Top News :
Home » » Mahasiswa NU dan Tantangan Pembenahan Pertelevisian Indonesia

Mahasiswa NU dan Tantangan Pembenahan Pertelevisian Indonesia

Posted on Saturday, 13 February 2016 | garis 08:27

Muslimedianews.com ~

Oleh : Kholilah Dzati Izzah*


“Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)…” (QS. Al-Isra’ : 53)

Perpanjangan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) dari beberapa stasiun televisi nasional tengah dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di awal tahun 2016 ini. IPP bagi setiap stasiun televisi adalah sepuluh tahun, dengan perpanjangan masa izin siar jika lolos uji kelaikan yang dilakukan oleh KPI dengan menyertakan partisipasi publik untuk menilainya.

Beberapa stasiun televisi naional memperpanjang izin tersebut. Stasiun-stasiun tersebut bukanlah stasiun yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Di era modern seperti saat ini, semua lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa dapat dengan mudah mengakses informasi hanya dengan menekan tombol on pada remote televisi mereka. Data BPS menunjukkan, presentase penduduk pedesaan di atas 10 tahun yang menonton televisi selama satu minggu sebesar 87,26%. Angka ini tidak terlampau jauh dengan presentase penduduk perkotaan yang sebesar 95,83%. Artinya, faktor geografi bukan lagi menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengakses informasi melalui televisi. Angka itu juga dapat menjadi penanda bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki televisi di rumahnya.

Kualitas yang tak sebanding kuantitas

Banyaknya masyarakat yang menonton televisi seharusnya menjadi keuntungan dalam memudahkan proses transfer informasi yang bermanfaat bagi pengembangan diri masyarakat. Namun, kuantitas penonton dan stasiun televisi yang besar tidak menjadi jaminan bahwa masyarakat dapat menjadi semakin cerdas. Kualitas program siaran tentunya menjadi penentu keberhasilan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui televisi. Sayang, dalam survei indeks kualitas program siaran yang dilakukan KPI periode November-Desember 2015 lalu, program siaran yang dikonsumsi oleh masyarakat kualitasnya belum mencapai standar baik yang ditetapkan KPI.

Program siaran yang memiliki indeks terendah adalah sinetron dan infotainment, yang masing-masing hanya mencapai indeks 2,58 dan 2,64 dalam skala 4 (kualitas baik yang ditetapkan KPI). Bahkan, program siaran anak-anak pun ternyata belum memenuhi standar baik dengan hanya mencapai indeks 3,22. Padahal, anak-anak merupakan kelompok khalayak yang paling rawan terkena dampak negatif dari televisi. Belum lagi, anak-anak juga tidak terjamin bebas dari keterdedahan tayangan-tayangan yang sebenarnya bukan ditujukan bagi mereka. Pasal 36 Undang-undang nomor 32 tahun 2002 Tentang Penyiaran disebutkan, isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifiasi khalayak sesuai dengan isi siaran. Ketidaktaatan stasiun televisi pada pasal ini dengan tidak mencantumkan kode klasifikasi khalayak menyebabkan orang tua terlewat untuk menyeleksi acara-acara yang seharusnya tidak layak dikonsumsi anaknya. Secara umum, survei yang dilakukan oleh KPI di sembilan kota besar di Indonesia ini menunjukkan kualitas program siaran televisi Indonesia mengecewakan, tidak sebanding dengan kuantitas khalayak dan beragamnya stasiun televisi yang kita miliki.

Ancaman disintegritas dan kemelaratan moral bangsa
Ironis, ketika seharusnya televisi dan program siarannya seharusnya menjadi alat efektif dalam mentransfer nilai-nilai budaya dan moral bangsa, hasil survei lagi-lagi menjawab tidak demikian. Selain sinetron dan infotainment, variety show dan komedi merupakan kategori program yang belum dapat dikatakan baik kualitasnya. Indikator yang dibuat KPI, program-program siaran pada kategori anak-anak sampai komedi tersebut sama-sama memiliki indeks yang rendah untuk indikator:
  • memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa;
  • membentuk jati diri bangsa Indonesia yang bertakwa dan beriman; dan
  • membangun mental mandiri.
Rendahnya indeks ketiga indikator tersebut menjadi tolok ukur betapa mengkhawatirkannya kehidupan berbangsa dan beragama yang tercermin dalam program siaran televisi. Jika program siaran tanah air saja sudah tidak memedulikan mandat untuk menjaga nasionalisme dan moralnya, bagaimana dengan televisi luar negeri yang dapat pula dengan mudah dikonsumsi oleh masyarakat melalui televisi berlangganannya? Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dicari penyelesaiannya.

