu Abdul Muththalib wafat. Sebelum wafatnya beliau berwasiat kepada anaknya yaitu Abu Thalib yang tak lain adalah paman Rasulullah SAW. Ketika berusia 10 tahun Rasulullah SAW bersama Abu Thalib mengikuti perang Fijar, bahkan dikatakan lebih kecil dari 10 tahun. Pada usia 12 tahun beliau dibawa Abu Thalib ke Syam untuk ikut berdagang.

Kemudian Rasulullah SAW keluar ke Syam untuk kedua kalinya dalam rangka sebagai utusan dagang Khadijah r.a., sedangkan umur Rasulullah kala itu adalah 25 tahun, kemudian Rasulullah SAW menikah dengannya setelah 2 bulan lebih kepulangannya dari Syam. Pada usia ke 35 tahun, Ka'bah yang telah mengalami kerusakan yang parah akibat terjangan banjir dibangun lagi oleh Suku Quraisy, sedangkan Suku Quraisy yang saat itu bersengketa dalam peletakan Hajar Aswad rela dengan Rasulullah sebagai peletaknya.

Pada usia ke 40 tahun beliau diangkat sebagai Nabi, kemudian paman beliau yaitu Abu Thalib wafat saat usia Nabi mencapai 50 tahun, sedangkan Khadijah r.a. wafat setelah 3 hari wafatnya Abu Thalib. Maka pada tahun wafatnya Paman dan istri beliau dinamakan sebagai tahun kesedihan, karena Abu Thalib adalah orang yang bersikukuh melindungi Rasulullah SAW dari siksaan kaumnya, begitu pula Khadijah yang menemaninya tatkala kembali ke rumah, menghiburnya dari apa yang menimpa dan menginfakkan seluruh hartanya untuk Allah dan Rasulnya. Di antara yang diucapkan Khadijah sebagai dukungan kepada suaminya adalah : "Sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang benar…", dan lain sebagainya.

Setelah 3 bulan wafatnya Khadijah r.a Rasulullah SAW pergi ke Thaif, kemudian setelah kembali lagi ke Makkah beliau mengalami sebuah Mu'jizat yang agung yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj, yaitu peristiwa perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis menggunakan Buraq[3] kemudian Mi'raj (dinaikkan) ke langit dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga (sadar) pada malam hari.

Kemudian pada usia ke 53 tahun Rasulullah SAW hijrah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq beserta Amir Bin Fuhairah[4] ra. dan Abdullah  Bin Uraiqith[5]. Sedangkan Rasulullah SAW meninggalkan Ali Bin Abi Thalib yang tidur di kasurnya Rasulullah SAW dan ditugaskan pula untuk mengembalikan barang titipan orang-orang Kafir yang dititipkan kepada Rasulullah SAW serta membayar hutang dan agar menyusul kelak. Rasulullah SAW tiba di Madinah pada hari senin 12 Rabiul Awal, inilah awal mula perhitungan Kalender Hijriyah[6] akan tetapi kemudian dipindah permulaannya pada bulan Muharram, dan insya Allah akan kami jelaskan secara terperinci tentang hal ini pada pembahasan khusus.

Pada usia ke 63 tahun 3 bulan Rasulullah SAW wafat di Madinah setelah sekitar 10 tahun 2 bulan menetap di situ dan 13 tahun di Makkah setelah diutus. Beliau wafat pada hari senin 12 Rabiul Awal tahun ke 64 pada Tahun Gajah[7] . Kemudian Rasulullah SAW dimakamkan di rumah Aisyah r.a., tempat di mana ruh beliau dicabut.

Adapun yang memandikan beliau adalah Ali Bin Abi Thalib, Abbas bin Abi Thalib, Fadel Bin Abbas, Qutsam Bin Abbas, Usamah Bin Zaid dan Syaqran budak milik Rasulullah SAW. Di saat pemandian beliau, Aus Bin Khauli meminta izin kepada Ali Bin Abi Thalib untuk turut hadir dalam pemandian Rasulullah SAW, kemudian Ali mengizinkannya. Ali bin Abi Thalib menyandarkan Rasulullah SAW ke dadanya kemudian mengurus pemandiannya, kemudian Abbas, Fadel dan Qutsam yang memeganginya dari depan kemudian Usamah Bin Zaid dan Syaqran menuangkan air perlahan demi perlahan, sedangkan baju yang dikenakan oleh Rasulullah SAW saat beliau wafat tidak dilepas. Setelah selesai dimandikan, Malaikat Jibril a.s. bersama para Malaikat lainnya menyolati Rasulullah SAW, kemudian Ahli Bait Rasulullah SAW kemudian orang-orang secara bergelombang serta sendiri-sendiri.

