Top News :
Home » » Pencegahan dan Penanganan Terorisme Harus Disikapi Bersama dan Tidak Parsial, Dimulai dari Keluarga

Pencegahan dan Penanganan Terorisme Harus Disikapi Bersama dan Tidak Parsial, Dimulai dari Keluarga

Posted on Thursday, 28 January 2016 | garis 14:37


Jakarta, Muslimedianews ~ Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa, terorisme dilatarbelakangi sejumlah persoalan kompleks, sehingga harus disikapi bersama semua pihak, tidak bisa secara parsial. Kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa, sehingga sinergitas itulah yang dibutuhkan. Hal tersebut disampaikan disampaikan Menteri Agama yang menjadi narasumber Talk Show Mata Najwa di Studio Metro TV di kawasan Kedoya Jakarta, Rabu (27/1/2016) malam. Ikut mendampingi Menag, Kapinmas Rudi Subiyantoro.

Selain Menag yang menjadi narasumber, hadir sebagai nara sumber lainnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, dan Taufik Andri  dari Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP). Topik bahasan yang diangkat dalam talk show edisi tersebut adalah “Sesal Mantan Teroris”, menghadirkan sejumlah mantan teroris Yusuf yang selepas dari menjalani hukuman, ia beralih profesi mejadi pengusaha kuliner dan rental kendaraan, Farihin dan adiknya yang mengelola warung makan dan menjadi ketua RT di wilayahnya di bilangan Menteng Raya Jakarta, dan terpidana Ali Ghufron yang divonis seumur hidup karena terlibat kasus pemboman Bali beberapa tahun lalu. 

Menag menjelaskan, orang melakukan tindakan ekstrim atau radikal faktornya banyak sesungguhnya, tetapi bisa disimpulkan. Karena menghadapi ketidakadilan yang karena terus menerus, lalu kemudian mereka ingin menyikapi ketidakadilan tersebut secara instan, jalan pintas, karena tidak ada cara lain untuk mereaksi ketidakadilan itu dan pilihannya adalah kekerasan, karena tidak ada alternatif lainnya. 

Selain karena ketidakdilan, faktor lain tumbuhnya terorisme karena alasan politik. Karena saat ini di era globalisasi, terang Menag, paham-paham seperti ini sekarang semakin merasuk ke wilayah bangsa tanpa bisa dibatasi. 

“Dan juga tidak bisa dipungkiri karena dilandasi adanya paham agama tertentu yang mungkin tidak menangkap secara komprehensif ajaran agama, sehingga secara parsial, lalu kemudian ajaran ini menjadi alat pembenar tindakan kekerasan itu,” terang Menag.

Menag dalam kesempatan tersebut mengatakan agar kita perlu mencermati istilah radikalisasi dan deradikalisasi. Karena, ujar Menag, ia menerima banyak masukan dan melalui hasil riset Balitbang Kementerian Agama, bahwa radikal itu dalam kontesk beragama tidak hanya dibolehkan bahkan dianjurkan.

“Setiap kita umat beragama harus radick dalam keyakinan agama. Keimanan itu harus menghujam dalam dada, dan itu harus betul-betul,” kata Menag.   

Radikal dalam kontesk agama, jelas Menag, sebenarnya tidak ada persoalan, bahkan  dengan cara seperti itulah orang bisa betul-betul bisa menjalankan ajaran agamanya, yang kita harus hindari adalah keyakinan ketika keyakinan yang mengakar itu lalu kemudian menimbulkan ego dan pemahaman sempit dan sebagainya, lalu kemudian menimbulkan tindakan kekerasan. 

“Tindakan kekerasan ini yang harus kita perangi dan yang harus kita dicegah,” tandas Menag.

Menurut pandangan Menag, kosakata deradikalisasi bagi sebagian kalangan aktivis-aktivis Muslim itu dinilai seakan-akan ingin mencairkan keyakinan keagamaannya, padahal sesungguhnya adalah untuk mencairkan tindak kekerasannya.

“Ini yang menurut saya harus cermat, karena alih-alih kita ingin menghilangkan tindak kekerasannya, yang didapat justru persepsi yang berbeda,” ucap Menag. 

Ketika ditanyakan apa langkah spesifik Kemenag dalam membantu menangani mantan teroris yang saat ini masih di penjara dan yang sudah bebas hukumannya, Menag menjawab bahwa dalam menangani persoalan ini harus komprehensif ada BNPT, Polri, BIN dan lainnya. Kami di Kementerian Agama bagian tertentu dari keseluruhan permasalalahan ini, karena akar permasalahan ini sebenarnya kompleks seperti ketidakadilan, sosial termasuk paham keagamaannya. 

“Dan disinilah Kemenag mencoba pada aspek hulu dan hilirnya, jadi bagaimana menyebarluaskan substansi dan esensi ajaran agama itu sendiri yang hakekatnya adalah menyebarkan kasih sayang kedamaian, Islam yang rahmatallilalamin,” ucap Menag. 

Menurut pandangan Menag, penguatan keluarga adalah salah satu langkah preventif cegah radikalisme Keluarga itu adalah basis inti yang terkecil. Karenanya, pertama, sejak awal orangtua bertanggungjawab untuk bisa mengetahui apa dan bagaimana paham agama yang dimiliki anggota keluarganya, apakah aneh-aneh atau tidak, atau memang ini paham agama yang betul-betuk diajarkan guru-guru kita. 

Kedua, ujar Menag, darimana mereka mendapatkan paham keagamaan itu. Karena sekarang anak-anak kita mungkin cucu-cucu kita tidak lagi membaca koran, sebuah media yang terseleksi (content-nya) karena ada pemimpin redaksinya yang memilah-milah materi atau isi beritanya, sementara saat ini adalah eranya media sosial dan beragam situs yang bertebaran yang tidak tahu latarbelakang pengelolanya dan motif apa yang mereka melakukan (membuat isi situsnya). 

“Ini era yang luar biasa, oleh karenanya dari mana mereka memperoleh paham tersebut, lalu kemudian penguatan keluarga menjadi salah satu strategi pereventif dalam kerangka mencegah paham-paham yang bisa merusak tatanan kehidupan bersama di negara tercinta ini,” kata Menag. (dm/kemenag).


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News