Top News :
Home » » Kenali Ahlul Bait Nabi SAW, Seri 2

Kenali Ahlul Bait Nabi SAW, Seri 2

Posted on Thursday, 25 February 2016 | garis 07:00


Pontianak, Muslimedianews ~ Melanjutkan diskusi dalam artikel sebelumnya mengenai siapa ahlul bait. Ada satu masukan yang penulis dapatkan dari seorang sahabat di dunia maya agar dikupas juga masalah perubahan dhomir yang dipakai dalam ayat انما يريد الله ليذهب عنكم . hal ini disebabkan dhomir yang ada pada ayat-ayat sebelumnya adalah dhomir jama’ muannats (kata ganti untuk menunjukkan perempuan banyak). Sedangkan dalam انما يريد الله ليذهب عنكم adalah dhomir jama’ mudzakkar (kata ganti menunjukkan lelaki banyak). 
Baca juga: Kenali Ahlul Bait Nabi SAW, Seri 1.
Singkatnya, pada ayat-ayat sebelum انما يريد الله ليذهب عنكم semuanya berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak yang menunjukkan perempuan banyak dalam hal ini ditujukan kepada istri-istri Nabi. Lantas Dhomir semerta-merta berubah khithob jama’ mudzakkar yang menunjukkan lelaki banyak. Berikut kutipan ringkas ayat itu : 
يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34)
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik,
33. dan hendaklah kamu tetap di rumah mu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait  dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
34. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Ayat yang dibubuhi garis bawah di atas adalah letak perubahan khithob dari jama’ perempuan ke jama’ laki-laki. Hal inilah yang mula-mula kita akan bahas. Kita akan mulai dengan pandangan beberapa pakar tafsir. 
Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, -seorang pakar tafsir terkemuka di Indonesia- berpendapat bahwa perbedaan khithob yang terjadi dalam ayat itu memberikan isyarat bahwa cakupan makna ahlul bait itu tidak sekedar Istri-istri Nabi, tapi masuk juga sekian pria. Hal ini beliau kemukakan beserta Hadis ahlul kisa’ yang terkenal itu. jadi masalah yang ada dalam ayat ini, bisa dipahami dengan membuat sebuah kesimpulan : bahwa seluruh khithob yang ditujukan kepada Istri-istri Nabi pada ayat itu menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari pada ahlul bait. kemudian pada ayat ke-33 khususnya anugrah kesucian eksklusif dari Allah kepada ahlul bait merupakan perluasan cakupan makna ahlul bait itu sendiri. Bahwa tidak hanya istri Nabi yang memperoleh anugrah, tapi ahlul kisa’ juga termasuk di dalamnya. Hal ini dipahami dengan melihat perubahan khithob pada ayat yang dimaksud.
 
