Top News :
Home » , , » Pelurusan Berita Miring Terkait Seminar Para Kiai dan Habaib di PonpesSidogiri

Pelurusan Berita Miring Terkait Seminar Para Kiai dan Habaib di PonpesSidogiri

Posted on Monday, 25 January 2016 | garis 01:37


Muslimedianews.com ~ Berita ini dibuat untuk meluruskan kabar-kabar miring seputar pertemuan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj. Nampak dalam foto adalah pertemuan antara Habib Taufiq dengan Kiai Said saat istirahat shalat dan makan siang sesi seminar "Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia", bersama Habib Abubakar al-Adniy (Yaman), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), dan KH. Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya), di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu, 24 Januari 2016.

Dalam berita yang beredar dikabarkan bahwa Kiai Said seperti diadili oleh para kiai dan habaib terkait isu yang santer menimpa Kiai Said. Hal tersebut dibantah oleh pihak Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, bahwa KH. Said Aqil Siradj diundang langsung oleh Pengasuh Ponpes Sidogiri yaitu KH. Nawawi Abdul Jalil yang juga menjadi tim Ahlul Halli wal 'Aqdi dan merestui KH. Said Aqil Siradj menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Agustus 2015 kemarin. Sejatinya yang diundang setelah Kiai Said ialah Rais Am PBNU yaitu KH. Ma'ruf Amin, namun entah mengapa yang diundang Buya Yahya.

Menyikapi hal ini salah satu Guru Senior di Ponpes Sidogiri yaitu KH. Muhib Amman Ali yang juga alumnus Ponpes Lirboyo Kediri menjelaskan, "Forum Sidogiri ini menurut saya amat sangat penting dan langka. Belum pernah ada forum yang menyatukan antara kiai muda, kiai sepuh, habaib muda dan habaib sepuh. Bahkan ulama dari Hadhramaut Habib Abu Bakar al-Adniy bin Ali al-Masyhur dengan KH. Said Aqil Siradj dipandu oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf yang selama ini selalu berseberangan dan nyaris tidak mungkin bertemu dalam satu majlis. Ending dari pertemuan ini menurut saya juga berbeda dengan forum lain. Biasanya, jika KH. Said Aqil Siradj dipertemukan dengan kelompok yang bersebarangan dengannya, yang terjadi adalah hanya mengadili."

"Tapi dalam forum ini endingnya adalah nasehat dan harapan para ulama dan habaib agar tidak ada lagi pernyataan-pernyataan kontroversi yang membingungkan umat. Forum ini bukan untuk menjatuhkan siapapun, bukan untuk menebar kebencian tapi memperbaiki keadaan umat. Forum ini juga menunjukkan betapa para kiai sepuh dan habaib masih sangat memperhatikan Nahdlatul Ulama sebagai wadah Ahlussunnah wal Jama'ah," lanjutnya.

Terkait terpilihnya Kiai Said sebagai Ketua Umum PBNU sudah direstui oleh para ulama dan kiai sepuh seperti Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya, Syaikhina KH. Maimoen Zubair, KH. Makhtum Hannan, KH. Dimyati Rois, Tuan Guru Turmudzi Badruddin, dan segenap kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal 'Aqdi termasuk sang Pengasuh Ponpes Sidogiri.

Dikabarkan pula bahwa Kiai Said setelah pertemuan istirahat shalat dan makan siang langsung pulang dan tidak mengikuti sesi tanya-jawab. Ditanya hal demikian KH. Muhib Amman Ali langsung membantah, "Tidak benar! Beliau (Kiai Said) mengikuti sampai sesi tanya-jawab. Waktu sesi tanya-jawab, ada salah satu peserta yang mengungkit tentang proses pemilihan dalam Muktamar. Habib Taufiq Assegaf langsung memutus dan menyatakan bahwa terpilihnya KH. Said Aqil adalah kenyataan yang harus diterima dan tidak boleh ada upaya untuk menjatuhkan.
Tapi sebagai Muslim, kita wajib mengingatkan jika ada yang keliru, itulah tanggungjawab ulama, mumpung masih ada kiai sepuh."

