Top News :
Home » » Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia, SeminarInternasional di PP Sidogiri

Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia, SeminarInternasional di PP Sidogiri

Posted on Monday, 25 January 2016 | garis 02:23


Muslimedianews.com ~ Pada Ahad 24 Januari 2016, bertempat di Gedung Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, dilaksanakan seminar sehari dengan tema “Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia”. Hadir sebagai narasumber pembicara tingkat nasional dan internasional, yaitu Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PBNU), Buya Yahya (Pengasuh PP. Al-Bahjah, Cirebon), dan Habib Abubakar al-Adniy bin Ali al-Masyhur (ulama terkemuka Timur Tengah, Yaman). Seminar berlevel internasional yang dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesntren se Jawa-Madura ini, merupakan sebuah respon positif atas perbagai pemasalahan yang tengah dihadapi umat Islam saat ini.

“Sebagaimana kita tahu bahwa umat Islam saat ini tengah dihadapkan pada berbagai dinamika pemikiran bahkan perang pemikiran baik yang berkembang di masyarakat awam ataupun isu nasional dengan munculya istilah “Islam Nusantara” yang menjadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang beberapa waktu lalu. Sehingga kiranya pertemuan semacam ini bisa menjadi klarifikasi dari berbagai informasi negatif yang sampai di tengah-tengah masyarakat”, ungkap Ahmd Dairobi, di dalam pengantarnya selaku moderator, yang banyak menjlentrehkan pemikiran-pemikiran ketiga narasumber untuk memberi pemahaman kepada segenap para peserta.

Banyak tokoh ulama yang hadir pada acara seminar tersebut, antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Ahmad Nawawi Abdul Djalil, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Lirboyo Kediri, KH. Abdul Adzim Cholili, Bangkalan, KH. Muhammad Subadar, Besuk, Habib Taufiq Assegaf Pasuruan, dan lain-lain.

Di dalam penyampaiannya, Buya Yahya yang diberi kesempatan pertamakali menuturkan, bahwa untuk menjadi orang yang moderat (tasamuh) ataupun mencapai sebuah kedamaian dengan sebuah golongan tidak harus membenarkan kesesatan golongan tersebut. Karena sesungguhnya dengan menyalahkan ajarannya bukan berarti harus angkat senjata ataupun berperang dengan golongan tersebut. “Artinya kalau memang salah tetap kita katakan salah tapi kita tidak boleh mendzalimi mereka sebagaimana perilaku Nabi Muhammad pada orang-orang yang tidak mengikuti ajarannya. Kata kuncinya adalah kebenaran berada di atas kedamaian”, tegas Pegasuh Majelis Al-Bahjah Cirebon itu.

Sementara itu, KH. Said Aqil Siradj yang didaulat sebagai narasumber berikutnya, banyak berbicara mengenai paham-paham radikal yang mengancam eksistensi umat Islam Ahlusunah wal Jama'ah. Sebagai penggagas Islam Nusantara, beliau juga menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengannya. “Sebenarnya Islam Nusantara ini adalah tipologi ataupun ciri khas umat Islam yang berkembang di Nusantra seperti tradisi peringatan Maulid Nabi ataupun yang lain dimana nilai-nilai Islam ataupun tradisi-tradisi ini tidak ditemukan di negara lain bahkan Arab”, tutur Kang Said.

Kang Said juga menuturkan kehebatan ulama pendiri Nahdlatul Ulama yang berhasil membangun agama dan negara menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. “Disinilah kehebatan ulama pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, beliau menempatkan bahwa hubbul wathan minal iman. Kita tidak mungkin bisa berjuang kalau hanya menjadikan agama sebagai satu-satunya pegangan, tapi negara sebagai tempat berpijak juga tidak kalah penting. Sehingga hubungan keduanya, agama dan negara, menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan”, papar Guru Besar Profesor Ilmu Tasawuf Fakultas Ushuludin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Pada saat sesi dialog tanya-jawab, Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil berkesemptan untuk memberi tanggapan tentang perkembangan Islam Liberal yang oleh Kiai Said Aqil Siradj akan diberangus sebagaimana komitmen beliau pada saat Muktamar NU ke-33 di Jombang. Kemudian sesi yang sama, KH. Muhibbul Aman Aly menyatakan salah satu peserta seminar ada yang menanyakan perihal proses pemilihan dalam Muktamar NU. Dengan sigap, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf langsung memutus dan menyatakan terpilihnya Kiai Said Aqil adalah kenyataan yang harus diterima dan tidak boleh ada upaya untuk menjatuhkannya.

“Kiai Said hadir sampai akhir acara. Pada waktu sesi tanya-jawab, ada salah satu peserta yang mengungkit tentang proses pemilihan dalam Muktamar. Habib Taufiq Assegaf langsung memutus dan menyatakan bahwa terpilihnya Kiai Said Aqil adalah kenyataan yang harus diterima dan tidak boleh ada upaya untuk menjatuhkannya. Namun sebagai Muslim, kita wajib mengingatkan dengan santun jika ada yang keliru sebagai tanggungjawab ulama, mumpung masih ada kiai sepuh”, ungkap KH. Muhibbul Aman Aly yang akrab disapa Gus Muhib, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Diharapkan pertemuan para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah ini dapat semakin memperkuat dan memperkokoh kekuatan Islam yang bersatu-padu guna menuntaskan dan memberikan solusi terbaik atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat Islam dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Tidak hanya sekedar seremonial di atas panggung tapi dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata dalam bingkai naungan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang rahmatan lil ‘alamin. (Dimoderasi dari ppsmch.net dan elhooda.net).


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News