Pendapat Prof. Quraish mengenai problem ayat ini jelas dibangun dengan menjadikan Hadis ahlul kisa’ sebagai landasan dan jalan penyelesaianya. Memang ada sedemikian banyak riwayat yang berbicara dalam rangka menjelaskan ayat ini. Dalam Tafsir ad-Durrul Mantsur fi at-Tafsir bil Ma’tsur, as-Suyuthi menghimpun banyak riwayat ketika menjelaskan ayat ini. Bahkan beberapa riwayat sama sekali tidak berbicara mengenai ahlul kisa’. Seperti riwayat berikut ini : 
وأخرج ابن أبي شيبة وأحمد والترمذي وحسنه وابن جرير وابن المنذر والطبراني والحاكم وصححه وابن مردويه عن أنس رضي الله عنه ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يمر بباب فاطمة رضي الله عنها إذا خرج إلى صلاة الفجر ويقول « الصلاة يا أهل البيت الصلاة { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً }
Riwayat di atas dikutip dalam tafsir ad-Durrul Mantsur ketika menjelaskan ayat surat al-Ahzab ayat 33 tersebut. Namun tidak berkenaan dengan peristiwa kisa’ sebagaimana kita diskusikan dalam makalah yang lalu. Riwayat ini menceritakan tentang kebiasaan Rasulullah melewati pintu siti Fathimah setiap subuh seraya berkata “sholatlah hai ahlul bait”. Seraya Rasulullah membacakan ayat surat al-Ahzab ayat-33 di atas. Riwayat ini jelas tidak berkenaan dengan peristiwa kisa’. 
Dengan demikian –menurut penulis- banyaknya riwayat yang semuanya menjelaskan tentang ayat 33 ini, menyebabkan timbulnya pertanyaan.  adakah satu riwayat yang paling pas untuk dijadikan pedoman penyelesaian pada problem khithob dalam ayat tersebut ?
Dari pada berlarut-larut mencari riwayat yang koheren dari sekian riwayat tersebut, menurut penulis lebih baik jika kita simak pandangan syekh Thohir Bin Asyur dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir sebagai berikut : 
وضميرا الخطاب موجهان إلى نساء النبيء صلى الله عليه وسلم على سنن الضمائر التي تقدمت. وإنما جيء بالضميرين بصيغة جمع المذكر على طريقة التغليب لاعتبار النبيء صلى الله عليه وسلم في هذا الخطاب لأن رب كل بيت من بيوتهن وهو حاضر الخطاب إذ هو مبلغه. وفي هذا التغليب إيماء إلى أن هذا التطهير لهن لأجل مقام النبيء صلى الله عليه وسلم لتكون قريناته مشابهات له في الزكاء والكمال، كما قال تعالى {وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ} [النور: 26] يعني أزواج النبيء للنبيء صلى الله عليه وسلم، وهو نظير قوله في قصة إبراهيم: {رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ} [هود: 73] والمخاطب زوج إبراهيم وهو معها.
Beliau menulis : bahwa dua keberadaan Dhomir (jama’ laki-laki dan jama’ perempuan) yang ada dalam ayat tersebut. keduanya sama-sama diperuntukkan kepada sitri-istri Nabi dengan melihat jalannya dhomir pada ayat-ayat sebelumnya”. Adapun sebab digunakannya dua dhomir berbeda dalam satu konteks tersebut, dikarenakan adanya upaya pengunggulan keberadaan Nabi di tengah-tengah istri-Istri Beliau. Karna Nabi adalah pemilik mereka sekaligus orang yang jadi sasaran wahyu pada waktu itu. maka Khitob yang dipilih al-Quran adalah dhomir jama’ mudzakkar (lelaki banyak) yang artinya “kamu sekalian”. Kalimat “kamu sekalian” dengan bentuk Khithob mudzakkar (lelaki) bertujuan untuk menunjukkan eksistensi Nabi, bahwa istri-istri Nabi itu memperoleh kemuliyaan karna adanya Nabi di sisi mereka. Jadi ayat ini –dengan peralihan dhomir yang sedemikian- seolah-olah Al-Quran ingin mengatakan kepada Istri-istri Nabi bahwa mereka mendapatkan anugrah dari Allah berupa kesucian ekskusif, tak terlepas karna keberadaan Nabi sebagai suami mereka. Pandangan Syekh Thohir Bin Asyur ini bisa dinilai lebih Rasional mengingat ada beberapa ayat dalam al-Quran yang juga menggunakan peralihan khithob demikian dan tujuan yang demikian sama pula. Seperti dalam surat Hud ayat 73. Dimana kalimatnya ditujukan kepada Istri Nabi Ibrahim, tapi menggunakan jama’ mudzakkar mukhothob, hal ini juga menyiratkan bahwa Nabi Ibrahim tetap sosok sentral apapun yang ada di anugrahkan kepada istrinya. 
Pandangan Syekh Thohir Bin Asyur ulama Tunisia ini, hemat penulis- merupakan pandangan yang lebih baik (dalam kerangka analisa dan konklusi). Hal ini disebabkan, pandangan Syekh Thohir Bin Asyur ini lebih dekat. Karna dalam upaya mengurai problem khithob ini beliau tidak merujuk pada riwayat-riwayat Hadis di luar. Berbeda dengan analisa Prof. Quraish Shihab yang menjadikan riwayat sebagai jalan keluar. Di sisi lain, banyaknya riwayat itu ternyata tidak membantu mengurai problem. 
Kenapa demikian? Karna dengan menjadikan riwayat sebagai problem solving dalam masalah ini, kita akan dibenturkan dengan pertanyaan riwayat mana yang lebih spesifik dan jelas, yang darinya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dari khithob itu adalah objek eksternal (ahlul kisa’) ?. bahkan, kalau kita coba melakukan cheking-up terhadap riwayat-riwayat yang berkenaan dengan masalah ini, kita akan menemukan bahwa riwayat itu semuanya menceritakan bahwa Rasulullah membaca ayat itu dihadapan ahlul kisa’. Semuanya murni menceritakan reaksi Rasul setelah memperoleh ayat itu. bukan ketika Rasul menerima, atau sebab sebelum Rasul menerima ayat. 
Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ahli baitihi ath-Thohirin, wa shohbihi ajma’in....
Oleh: Muhammad Hasanie Mubarok, Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pontianak, Ketua Komisariat  PMII IAIN Pontianak, Mengabdi di Ponpes al-Jihad Pontianak, serta Penggiat Forum Diskusi Tokoh IAIN Pontianak.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News