Rasulullah SAW telah berperang setidaknya sekitar 19 kali bahkan ada yang mengatakan 26 kali. Sedangkan Rasulullah SAW tidak bertempur melainkan hanya dalam 9 peperangan saja. Beliau tidak pernah menunaikan Haji selama di Madinah selain Haji Wada'[8] pada tahun ke 10 dari peristiwa Hijrah.

Rasulullah SAW dimakamkan pada malam rabu, di hari ketiga beliau wafat yaitu hari senin. Kemudian Abbas dan Ali menyolati beliau (sebagai perwakilan) dari Bani Hasyim, kemudian masuklah orang Muhajirin dan Anshar, kemudian orang-orang menyolati beliau tanpa seorangpun yang mengimaminya, kemudia para wanita kemudian anak-anak. Hari di mana beliau wafat seolah-olah adalah hari Kiamat di mana kesedihan, nestapa dan tangisan orang-orang (begitu dahsyatnya) karena kepergian Rasulullah SAW.

Ayah Rasulullah SAW adalah Abdullah Bin Abdul Muththalib, dilahirkan 25 tahun sebelum tahun gajah. Sedangkan Abu Thalib dan Zubair adalah saudara kandungnya, begitu juga semua saudara perempuannya adalah saudari kandung selain Shafiyah Binti Abdul Muththalib. Beliau wafat saat Rasulullah SAW berusia 2 bulan bahkan ada yang menyatakan masih dalam masa kandungan.

Ayah dari Abdullah yakni Abdul Muththalib sangat mencintainya karena dia termasuk anak yang paling baik, paling menjaga harga diri dan paling pandai jika dibanding dengan anak-anaknya yang lain. Abdul Muththalib mengutusnya untuk berdagang, ketika melalui Kota Yatsrib[9] kemudian beliau sakit dan wafat di situ. Beliau dimakamkan di rumah milik An-Nabighah yang namanya adalah Al-Harits Bin Ibrahim Bin Suraqah Al-Udzri dari Suku Bani An-Najjar di mana Bani An-Najjar adalah kerabat dari Abdul Muththalib.

Abdul Muththalib Bin Hasyim adalah kakek Rasulullah SAW, namanya adalah Syaibah[10] Al-Hamd. Disebutkan bahwasannya dinamai demikian karena saat dilahirkan beliau mempunyai sehelai Uban pada rambutnya. Beliau dijuluki dengan Abdul Muththalib (Hamba Sahaya milik Muththalib) karena suatu ketika paman beliau yang bernama Muththalib Bin Abdi Manaf membawanya dari Kerabatnya di Bani Najjar[11] ke Mekkah sedangkan beliau mengenakan pakaian yang sudah usang, kemudian orang-orang Quraisy bertanya: "Siapa ini?", maka Muththalib menjawab: "Dia budakku", dari peristiwa inilah beliau dikenal sebagai budaknya Muththalib (Abdul Muththalib). Beliau wafat saat usia Rasulullah SAW 8 tahun, bahkan beliau sempat meminta hujan kepada Allah dengan bertawassul kepada Rasulullah SAW saat terjadi kekeringan yang dahsyat di Mekkah. Menjelang wafatnya beliau berpesan kepada Abu Thalib untuk menjaga dan merawat Rasulullah SAW.

Hasyim Bin Abdi Manaf (Ayah dari Abdul Muththalib), nama asli beliau adalah Amar Al-'Ula (Al-'Ula : Tinggi) dinamakan demikian karena tingginya pangkat beliau. Kemudian dijuluki Hasyim[12] karena kedermawanan beliau memberi Tsarid[13] kepada orang-orang karena kelaparan yang menimpa mereka. Ayah beliau adalah Abdi Manaf yang nama aslinya adalah Al-Mughirah, sedangkan Manaf berasal dari kata Manat yang merupakan salah satu Berhala yang paling besar yang disembah oleh orang Arab pada waktu itu, sedangkan ibu beliau menjadikannya sebagai pelayan bagi berhala tersebut.