Program religi: sebuah oase

Di antara program-program siaran dengan kualitas yang belum mencapai nilai baik, ada secercah harapan dengan hadirnya program siaran religi yang memiliki indeks di atas 4. Kategori program siaran ini merupakan satu-satunya yang dinilai berkualitas baik, melampaui standar kelaikan yang ditetapkan KPI. Sejauh ini, program religi yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi hampir seluruhnya merupakan program religi bagi penganut agama Islam. Hal ini tentunya menjadi sebuah keuntungan karena masyarakat Indonesia yang mayoritasnya memeluk Islam. Di samping itu, peran para mahasiswa, akademisi, dan da’i menjadi dibutuhkan dalam mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas program siaran religi di Indonesia.

Namun, berkembangnya paham-paham ekstrim yang mengatasnamakan agama juga harus menjadi perhatian serius. Bukan tidak mungkin, paham-paham ekstrim yang bertentangan dengan akidah ahlussunnah wal jamaah dengan mudahnya dipenetrasikan ke dalam tayangan religi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Apalagi, jika tayangan itu dikemas dengan menarik sehingga masyarakat menjadi bias untuk mengenalinya.

Peran mahasiswa NU dalam pertelevisian Indonesia

Memegang predikat sebagai mahasiswa merupakan tantangan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin. Telah kita ketahui bahwa program religi merupakan satu-satunya kategori tayangan yang dinilai memiliki kualitas yang baik dari semua indikator yang digunakan KPI untuk menilainya, termasuk ketiga indikator terkait moralitas agama dan bangsa seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Media siaran pada dasarnya selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda yang dapat menyumbang berbagai ide kreatif untuk kemajuan siarannya. Disinilah peran mahasiswa islam, khususnya mahasiswa NU untuk turut andil dalam membangun karakter bangsa melalui siaran religi. Mengapa mahasiswa NU?

NU dalam sejarahnya telah menorehkan banyak cerita tentang peran santri beserta kiyainya dalam membela negara melawan kolonial. Tidak diragukan lagi, organisasi massa islam terbesar di Indonesia bahkan dunia ini sangat mendukung terwujudnya kesatuan bangsa sebagaimana tercermin dalam syair hubbul wathon. Berlandaskan islam Ahlussunnah wal Jamaah, NU dapat menunjukkan bagaimana semestinya islam yang rahmatan lil alamin diterapkan dalam pluralisme Indonesia. Kita sadar, Indonesia –meski mayoritas muslim– tidak hanya terdiri atas orang-orang yang mengerjakan sholat dan melafadzkan syahadat. Disitulah peran NU dibutuhkan untuk menjaga kebinekaan.

Tantangan mahasiswa NU sebagai kalangan muda yang dapat masuk ke berbagai media siaran adalah untuk memberikan dan membuat tayangan religi yang ‘ramah’. Bukan hanya pada tayangan religi, program siaran lain juga merupakan tugas mahasiswa NU untuk membenahinya, terutama yang berkaitan dengan peningkatan nilai-nilai moral keagamaan dan kebangsaan. Tidak ketinggalan, tantangan membenahi program siaran anak-anak juga harus dituntaskan, karena menurut Hurlock (2010), pendidikan karakter dan mental yang baik perlu dilakukan sejak masa kanak-kanak.

Dengan hadirnya mahasiswa-mahasiswa NU di tengah dunia pertelevisian Indonesia, diharapkan dapat menjadi angin segar bagi terciptanya siaran-siaran berkualitas dan layak tonton bagi semua kalangan. Namun sejatinya, bukan hanya soal peningkatan kualitas, mahasiswa NU dibutuhkan karena memang amanat NU adalah untuk berkhidmat bagi umat, dalam segala bidang sesuai kapasitas masing-masing.


Oleh : Kholilah Dzati Izzah*, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor , Anggota KMNU IPB

DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Proporsi Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Menonton Acara Televisi Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin 2012. [Internet]. Tersedia pada http://bps.go.id.
[KPI] Komisi Penyiaran indonesia. 2015. Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Periode November-Desember 2015. [Internet]. Tersedia pada http://kpi.go.id.
Hurlock E. 2010. Psikologi Perkembangan Terj. Jakarta (ID): Erlangga.



Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News