Top News :
Home » » HTI Mandeg Epistemologi, NU Mandeg Kreasi

HTI Mandeg Epistemologi, NU Mandeg Kreasi

Posted on Sunday, 13 March 2016 | garis 08:08


Pontianak, Muslimedianews ~ Minggu ini untuk kesekian kalinya saya menunaikan ibadah sholat jumat di sebuah masjid terbesar di Kalimantan Barat. Masjid Raya Mujahidin, tempat Ibadah termegah yang menjadi kebanggasaan masyarakat muslim Kal-Bar. Ekspresi kebanggaan mereka dapat di lihat dengan selalu ramainya tempat ini sama para pengunjung. Baik mereka yang berniat sholat Jamaah atau hanya sekedar ingin refreshing dan selfie-selfie. Pengunjung juga beragam, mulai dari pejabat, mahasiswa, tukang bangunan bahkan mereka yang memakai pakaian mini terlihat di area masjid ini. Namun seiring bergulirnya waktu, masjid ini sudah mulai agak kurang popular sebagai tempat rekreasi, karna sudah lama dengan suasana yang tetap dan begitu saja. 

Buletin yang Basi 

Saya datang sholat jumat agak awal dari biasanya minggu ini, karna urusan di kampus sudah tidak terlalu bergeming waktu itu. Saya memutuskan untuk I’tikaf saja di masjid Mujahidin. Sebelum mengambul air wadhu saya menyempatkan mengambil selembar buletin yang sudah tidak asing lagi di mata. Nama buletinnya adalah Al-Islam. sebuah buletin mingguan yang di distribusikan oleh pengurus-pengurus HTI di Kal-Bar. Buletin ini dapat dengan mudah kita jumpai akhir-akhir ini di berbagai Masjid di Kal-Bar khususnya di Pontianak. Saya membaca dengan kurang bergairah sambil berjalan ke tempat wudhu. Hal itu terbukti ketika saya hanya iseng langsung membuka bagian penutup dari pada isinya. Dalam kurang beberapa langkah saya ke tempat wudhu saya menyadari satu hal sembari bergumam di hati, “bukankah isi dari lembar buletin itu ujung-ujungnya hanya khilafah sebagai solusi”? 

Sempat terfikir dalam hati saya, kenapa HTI itu sangat ulet dan kreatif dalam memperlebar isu. Terutama isu politik. padahal pada ujungnya hanya KHILAFAH sebagai tawaran akhir mereka. Dan parahnya pemahaman mereka seputar khilafah juga tidak ada rekonstruksi yang serius. Oleh sebab itu saya tidak ragu ketika saya berkesimpulan bahwa buletin ini secara konten dan konklusi adalah “BASI”. 

Epistemilogi yang Mandeg

Tidak adanya rekonstruksi atau penjelasan yang rasional tentang urgensitas khilafah menunjukkan prihal mandegnya sistem epistemik mereka terhadap terminologi ini. Ketika sistem epistemik yang sudah mandeg ini terus-terusan di publikasi, maka tawaran-tawaran nilai apapun akan rapuh karna tidak adanya sebuah rekosntruksi dan rasionalisasi nilai. Namun yang saya ingin saya bicarakan disini bukan masalah kerapuhan tawaran nilai mereka, tapi lebih kepada konsistensi mereka dalam memasarkan nilai. Nilai yang kami bicarakan disini adalah khilafah yang selalu mereka jargonkan. Konsistensi mereka dalam mempromosikan nilai ini melalui berbagai terobosan, seolah menutupi kerapuhan epistemik nilai mereka. Akibatnya, tawaran nilai tadi menjadi semacam gaung yang menggema. Tentunya setelah demikian, tak mengherankan kalau jargon khilafah ini akan meraup banyak pembaca awam. disebabkan keuletan mereka mempromosikan nilai tawar tersebut. Sedangkan kerapuhan nilai, mereka tertutupi secara massif dengan mmeperbesar jargon itu. 

Disinilah mengapa HTI senantiasa terlihat lebih bergaung dari pada ormas pribumi yang me-nasional. Keuletan dan kreatifitas mereka dalam mengemas sebuah pesan dakwah patut di acungkan jempol. Kehebatan mereka dalam mengemas sebuah nilai yang rapuh sistem epistemik tertutupi dengan gaung madia yang mereka proyeksikan. 

Kemana NU ??

Sebagai kader hidup mati NU, saya lebih tertarik kalau kali ini saya bertanya kemana NU yang seharusnya merespon eksistensi mereka dengan lebih komprehensif ?. di tengah beredarnya buletin-buletin HTI yang ke masjid-masjid dan menjadi santapan renyah masyarakat Awam tanpa ada saingan. Kalau boleh berpendapat : Kita (NU) kebanyakan hanya bergelut dalam pergulatan epsitemik yang mendalam ketika di hadapkan pada sebuah tawaran nilai. Tanpa ada upaya mengemas produk itu ke berbagai media. Kita (NU) di ibaratkan hanya berhasil memproduksi sebuah barang, namun kita tidak kreatif, tidak progresif dalam mengemas barang yang sudah kita produksikan tersebut untuk kita pasarkan. Apa yang akan terjadi kemudian, kemungkinan terkecil adalah : produk kita akan kalah saing dan tentunya berimbas pada entitas pelanggan. Kemungkinan terbesar adalah : kegagalan total NU dalam kompetisi pasar bebas. 

Banyaknya konseptor dari pada eksekutor: 

Hal ini mungkin menjadi hal pertama yang harus segera kita hunjamkan ke dalam relung kognitif kader NU. Baik yang ada dalam struktur PBNU, PWNU, PCNU sampai Ranting. Atau yang turut nimbrung dalam struktur Banom IPNU, IPPNU, ANSHOR Dll. Badan independen yang selama ini diisi oleh anak-anak NU yakni PMII. Dan juga bagi seluruh warga Nahdhiyyin yang merasa peduli terhadap NU. Bahwa pasar bebas dalam cakwrawala pemikiran di Indonesia telah di mulai. Seharusnya sudah kita bangkit dan mulai berjuang menjaga marwah NU. 

Dan patut di ketahui, bahwa kali ini, dalam NU, konseptor terkadang lebih membludak dari pada eksekutornya. Nah, tugas kita sekarang adalah bagaimana membangun konseptor yang banyak sekaligus eksekutor yang juga banyak. Kenapa saya berkesimpulan seperti ini. Karna sampai sekarang kita masih belum bisa menyaingi buletin Al-Islam yang di terbitkan HTI. Betapa bangganya kalau kita (NU) dapat memiliki sebuah buletin-buletin jumat yang setiap minggunya di distribusikan ke masjid-masjid. Atau kreatifitas dakwah yang menuju kepada upaya memenangkan advertensi dalam pangsa pasar pemikiran yang semakin marak. 

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq...




Oleh: Hasanie Mubarok.


Share this post
:
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Konten boleh dicopy dan disebarkan untuk dakwah | Cantumkan www.muslimedianews.com
Copyright © 2013-2014. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim - All Rights Reserved
RSS | Sitemap | MMN dan Redaksi | Disclaimer | Contact | Iklan
Support IT : MK | JT | MT and IT Muslimedia News