Nasab Nabi Muhammad SAW sampai ke kakeknya yang bernama Adnan wajib dihafal oleh segenap orang Mukallaf, ini Nasab beliau dari sisi ayahnya. Sedangkan dari sisi ibunya cukup menghafal sampai Kilab, sebab nasab ayah dan ibu Nabi SAW bertemu pada kakek beliau yang bernama Kilab[14]. Sedangkan Nasab yang wajib dihafal ialah : Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muththalib Bin Hasyim Bin Abdi Manaf Bin Qushoi Bin Kilab Bin Murrah Bin Ka'ab Bin Lu'ay Bin Gholib Bin Fihir Bin Malik Bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah Bin Mudrikah Bin Ilyas Bin Mudhar Bin Nizar Bin Ma'ad Bin Adnan.

Qushoi Bin Kilab, nama aslinya adalah Zaid, tapi ada yang menyebutkan namanya adalah Yazid atau Mujammi'. Dinamakan Qushoi (Jauh) karena beliau jauh dari keluarganya dan dinamankana Mujammi' (Pengumpul) karena beliau dahulu mengumpulkan kaumnya pada hari Jum'at dan mengingatkan mereka agar menghormati Masjidil Haram serta mengabarkan kelak disitu (Mekkah) akan diutus seorang Nabi. Dan sebab beliau pula lah, Allah mengumpulkan Bani Fihir setelah sekian lama mereka terpisah di berbagai negeri.

Kilab Bin Murrah, nama aslinya adalah Hakim, dinamakan Kilab[15] karena kesenangan beliau dalam berburu, sedangkan ketika berburu kebanyakan beliau menggunakan Anjing Pemburu.

Fihir Bin Malik, dari keturunan beliaulah lahirlah Bangsa Quraisy. Fihir adalah nama aslinya, sedangkan julukannya adalah Quraisy[16] dijuluki Quraisy karena kebiasaan beliau memeriksa keperluan seseorang yang membutuhkan kemudian memenuhinya. Nadhar, nama aslinya adalah Qais dan dijuluki Nadhar[17] karena kebugaran dan ketampanannya.

Mudrikah Bin Ilyas, nama aslinya adalah Amar dan dijuluki Mudrikah[18] karena beliau telah menggapai segala jenis kemuliaan dan hal-hal yang patut dibanggakan yang ada pada Nenek Moyang beliau, sedangkan cahaya Nabi Muhammad SAW telah Nampak pada diri beliau.

Ilyas Bin Mudhar, nama aslinya adalah Husein, dijuluki Ilyas karena beliau dilahirkan setelah orang tuanya mencapai usia yang sangat tua. Sedangkan Mudhar nama aslinya adalah Amar, sedangkan panggilannya adalah Abu Ilyas (Ayahnya Ilyas). Dijuluki Mudhar karena beliau suka meminum susu yang asam[19].

Nizar bin Ma'ad, nama aslinya adalah Khaldzan. Dinamakan demikian karena ayah beliau telah melihat cahaya Nabi Muhammad SAW di antara kedua matanya, karena hal ini beliau sangat gembira sehingga menyembelih sembelihan kemudian membagikannya ke orang-orang seraya berkata: "Ini adalah Nazr[20] (sedikit) yang menyertai anak ini".

Ma'ad Bin Adnan, panggilannya adalah Abu Qodho'ah, dijuluki Ma'ad[21] karena kebersediaan beliau untuk berperang. Kemudian ayahnya Adnan, kata Adnan berasal dari kata Aden yang artinya adalah Iqomah yakni Kokoh, dinamakan demikian agar beliau kokoh dan terselamatkan dari penyakit 'Ain yang disebabkan oleh Jin maupun Manusia, sedangkan betapa banyak orang mati karena terkena penyakit 'Ain.

وَأُمُّهُ آمِنَةُ الزُّهْرِيَّةْ  -  ................
"Ibu beliau adalah Aminah Az-Zuhriyah, .........................".