Justeru yang pulang lebih dahulu adalah Buya Yahya. Bahkan saat Habib Abubakar al-Adniy masih menyampaikan sesi ceramah, Buya Yahya pamit izin kepada Habib Abubakar untuk meninggalkan tempat acara. Saat sesi ceramah dari Buya Yahya juga hanya sebentar, ini karena beliau merasa tidak pantas berbicara di hadapan para kiai sepuh dan habaib sepuh terutama pengasuh Ponpes Sidogiri dan Habib Abu Bakar al-Adniy.

Demikian klarifikasi atas berita-berita miring yang beredar, tetap jaga NU dengan baik, jangan membingungkan umat dengan hal-hal yang memicu terjadinya pecah-belah. Di lain kesempatan Habib Abubakar al-Adniy menjelaskan, "Jauhilah beredebat. Semua itu permainan iblis yang menyebabkan berhentinya masalah-masalah yang lebih penting karena disebabkan rayuan setan kepada umat Nabi Muhammad Saw. Jika kalian sensitif dan mampu memahami apa yang dibicarakan para ulama salafuna ash-shalih, maka sesungguhnya tidak ada satupun dari mereka yang mengajak kepada pertikaian dan perpecahan. Kami tidak mau kalian merasa dengki walau sebesar biji dzarrah dengan siapapun yang beragama Islam meskipun berbeda pemahaman."

Habib Abubakar melanjutkan, "Meski kadang banyak berbeda pemahaman, kami tidak pernah sedikitpun dengki kepada sesama Muslim yang mendirikan shalat, akan tetapi kami akan sangat sedih apabila melihat orang Islam yang meninggalkan shalat. Ketika kami melihat orang yang berbicara atas nama orang alim untuk mencaci orang lain, ketika kami melihat orang berbicara atas nama agama untuk tujuan membuat konflik (perpecahan) kepada umat, perkara yang seperti inilah yang menyesakkan nafas kami. Ketahuilah para masyayikh dan orang-orang alim tidak membuang nafas-nafas mereka melainkan hanya untuk mengingatkan kami kepada Allah, Rasulullah dan para sahabat. Jalan kami adalah menjaga lisan dari mencaci dan menjaga tangan dari darah orang lain."

Dalam acara seminar tadi, Habib Abubakar al-Adniy juga menyampaikan, "Perbedaan pendapat itu ada 2: Perbedaan pendapat karena ilmu, dan Perbedaan pendapat karena fitnah. Perbedaan pendapat karena ilmu itu sudah ada sejak zaman dahulu, karena hal itu sudah merupakan sunnatullah, dan ini memang tidak bisa disatukan. Namun perbedaan pendapat karena fitnah itu yang masih bisa disatukan bila semua fitnah itu bisa dihilangkan. Disaat sekarang ini kekuatan fitnah lebih besar daripada ilmu, waspadalah terhadap berita-berita fitnah yang semakin banyak beredar."

Oleh karena itu, dihimbau kepada seluruh umat Islam agar tidak mudah terprovokasi atas berita-berita miring yang memecah-belah persatuan dan kesatuan umat. Waspada terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja atau tidak untuk berupaya meruncingkan hubungan antara Kiai dan Habaib. Ingat baik-baik pesan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri NU, "Dakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota tetapi merobohkan istananya. Jagalah persatuan dan kesatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka. Kadang-kadang suatu kebatilan mencapai kemenangan disebabkan mereka bersatu dan terorganisasi. Sebaliknya kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan saling bersengketa."

Bahkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Nabi Saw. bersabda:

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci orang Islam itu merupakan kefasiqan, dan membunuhnya merupakan kekafiran.” (Dimoderasi dari tulisan Ust. Imron Rosyadi).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News