Top News :
Home » , » Kesalahan Fatal Memahami Hadits tentang Dinar-Dirham

Kesalahan Fatal Memahami Hadits tentang Dinar-Dirham

Posted on Tuesday, 16 February 2016 | garis 12:12

Muslimedianews.com ~ Saya heran dan tidak habis fikir, kenapa orang-orang seperti pemilik status yang ada di photo ini, berani memahami hadits dengan bermodalkan terjemahan saja, tanpa merujuk penjelasan para ulama. Hadits-hadits Nabi yang dimaksudkan adalah seperti berikut:

يأتي على الناس زمان من لم يكن معه أصفر ولا أبيض، لم يتهن بالعيش (رواه الطبراني في الأوسط)
"Akan datang suatu masa pada umat manusia, dimana pada saat itu orang yang tidak memiliki kuning (emas) dan putih (perak), dia tidak disusahkan oleh kehidupan." (HR. ath-Thabarani).

يأتي على الناس زمان لا ينفع فيه الدرهم والدينار (رواه الإمام أحمد في المسند)
"Akan datang suatu masa pada umat manusia, dimana saat itu tidak berguna uang emas (Dinar) dan uang perak (Dirham) ." (HR. Ahmad).

Hadits-hadits seperti ini secara tekstual dipahami sebagai perintah untuk memiliki uang emas (Dinar), meninggalkan uang kertas, bahkan dijadikan pemanis agar orang-orang mau memakai uang Dinar buatan kelompoknya. Padahal, spirit dan isi dari hadits di atas, sudah dijelaskan oleh ulama salaf dan khalaf dalam karya-karya mereka. Kita ambil contoh saja ucapan Sufyan ats-Tsauri berikut ini:

كان المال فيما مضى يكره، فأما اليوم فهو ترس المؤمن، لولا هذه الدنانير لتمندل بنا هؤلاء الملوك، من كان في يده من هذه شيئ، فليصلحه؛ فإنه زمان إن احتاج كان أول من يبذل دينه
"Dahulu harta adalah sesuatu yang dibenci, sedangkan sekarang harta itu menjadi benteng seorang mukmin. Tanpa memiliki Dinar, niscaya kita sudah menjadi bulan-bulanan (budak) para raja. Karena itu, siapapun yang memiliki Dinar, maka hendaklah dia menggunakannya secara baik. Sebab, sekarang ini adalah zaman dimana bila seseorang punya keinginan (kebutuhan), maka dia akan menjadi orang yang pertamakali menjual agamanya (karena tidak punya harta)."

Ucapan ulama salaf ini, dicatat oleh Mulla Ali al-Qari dalam kitab Misykat al-Mashabih, dengan sub-bab bertemakan "Istihbab al-Mal" (Anjuran memiliki harta).

Apa yang dilakukan oleh penulis kitab itu, menunjukkan bahwa ucapan Sufyan di atas menjelaskan urgensi harta kekayaan secara umum, baik itu berupa emas-perak biasa, atau berupa uang emas-perak, termasuk uang kertas dan berbagai bentuk harta kekayaan lainnya. Bahkan, at-Tibrizi yang menjabarkan isi kitab hadits Mirqah, menjelaskan bahwa ucapan Sufyan di atas menafsirkan hadits-hadits tentang Dinar dan Dirham di atas.

Hasilnya, hadits-hadits itu hanya menganjurkan untuk memiliki harta, baik itu berupa emas-perak, uang emas-perak, uang kertas atau lainnya, bukan terkhusus pada uang emas (Dinar) dan perak (Dirham). Sebab, akan datang sebuah masa dimana harta kekayaan bisa menyelamatkan harga diri dan agama seorang mukmin.

Dengan ungkapan lain, umat manusia akan dihadapkan kepada suatu zaman dimana saat itu uang menjadi "segala-gala"-nya. Semuanya diukur dan didapatkan dengan uang. Karenanya, tanpa memiki uang pada saat itu, seseorang dikhawatirkan akan menjual agama dan akidahnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan sementara dia tidak punya uang.

Nah, pemahaman hadits seperti ini hanya bisa didapatkan dengan merujuk paparan ulama, bukan dengan sekedar berpegang pada terjemahannya, lalu ditafsirkan menurut selera dan kepentingan pribadi atau kelompok.

Menariknya, apakah orang-orang yang bersikap seperti itu samasekali tidak tertegun dan tersentil oleh hadits Nabi dengan terjemahannya seperti berikut:

تعس عبد الدينار والدرهم
"Celakalah orang yang diperbudak oleh uang emas-perak (Dinar-Dirham)."

Jika yang dikecam dalam hadits itu hanya uang Dinar dan Dirham, maka beruntunglah orang hanya memakai uang kertas, sekalipun sudah diperbudaknya. Hebat, kan?

Disamping itu, bukankah terjemahan hadits ini mengancam dan mengutuk orang-orang yang diperbudak uang Dinar dan Dirham? Kalau hidupnya disibukkan dengan uang Dinar, maka bukankah itu pertanda uang Dinar sudah memperbudak? Kalau sudah berani mengambil otoritas negara, dan menyepelekan para ulama, hanya karena memperjuangkan uang Dinar versi kelompoknya, maka apakah itu bukan dianggap "diperbudak uang Dinar"?

Ya Allah, ada apa dengan orang-orang seperti itu? Apakah mata hati dan fikiran mereka sudah dibutakan oleh semangat keislaman untuk memberantas riba, tanpa merujuk dan berpedoman kepada penjelasan para ulama? Demi Allah, setinggi apapun semangat keislaman Anda, tapi selagi itu tidak dibarengi dan disesuaikan dengan modal ilmu yang memadai, maka yang ada hanyalah kehancuran dan kesesatan. (Oleh: Ust. Alfitri).

Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News