Sebagaimana halnya wajib bagi orang yang Mukallaf untuk mengetahui Nasab Rasulullah SAW dari jalur ayahnya maka wajib pula baginya untuk mengetahui Nasab beliau dari jalur ibunya. Ibu beliau adalah Aminah Az-Zuhriyah yang dinisbatkan pada kakeknya yaitu Zuhrah, nama lengkap beliau adalah Aminah Binti Wahab Bin Abdi Manaf Bin Zuhrah Bin Kilab, nah pada Kakek Rasulullah yang bernama Kilab inilah kedua Nasab ayah dan ibu beliau bertemu.

Disadur dari Kitab "Mujazul Kalam" karya Syeikh Muhammad Ba'athiyah, Cet. Th. 2001, Distribusi Dar Al-Faqih – Abu Dabi, Maktabah Tarim Al-Haditsah – Hadhramaut.

*Imam Abdullah El-Rashied
Mahasiswa Fakultas Syariah – Imam Shafie College, Hadhramaut – Yaman.

Ditulis di Hadhramaut, Rabu 9 Desember 2015.
[1] Zaman Azali adalah Zaman sebelum Allah menciptakan Alam Semesta. (Pen)
[2]  Ummu Aiman adalah budak milik Abdullah Bin Abdul Muththalib yang turut menemani Aminah ke Madinah, beliau dimerdekakan oleh Rasulullah Saw ketika menikah dengan Khadijah dan dikemudian hari beliau oleh Rasulullah dinikahkan dengan Zaid Bin Haritsah  hingga dikaruniai seorang putra yang bernama Usamah Bin Zaid Bin Haritsah. (Pen)
[3]  Buraq adalah binatang tunggangan sejenis Kuda yang besarnya antara Baghal dan Keledai yang menempuh perjalanan secepat kilat. (Pen)
[4]  Amir bin Fuhairah adalah budak milik Abu Bakar yang mengembala kambing untuk menghilangkan jejak kaki Rasulullah SAW dan Abu Bakar ketika menuju ke Gua Tsaur. (Pen)
[5] Abdullah bin Uraiqith adalah penunjuk jalan yang mahir yang disewa oleh Rasulullah SAW dan Abu Bakar selama perjalan Hijrah, sedangkan pada waktu itu beliau masih kafir dan tidak diketahui apakah setelah itu beliau masuk Islam atau tidak. (Pen)
[6]  Awal mula penggunaan Kalender Hijriyah dengan menetapkan bulan pertamanya adalah Bulan Muharram itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab. (Pen)
[7]  Tahun Gajah adalah peristiwa penyerangan Ka'bah oleh Pasukan yang menunggangi Gajah yang dipimpin oleh Abrahah, yaitu Raja Habasyah (Ethiopia) yang mengusai Son'a (Ibu Kota Yaman saat ini). (Pen)
[8]  Haji Wada' adalah Haji perpisahan terakhir Rasulullah SAW. (Pen)
[9]  Yatsrib adalah salah satu dari nama Madinah. (Pen)
[10]  Syaibah : Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "Uban". (Pen)
[11] Bani Najjar adalah salah satu Suku yang menempati Kota Madinah yang masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga besar Rasulullah SAW. (Pen)
[12]  Hasyim secara bahasa adalah memberi makanan. (Pen)
[13]  Tsarid adalah jenis makanan bang Arab yang terbuat dari gandum. (Pen)
[14] Muhammad Bin Aminah Binti Wahab Bin Abdi Manaf Bin Zuhrah Bin Kilab.   (Pen)
[15]  Kilab adalah bentuk jamak dari Kalbun yang artinya adalah anjing. (Pen)
[16]  Quraisy secara bahasa adalah memeriksa atau mencari informasi. (Pen)
[17]  Nadhar secara bahasa adalah segar atau bugar. (Pen)
[18]  Mudrikah secara bahasa artinya Menggapai atau Meraih. (Pen)
[19]  Mudhar berasal dari kata Madhir yang artinya adalah asam atau kecut. (Pen)
[20]  Nazr atau Nizar adalah pemberian yang terbilang sedikit jumlahnya menurut mereka, hal ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukurnya atas kelahiran anaknya yang membawa cahaya Nabi Muhammad SAW. (Pen)
[21] Ma'ad atau Mu'ad secara bahasa artinya adalah bersedia atau telah siap. (Pen)


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News